Berita

Natalius Pigai (kanan) menerima Democracy Award dari Pimpinan Umum Kantor Berita Politik RMOL Teguh Santosa, Juli 2017/RM

Politik

Pigai Dan Masa Depan Orang-orang Hitam Di Indonesia

MINGGU, 29 APRIL 2018 | 06:34 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

NATALIUS Pigai, manusia Papua yang kemungkinan besar paling populer di Indonesia saat ini, mendapatkan serangan rasis berupa postingan dirinya disandingkan dengan Gorilla dalam group Facebook "Jokowi Presidenku".

Menanggapi hal ini, Pigai membagi-bagikan postingan tersebut dengan catatan diawali "Bangsa Malanesia Papua harus ketahui dan sadar bahwa kami ini monyet/gorilla yang hidup di negeri ini". Kedua, Pigai menyatakan bahwa bangsa Papua semakin nyata mengalami "Genocide" (pemusnahan) dan tidak ada keselamatan hidup bersama dengan Indonesia. Ketiga, Jokowi sudah diberitahu oleh Pigai atas perlakuan rasis terhadapnya sejak tahun lalu, oleh para pendukung Jokowi, namun Jokowi tidak berbuat apa-apa, bahkan itu ketika Pigai masih menjabat anggota Komnas HAM.

Perlakuan rasime terhadap Pigai telah mengganggu akal sehat saya kenapa bangsa kita memiliki sifat rasis yang paling primitif. Rasisme bukanlah masalah baru dan terbatas pada wilayah kita saja. Namun, menyamakan Pigai yang hitam dengan Gorilla tentunya perlu di dalami, terutama ketika penguasa dan kelompk2 sosial mendiamkan hal ini.


Apakah itu rasisme? Chika Unigwe, seorang penulis Belgia keturunan Nigeria, mengatakan "What is racist is the siciety that anables acts of racism to thrive with impunity". Menurutnya, rasis itu adalah masyarakat yang membuat tindakan rasis terjadi tanpa hukuman. Unigwe adalah orang yang mengecam "De Morgen", harian Belgia yang memasang foto Obama dan Michael Obama dengan wajah monyet, pada maret 2014, saat kunjungan Presiden Amerika itu ke tetangga Belgia, Belanda. Kecaman Unigwe menyebarkan persoalan ini keseluruh dunia, dan "De Morgen" meminta maaf.

Pada Desember 2016, di West Virginia, seorang wanita Pamela Taylor, di akun medsosnya mengejek istri Obama sebagai monyet. Dalam waktu singkat 200.000 orang menandatangani petisi online meminta Taylor dipecat dari tempatnya bekerja. Kemarahan orang orang terhadap Taylor meluas. Akhirnya Taylor dihentikan bekerja sementara dan dia meminta maaf.

Lalu mengapa Jokowi diam? mengapa kita juga semua diam dalam kasus Pigai di Indonesia?

Masa Depan Orang-orang Hitam

Pigai jelas melihat tidak ada kedamaian Bangsa Melanesia Papua di Indonesia. Meski ini terlalu sumir sebagai sebuah pendapat politik, namun dikaitkan dengan rasisme yang terbiarkan, tentu pernyataan ini mempunyai arti.

Meminjam teori di barat terkait rasialisme dan rasisme  (Kulit putih vs hitam) seperti "Critical Race Theory" (CRT),  Pigai menilai bahwa rasisme ini terbangun dari struktur sosial yang tidak equal antara orang orang hitam Papua dengan saudaranya dari bangsa Melayu/Jawa. Orang orang Papua yang hitam berada pada kultur dan struktur yang terdominasi dan struktur/kultur tersebut dipertahankan terus menerus keberadaannya.

Dalam jejak pikiran dan tesisnya tentang Indonesia, Pigai menolak konsep mayoritas vs minoritas. Menurut Pigai, Indonesia adalah sebuah Multi- Minoritas. Pigai berusaha mencari bukti empirik keberadaan multi minoritas itu. Meski kesulitan dalam pencariannya, jelas Pigai menuntut adanya kesamaan hak antara orang orang Papua yang hitam dengan bangsa Jawa dan Melayu. Pigai juga menawarkan beberapa wakil Presiden Indonesia, bukan hanya satu, untuk sebuah keterwakilan Papua dan Bangsa Melanesia.

Upaya Pigai tentu dijustifikasi CRT bahwa ras adalah konstruksi sosial (dan human conception) yang menciptakan kalasifikasi antara ras tersebut, dan juga tentang "power" yang memberikan "previlage" pada dominasi sebuah ras.

Dengan tesis multi-minoritas, Pigai  tetap mengakui perbedaan warna kulit, alias menolak sebuah konsep Bangsa Indonesia tanpa perbedaan (Colour Blindness). Namun, sebaliknya, meski berbeda, tidak ada dominasi ras atas dasar warna kulit.

Papua dan Pengorbanannya

Kesedihan Pigai dalam ke Indonesian tentu bersifat historis. Ketika Indonesia merdeka, sejarah memperlihatkan bagaimana Aceh menyumbang pesawat pertama kita.  Namun sejarah di bangku sekolah tidak mengajarkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari transaksi internasional Amerika dan Belanda, di mana Amerika mendapatkan Tambang Emas Freeport, Indonesia Merdeka dan Belanda di masukkan dalam projek Marshal Plan yang dibiayai Amerika.

Emas-emas Papua ini puluhan tahun di bawa ke Amerika demi proteksi Amerika terhadap Indonesia. Ini adalah Emas-emas nenek moyang bangsa kulit hitam, di daerah di mana Pigai tumbuh dan berkembang.

Papua juga bukan hanya bersifat historis, masa lalu, namun Papua juga menyimpan masa depan buat Bangsa Indinesia non Malenesia, di mana kelebihan jumlah penduduk dan kemiskinan rakyat Pulau Jawa, bisa diselamatkan oleh alam Papua kelak.

Persoalan Pigai tentu bukan berarti sinonim dengan persoalan Papua. Bukan berarti Pigai adalah Papua. Namun, jika rasisme terhadap Pigai, dengan menyamakan Pigai yang hitam dengan Gorilla, dan kita hanya diam saja, maka adalah keniscayaan kelak Bangsa Papua sakit hati, sehingga masalah Pigai menjadi masalah Papua.

Jokowi Sebaiknya Meminta Maaf

Pigai marah pada Jokowi karena dia membiarkan pengikutnya berbuat rasis pada Pigai. Rasisme adalah kejahatan terburuk dalam kemanusiaan. Dalam banyak kasus yang ekstrim, kejahatan rasial dijatuhi hukuman mati.

Kebencian seseorang terhadap Pigai karena peran dan posisi politiknya, harus dijawab dengan bantahan politik. Kita sudah membiarkan tanpa hukuman terhadap seorang warga keturunan, tempo lalu, yang menghina Gubernur NTB (pribumi) sebagai TIKO (Tikus Kotor). Apakah kita akan diam juga pada kelompok Medsos Pro Jokowi yang menyamakan Pigai dengan gorilla? Jika kita diam saja, seperti kata Chika Unigwe di atas, itulah yang disebut rasis. Adalah tugas kita mengingatkan Jokowi untuk meminta maaf karena tindakan pendukungnya itu.

Tulisan ini bagian tanggung jawab intelektual saya atas kekejian yang menimpa Pigai. Sebelumnya saya sudah mengirimkan pesan ke WA beliau:

"Semoga Allah (Tuhan YME) memberi kemudahan buat Bung Pigai dalam perjuangan. Kita lawan manusia-manuasia rasilis itu." [***]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle, mantan Pembina Kesatuan Aksi Penyandang Cacat Indonesia-KAPCI

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Ambang Batas Parlemen Moderat Cukup 2,5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 20:04

Eks Kepala PPATK: Demutualisasi BEI Kebutuhan Mendesak, Faktor Pertemanan Permudah Penyimpangan

Senin, 02 Februari 2026 | 19:50

Ribuan Warga Kawanua Rayakan Natal dan Tahun Baru dengan Nuansa Budaya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Catat! Ini 9 Sasaran Operasi Keselamatan Jaya 2026 dan Besaran Dendanya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Prabowo Terima Dirut Garuda dan Petinggi Embraer di Istana, Bahas Apa?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:41

Menkeu Purbaya Singgung Saham Gorengan Saat IHSG Anjlok, Apa Itu?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:29

Alur Setoran Kades dan Camat ke Sudewo Ditelisik KPK

Senin, 02 Februari 2026 | 19:23

Horor Sejarah Era Jim Crow

Senin, 02 Februari 2026 | 19:14

10 Surat Tanah yang Tidak Berlaku Lagi mulai Februari 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 19:12

5 Takjil Khas Daerah Indonesia Paling Legendaris

Senin, 02 Februari 2026 | 18:53

Selengkapnya