Berita

Najib Razak/Net

Global

Najib Razak: Oposisi Hanya Pandai Mengkritik Tanpa Tawaran Subtansial

SELASA, 08 MEI 2018 | 07:28 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kemajuan ekonomi Malaysia adalah bukti kerja keras semua orang Malaysia dan oposisi tidak boleh menghalanginya.

Begitu kata Perdana Menteri Malaysia Najib Razak yang juga calon petahana dalam pemilu yang akan digelar esok hari (Rabu, 9/5).

Dia mengklaim bahwa telah ada 2,7 juta pekerjaan diciptakan sejak dia menjadi perdana menteri pada 2009 lalu. Selain itu dia juga mengklaim bahwa pertumbuhan rata-rata ekonomi Malaysia adalah 5,4 persen sejak 2010 di bawah pemerintahannya.


Najib menyebut bahwa pertumbuhan semacam itulah yang diinginkan oleh ekonomi maju dunia, dan tidak boleh dipermainkan oleh oposisi.

Najib menambahkan bahwa pendapatan nasional bruto Malaysia bisa naik lebih dari 50 persen dan itulah alasan mengapa Dana Moneter Internasional memuji negara itu karena sedang dalam perjalanan menuju status berpenghasilan tinggi.

"Ini adalah pencapaian semua orang Malaysia, dan jangan biarkan orang lain mengatakan sebaliknya kepada Anda," kata Najib.

"Jangan biarkan oposisi mengotori pencapaian tersebut dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada, atau dengan liar mengklaim bahwa negara itu berada di ambang kebangkrutan," katanya dalam posting terbarunya berjudul, "Pilihan Tepat untuk Membuat Malaysia Lebih Besar" di blog resminya, NajibRazak.com.

Najib, yang juga Menteri Keuangan, mengatakan oposisi hanya pandai mengkritik namun tidak menawarkan substansi sebagai balasan dan membuat janji palsu yang mereka tahu tidak dapat mereka penuhi.

"Misalnya, mereka mengklaim bahwa mereka akan menghapus Pajak Barang dan Jasa (GST), tetapi belum mengusulkan bagaimana mereka akan menggantikan RM 43 miliar yang dibawanya tahun lalu," jelasnya.

"Memperkenalkan GST adalah salah satu keputusan tersulit yang pernah saya buat. Saya tahu bahwa itu akan menyebabkan peningkatan harga beberapa barang dan jasa, dan itu akan menyakitkan bagi sebagian orang Malaysia," tambahnya seraya menyebut bahwa faktanya tanpa GST, ekonomi akan terus terlalu bergantung pada harga minyak. Demikian seperti dimuat Channel News Asia. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya