Berita

Malaysia/Net

Dunia

Menakar Potensi Kemenangan Najib Razak Di Pemilu Malaysia

SELASA, 08 MEI 2018 | 08:19 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Malaysia akan menggelar pemilihan umum besok (Rabu, 9/5).

Kendati sejumlah pengamat menyebut bahwa Perdana Menteri Najib Razak yang merupakan calon petahana akan bisa mengamankan masa jabatan selanjutnya, dia tetap menghadapi tantangan kuat dari sekutu lamanya, mantan perdana menteri Mahathir Mohamad, yang telah membuat kejutan kembali ke politik pada usia 92 tahun.

Sebagai gambaran soal peta perpolitikan Malaysia, sejak kemerdekaan pada tahun 1957, perpolitikan Malaysia banyak diisi oleh koalisi Barisan Nasional (BN) dan partai utamanya, United Malays National Organisation (UMNO).


Najib Razak sendiri memenangkan masa jabatan kedua sebagai perdana menteri pada tahun 2013 tetapi dengan mayoritas yang lemah dalam menghadapi oposisi yang semakin kuat.

Pada pemilu 2013 lalu, oposisi menduga ada kecurangan pemilu dan kritikus juga berulang kali menuduh pemerintahan Najib melakukan persekongkolan.

Najib terjerat dalam tuduhan internasional tentang korupsi merajalela dalam kaitannya dengan pengelolaan dana investasi negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Sementara itu dalam pemilu tahun ini, muncul sebagai saingan utama Najib adalah mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang mencalonkan diri lagi untuk jabatan pada usia 92 tahun.

Mahathir bukan tokoh sembarangan. Dia diketahui mengundurkan diri pada 2003 setelah dua dekade berkuasa di Malaysia.

Mahathir dikreditkan dengan upayanya mengubah Malaysia menjadi macan ekonomi Asia selama memimpin. Bukan hanya itu, dia juga mengambil sikap keras terhadap mereka yang menentangnya atau mengancam kekuasaannya.

Mahathir juga merupakan mentor dan sekutu Najib. Namun seiring perjalanan waktu, dia telah tumbuh vokal menentang kepemimpinan Najib dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam pemilu kali ini, Mahathir mengatakan bahwa jika dia terpilih, dia akan menyerahkan kekuasaan kepada orang lain dalam waktu dua tahun.

Orang lain yang dimaksudkannya kemungkinan besar adalah mantan saingannya sendiri, pemimpin oposisi yang dipenjarakan, Anwar Ibrahim.

Anwar, wakil Mahathir dan pewaris tahta pada 1990-an, dipecat pada 1998 karena perbedaan pandangan politik, dan kemudian dipenjarakan karena tuduhan sodomi dan korupsi, yang selalu dibantahnya.

Mahathir sendiri pernah mengatakan bahwa dia akan mencari pengampunan untuk Anwar, yang memungkinkan dia mencalonkan diri untuk pemilihan dan berpotensi, untuk jabatan tertinggi.

Dalam pemungutan suara besok, pemilih akan memilih 222 anggota parlemen serta anggota dewan negara di 12 dari 13 negara bagian.

Najib sejauh ini adalah sosok favorit, berdasarkan sejumlah analis. Dia dan BN secara tradisional menikmati dukungan dari Muslim Melayu yang merupakan sekitar 60 persen dari populasi.

Dia mengatakan kemenangan untuk pihak lain akan menjadi "mimpi buruk" bagi etnis Melayu.

Sementara itu oposisi secara tradisional bergantung pada etnis China, India dan kelompok minoritas lainnya.

Malaysia sendiri memiliki sistem first-past-the-post, yakni partai yang memenangkan kursi terbanyak menduduki jabatan.

Jadi bahkan jika Najib menang, partainya bisa kehilangan kursi, mengurangi pengaruh politiknya dan berpotensi menempatkan posisinya sebagai pemimpin yang dipertanyakan.

Satu-satunya hal yang memberi peluang bagi oposisi adalah kenyataan bahwa suara Melayu kemungkinan akan terpecah antara koalisi pemerintahan, oposisi, dan Islamis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Demikian dikutip sejumlah sumber. [mel]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya