Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Jelang KTT Bersejarah, Warga Korsel Harapkan Lebih Dari Sekedar Unifikasi

RABU, 25 APRIL 2018 | 14:18 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Jelang KTT bersejarah dua Korea Jumat pekan ini, banyak Korea Selatan menaruh harapan besar agar KTT membuahkan hasil lebih besar dari unifikasi, yakni perdamaian abadi.

KTT tersebut akan mempertemukan Presiden Korea Selatan Moon Jae In dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk duduk satu meja membahas masa depan dua negara di desa perbatasa Panmunjom.

Ini adalah kali pertama pertemuan dua pemimpin Korea sejak tahun 2000 dan terakhir tahun 2007.


Bagi banyak orang Korea Selatan, gagasan unifikasi telah berkembang jauh, jika tidak dibuat-buat, selama 65 tahun sejak perang dengan Korea Utara berakhir dengan gencatan senjata. Warisan Perang Korea berdarah, beberapa dekade provokasi militer dan ancaman, dan pengejaran senjata nuklir Pyongyang telah meninggalkan perpecahan yang dalam.

"Korea Selatan sekarang berdiri bahu-membahu dengan negara-negara maju setelah naik dari salah satu negara termiskin di dunia, berkat darah dan keringat generasi orang tua kita," kata Park Jung-ho, seorang pekerja kantoran di Seoul berusia 35 tahun seperti dimuat Reuters.

"Setelah unifikasi, semuanya akan kembali seperti ketika kita adalah negara berkembang," kata Park.

Warga Korea Selatan lainnya, Suji Lee berusia 31 tahun, mengatakan unifikasi hanya akan menimbulkan kekacauan ekonomi di Selatan dan menyarankan kedua Korea akan lebih baik sebagai negara terpisah.

"Keterpencilan dan kerusakan," kata Lee, ketika ditanya hal pertama yang muncul dalam pikiran ketika dia memikirkan unifikasi. Namun demikian, dia berharap lebih dari sekedar unifikasi, yakni terciptanya perdamaian antara kedua negara.

Sebuah laporan tahunan yang dibuat oleh Seoul National University (SNU) tentang bagaimana orang Korea Selatan merasakan unifikasi menyebut bahwa warga Korea Selatan secara kasar terbagi atas kelompok yang merasa unifikasi perlu dilakukan dan kelompok yang merasa unifikasi tidak diperlukan.

Tahun lalu, 53,8 persen responden mengatakan mereka melihat penyatuan sebagai "perlu" dan sisanya merasa tidak perlu.

Fakta bahwa orang Korea di kedua sisi semenanjung adalah dari etnis yang sama selalu menjadi alasan terbesar untuk mendukung penyatuan.

Sementara itu sebuah jajak pendapat tiga bulanan yang dilakukan oleh Dewan Penasihat Unifikasi Nasional di bulan Maret kemarin menunjukkan 50,3 persen dari mereka yang disurvei percaya denuklirisasi seharusnya menjadi agenda utama di KTT, sementara mengurangi ketegangan militer diikuti dengan 36,8 persen. Hal itu menunjukka bahwa terlepas dari apakah unifikasi akan tercipta atau tidak, warga Korea Selatan tetap menginginkan kedua Korea bisa hidup berdampingan dengan damai. [mel]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Indeks Kecakapan Bahasa Inggris di Indonesia Masih Rendah, Ini Sebabnya

Selasa, 09 Juni 2026 | 22:16

Putusan Kasasi MA Sengketa Lahan Digugat, Prinsipal Lapor Badan Pengawas

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:53

KPK dan Polri Ternyata Lakukan Joint Investigation dalam OTT Bupati Muara Enim

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:44

Badak Kalimantan Terakhir di Alam Liar Segera Dievakuasi

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:16

Nadiem Kecewa Replik Jaksa Abaikan Fakta Persidangan

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:05

Budi Bantah Ditawari Jadi Menkeu: Sekarang Masih Menkes!

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:00

Citizen Lawsuit, Rangkap Jabatan Otto Hasibuan Digugat ke Pengadilan

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:52

DEN Ingatkan Risiko Inflasi Imbas Rupiah Melemah

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:45

Besok Prabowo ke Lampung, Tinjau RSUD Krui

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:36

Luhut: 80 Persen Data Pemerintah Sudah Terhubung Lewat GovTech Berbasis AI

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:21

Selengkapnya