Berita

Abdullah Rasyid/Net

Politik

Abdullah Rasyid: Menguat Demokrat Bentuk Poros Baru

RABU, 25 APRIL 2018 | 13:30 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Partai Demokrat tengah melakukan penguatan untuk membentuk poros baru di Pilpres 2019. Langkah ini diambil mengingat petahana Presiden Joko Widodo gagal menjalankan program kerakyatan.

Demikian disampaikan Sekretaris Departemen Dalam Negeri DPP Partai Demokrat Abdullah Rasyid dalam keterangannya kepada redaksi, Rabu (25/4).

"Yang paling dirasakan masyarakat bawah saat ini adalah gejolak harga kebutuhan pokok yang merugikan konsumen dan masyarakat Indonesia. Sepanjang tiga tahun pemerintahan saat ini, bahan pangan merupakan komoditas yang harganya paling bergejolak. Ini sangat menyengsarakan rakyat. Saat petani panen, harga pangan jatuh. Di saat yang lain, harga naik tak terkendali," tutur Rasyid.


Menurut politisi nasional asal Sumut ini, para spekulan pangan khususnya para importir adalah pihak yang paling diuntungkan. Sementara, petani dan konsumen sangat dirugikan.

Lebih jauh, tokoh muda yang punya andil menggerakkan reformasi ini mengurai, kenaikan harga atau inflasi tidak sebanding dengan kenaikan upah dan pendapatan. Mengutip rilis data Bank Dunia, dia menyebut ekonomi Indonesia dihadapkan pada kondisi paradoks: inflasi tinggi, daya beli masyarakat rendah.

"Kondisi inilah yang menyebabkan ekonomi Indonesia sangat sulit mengalami pemulihan, mengingat selama ini pertumbuhan ekonomi lebih digerakkan oleh sektor konsumsi, khususnya konsumsi masyarakat," terang Rasyid.

Selain itu, dia menilai pemerintahan Jokowi gagal menjaga stabilitas harga kebutuhan dasar masyarakat, seperti bahan-bakar minyak (BBM), listrik dan transportasi, yang menjadi penyumbang utama tingginya inflasi. Di era ini harga BBM dan gas dipermainkan seperti yoyo.

"Terobosan awal pemerintahan ini adalah mencabut subsidi BBM yang sontak menyebabkan harga melambung tinggi. Rakyat menjerit, namun pemerintahan Jokowi tidak peduli. Dalam era pemerintahan ini, tarif listrik naik hampir setiap bulan," cetusnya, sembari menambahkan bahwa harga listrik yang setinggi-tingginya merupakan jualan pemerintahan Jokowi dalam menarik investor masuk dalam mega proyek ambisius 35.000 MW.

Kondisi memprihatinkan masyarakat, lanjut Rasyid, makin diperparah dengan dicabutnya berbagai proteksi dan subsidi. Pemerintahan Jokowi secara terbuka menunjukkan diri sebagai pemerintahan yang anti subsidi dan proteksi.

"Pemerintah tanpa ragu menghapus subsidi BBM. Sepanjang pemerintahan Jokowi ini pula kita tidak menemukan kebijakan subsidi harga kepada petani. Sebagai kelompok terbesar dalam masyarakat, petani lah yang paling menderita lantaran penurunan pendapatan," pungkasnya, sembari menekankan kondisi ini semestinya menjadi acuan bagi masyarakat dalam menentukan pilihan di Pilkada Serentak 2018. Sebab, bagaimana pun pilkada kali ini bertalian erat dengan Pemilu 2019.

Paparan Rasyid ini kian mengonfirmasi sinyal yang dilontarkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat berada di Jawa Barat, Minggu (22/4). Di hadapan santri dan ulama Cilegon, Presiden keenam RI itu mengatakan akan melahirkan pasangan capres-cawapres yang sesuai dengan keinginan rakyat.

"Saya akan pasangkan nanti, capres-cawapres yang mengerti keinginan rakyat," kata SBY, sembari menegaskan janji akan melahirkan seorang pemimpin baru.

Meski dalam pidato tersebut dia tidak menyebutkan nama calon pemimpin dimaksud, namun secara eksplisit dapat ditangkap bahwa itu menjauhkan Demokrat dari Jokowi. "InsyaAllah nanti ada pemimpin baru yang amanah, cerdas dan memikirkan rakyat banyak," imbuh SBY. [rus]

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Rp106,3 Miliar dari OTT BPN, Uang Disimpan di Rumah Tangan Kanan Nusron

Selasa, 15 September 2026 | 20:26

Bapera Hormati Proses Hukum Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 20:24

Homecoming Festival IKA Unpad 2026 Jahit Harmoni Lintas Generasi

Selasa, 15 September 2026 | 20:11

BNI-Pajakind Integrasikan Layanan Perbankan-Perpajakan Digital untuk UMKM

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

Ini Identitas 19 Orang Terjaring OTT KPK di Kasus Kementerian ATR/BPN

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

KPK Tahan 8 Tersangka Kasus Suap ATR/BPN, Tangan Kanan Nusron hingga Bos Summarecon

Selasa, 15 September 2026 | 19:58

UOB: Indonesia Punya Tameng Hadapi Guncangan Global, Apa Itu?

Selasa, 15 September 2026 | 19:37

KUHP-KUHAP Baru Perkuat Peran Advokat Dampingi Klien

Selasa, 15 September 2026 | 19:28

Purbaya Terlempar dari Kabinet Diduga Gegara Whoosh

Selasa, 15 September 2026 | 19:17

Pejabat ATR/BPN Terjaring OTT KPK, Wamen Ossy Minta Publik Tak Berspekulasi

Selasa, 15 September 2026 | 19:01

Selengkapnya