Berita

Natalius Pigai (kanan) bersilaturrahmi dengan putri Bung Karno Rachmawati Soekarnoputri, Februari 2017/RMOL

Jaya Suprana

Prihatin Atas Penghinaan Terhadap Natalius Pigai

MINGGU, 29 APRIL 2018 | 07:54 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MENJELANG akhir April 2018 di media sosial beredar sebuah meme yang menyandingkan foto Natalius Pigai dengan foto seekor gorila disertai komentar-komentar yang menyebut sang mantan anggota Komnas HAM sebagai teman sang gorila disusul koreksi "Bukan teman tapi saudara kembar wkwkwkwkwk" lalu diperparah dengan "Cocok-cocok kembar siam tapi masalah sifatnya baikan yang gak pake baju" disusul "kalau Bapak ini keluar malam tanpa ada penerangan orang pasti ketakutan".

Menurut pendapat saya sebagai pendiri Perhimpunan Pencinta Humor dan peneliti humor yang hasilnya saya tuangkan ke dalam buku Humorologi, komentar yang ditimpakan ke Natalius Pigai sama sekali bukan humor tetapi horor yang sama sekali tidak jenaka sebab tidak beradab!

Penghinaan


Saya bukan orang Papua namun sebagai sesama warga Indonesia dengan Natalius Pigai saya merasa sangat amat prihatin atas penghinaan yang ditimpakan kepada Natalius Pigai.

Akibat berpihak kepada rakyat tergusur, saya pribadi sudah terbiasa dihujat oleh masyarakat medsos sebagai "si gendut", "si gentong", "tua bangka bau tanah", "cari muka", "penjilat pantat penguasa" padahal sama sekali saya bukan relawan tokoh penguasa mana pun akibat sama sekali tidak punya ambisi politik sebab tidak haus jabatan, duit dan kekuasaan namun sekedar berupaya berpihak kepada rakyat tergusur oleh angkara murka penguasa.

Namun menurut saya, hujatan terhadap Natalius Piagai sudah melanggar batas peradaban dan kebudayaan bangsa Indonesia yang sebenarnya sangat toleran dalam menghadapi perbedaan ras, etnis, paham dan agama sesuai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Boleh saja tidak suka terhadap Natalius Pigai akibat perbedaan paham, pendapat atau selera namun sama sekali tidak ada alasan pembenaran bagi seorang insan Indonesia yang beradab untuk menghina Natalius Pigai sebagai sesama warga Indonesia dan sesama manusia.

Orde Reformasi menghadirkan demokrasi di persada Nusantara sejak 1998. Demokrasi menghadirkan kebebasan berpendapat dan kebebasan mengungkap pendapat termasuk melalui medsos namun sama sekali bukan berarti demokrasi menghadirkan kebebasan menghina sesama manusia dengan alasan apa pun.

Mohom Maaf

Dengan penuh kerendahan hati sebagai seorang sesama warga Indonesia dan sesama manusia saya memohon maaf atas penghinaan yang disampaikan segelintir sesama warga Indonesia dan sesama manusia terhadap Natalius Pigai.

Pada hakikatnya penghinaan tersebut bukan hanya mencemarkan nama baik Natalius Pigai namun juga mencemarkan nama baik bangsa Indonesia sebagai bangsa yang toleran dan beradab.

Disamping sesama manusia dan sesama warga Indonesia, kebetulan saya juga sesama umat Nasrani dengan Natalius Pigai. Maka saya yakin Natalius Pigai niscaya senantiasa berupaya mewujudkan ajaran kasih sayang Jesus Kristus yang bukan cuma dihujat namun difitnah, dianiaya bahkan disalib oleh mereka yang tidak sepaham dengan Jesus Kristus.

Sabda terakhir Jesus Kristus di tiang salib bukan membenci namun legowo, tulus ikhlas mengampuni mereka yang memfitnah, menghujat bahkan menyalib Beliau dengan sabda, "Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". [***]

Penulis adalah pendiri Perhimpunan Pencinta Humor dan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

LPDP Perkuat Ekosistem Karier Alumni, Gandeng Danantara dan Industri

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:04

RDPU dengan Komisi III DPR, Hotman Paris: Tuntutan Mati ABK Fandi Ramadhan Janggal

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:02

Kenaikan PT Bikin Partai di DPR Bisa Berguguran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:39

KPK Panggil Ketua KPU Lamteng di Kasus Suap Bupati

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:38

DPR Jadwalkan Pemanggilan Dirut LPDP Sebelum Lebaran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:30

Great Institute: Ancaman Terbesar Israel Bukan Palestina, Tapi Netanyahu

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:22

KPK Panggil Edi Suharto Tersangka Kasus Korupsi Penyaluran Bansos Beras

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:06

IHSG Siang Ini Tergelincir, Nyaris Seluruh Sektor Merana

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:51

Rusia Pertimbangkan Kirim Bantuan BBM ke Kuba

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:29

Partai Buruh Bakal Layangkan Gugatan Jika PT Dinaikkan

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:27

Selengkapnya