Berita

Foto:Net

Politik

Disayangkan, Hari Buruh Digiring Untuk Cawe-cawe Pencalonan Presiden

SELASA, 01 MEI 2018 | 05:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Hari Buruh Internasional atau May Day yang diperingati pada hari ini Selasa (1/5) disinyalir digunakan oleh para petualang politik atau mafia politik untuk membelokkan hakikat Hari Buruh sebagai peringatan untuk memperjuangkan aspirasi buruh dalam pencapaian kehidupan yang layak.

Sekretaris Labor Institute Indonesia atau Institut Pengembangan Kebijakan Alternatif Perburuhan Andy William Sinaga mengatakan aksi unjuk rasa hari ini akan dipadati 50 ribu buruh yang berasal dari 10 konfederasi serikat buruh atau serikat pekerja tingkat nasional yang akan tumpah di sekitar Istana Negara dan Monumen Nasional, Jakarta Pusat.

Menurutnya, bisa saja para petualangan politik yang berasal dari partai oposisi menggunakan isu Hari Buruh melalui aksi gerakan unjuk rasa ini untuk melakukan black campaign atau menjatuhkan pemerintah dengan gerakan-gerakan yang berujung chaos.


"Untuk itu kami mewanti-wanti aparat keamanan untuk memperketat pengamanan Hari Buruh, terutama di kawasan-kawasan strategis ibukota seperti Jalan Sudirman, Rasuna Said, atau Medan Merdeka seputaran Istana dan Monas," sebut Andy, Selasa (1/5).

Kepentingan politik dalam peringatan Hari Buruh saat ini sangat kental, dikarenakan adanya satu konfederasi serikat pekerja yang nyata-nyata akan mendeklarasikan dukungan politik kepada salah satu tokoh nasional yang akan mencalonkan diri sebagai Presiden RI tahun 2019 mendatang.

"Hakikat perayaan Hari Buruh saat ini telah digiring untuk cawe-cawe pencalonan capres itu sangat jauh dari hakikat peringatan merayakan Hari Buruh Internasional yang telah dicanangkan oleh Presiden SBY sebagai hari libur nasional," terang Andy.

Sejatinya Hari Buruh yang dalam sejarahnya dimulai ketika 50 ribu kelas buruh yang tergabung dalam organisasi buruh "Knights of Labor" yang merupakan bagian dari Federasi Serikat Buruh Amerika Serikat yang bercita-cita menghentikan dominasi kelas borjuis yang melakukan pemerasan terhadap buruh dengan jam kerja yang panjang, sehingga puluhan ribu buruh yang melakukan aksi mogok dan turun ke jalan pada tanggal 1 Mei 1886 menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam kerja per hari. Aksi tersebut dilakukan buruh, bersama isteri dan anak- anaknya.

Untuk memperingati hari buruh tersebut, Labor Institute Indonesia menyarankan agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat memfasilitasi perayaan Hari Buruh tersebut dengan menyediakan tempat khusus, berupa penyediaan tempat untuk bakti sosial seperti donor darah, sunatan massal, panggung demokrasi dan pagelaran musik yang dapat memberikan arti positif peringatan hari buruh tersebut.

Dalam panggung demokrasi tersebut diharapkan kehadiran para pejabat negara atau pejabat daerah untuk mendengarkan aspirasi para buruh tersebut.

Labor Institute Indonesia juga menyarankan agar Pemerintah Indonesia yang telah menyepakati  Decent Work Country Program (DWCP) atau Program Negara dalam Mencapai Kerja Layak bersama dengan organisasi buruh Internasional (ILO) dengan empat pilarnya yaitu penciptaan lapangan kerja, jaminan sosial, hak-hak dasar ditempat kerja, dan sosial dialog segera dilakukan dengan professional," demikian Andy William Sinaga. [rus]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Jadi Tersangka Tanpa Diperiksa, Pakar: Bertentangan dengan Konstitusi

Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:18

BPKH Harus Diperkuat demi Jaga Keberlanjutan Keuangan Haji

Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:12

Maroko dan Prancis Perkuat Kemitraan, 11 Perjanjian Baru Disepakati

Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:02

Halaqah Pra-Muktamar Bahas Arah Kepemimpinan NU di Abad Kedua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:02

Catatan Akhir Pekan Saham MD Entertainment: Terkoreksi, tapi Magnetnya Belum Pudar

Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:00

Cara Nonton Final Piala Dunia 2026, Spanyol Vs Argentina

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:49

Nelayan Pulau Panggang Kesulitan BBM

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:45

China dan RI Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Airlangga: KEK Batang Jadi Fokus Investasi

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:30

Sektor Teknologi dan Energi Topang Reli Indeks Kompas100 Sepekan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:14

Enam Titik Penginapan Siap Tampung Ribuan Peserta Muktamar NU

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:01

Selengkapnya