Berita

Foto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Tedjo Edhy Purdijanto: Kalau Zaman Orde Baru Lebih Enak Dari Sekarang, Bisa Jadi Kami Jual Ikon Pak Harto

SENIN, 23 APRIL 2018 | 10:19 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Lama tak nongol di jagat politik, pasca direshuffle Presiden Jokowi dari kursi Menkopolhukam pada 2015 lalu, Tedjo kini aktif di Partai Berkarya yang didirikan oleh putra bungsu penguasa Orde Baru, Tommy Soeharto. Di Partai Berkarya Tedjo menempati posisi sebagai ketua dewan pertimbangan.

Bekas kepala staf TNI AL ini bergabung dengan Partai Berkarya bersama dengan be­kas Danjen Kopassus Mayjen (Purn) Muchdi Purwoprandjono, dan bekas Danpuspom TNI Mayjen (Purn) Syamsu Djalal. Tedjo sebelum bergabung ke Partai Berkarya, pernah aktif di Partai Nasional Demokrat pimpinan pengusaha media Surya Paloh. Lantas apa alasan Tedjo pindah partai? Lalu ba­gaimana dia melihat peluang Partai Barkarya di Pemilu 2019? Berikut penuturan lengkapnya.

Anda sekarang kan di Partai Berkarya. Apa alasan Anda pindah partai dan Partai Nasdem ke Partai Berkarya?
Saya ini sudah tidak di Nasdem pada waktu diangkat menjadi Menkopolhukam. Saat itu saya sudah jadi milik rakyat, maka saya tidak di partai lagi. Nah, setelah selesai dan saya di luar. Saya diminta oleh Pak Tommy untuk membuat partai baru, namanya Partai Berkarya. Nah, saya bantu sampai sekarang. Jadi tinggal ke depan seperti apa, akan tergantung bagaimana kader untuk bisa membuat partai ini maju.

Saya ini sudah tidak di Nasdem pada waktu diangkat menjadi Menkopolhukam. Saat itu saya sudah jadi milik rakyat, maka saya tidak di partai lagi. Nah, setelah selesai dan saya di luar. Saya diminta oleh Pak Tommy untuk membuat partai baru, namanya Partai Berkarya. Nah, saya bantu sampai sekarang. Jadi tinggal ke depan seperti apa, akan tergantung bagaimana kader untuk bisa membuat partai ini maju.

Partai Berkarya pada Pemilu 2019 nanti akan mendukung Prabowo atau Jokowi?
Belum, kami belum sampai ke sana. Nanti Pak Tommy yang mengumumkan.

Apakah sudah ada pembicaraan akan condong ke mana?
Belum, kami kan baru sele­sai rapimnas pergantian ketua umum sekarang Mas Tommy. Kami konsolidasi dululah.

Atau apakah Partai Berkarya akan mengusung Tommy Soeharto sebagai capres?
Ya nantilah kami lihat. Kami belum bicara sampai situ.

Menurut hasil survei Cyrus Partai Berkarya termasuk yang diprediksi enggak akan lolos ke parlemen. Apa tang­gapan Anda?
Ya nanti kita lihat. Namanya prediksi kan boleh-boleh saja. Namanya hasil survei kan sah-sah saja. Tapi nanti lihat saja bagaimana hasilnya.

Seberapa yakin Partai Berkarya bisa masuk parlemen?

Saya cukup yakin, karena se­mua bisa saja terjadi. Saya dulu di Nasdem baru pertama muncul sudah 7 persen. Kenapa sekarang kami enggak bisa percaya bakal lolos, dan yakin bisa mencapai lebih dari 4 persen.

Apa yang sudah dilaku­kan guna mewujudkan target tersebut?

Ya kami solidkan kader partai ini.

Apakah Partai Berkarya akan menjual ikon tokoh Orde Baru Soeharto nanti dalam kampanyenya?
Bisa saja. Kan kebiasaannya begitu. Kalau zamannya ini, selalu dibilang enak yang dulu. Zamannya ini, enak yang dulu. Mungkin saja karena dia ingin pada waktu zaman dulu mera­sakan lebih enak ya.

Kemarin Menkopolhukam Wiranto menyambangi Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Apa tanggapan Anda terkait pertemuan tersebut?
Enggak ada masalah. Dia ingin bertemu siapa aja enggak ada masalah. Saya juga pernah begitu, untuk mendapatkan informasi saya ketemu dengan seseorang. Jadi enggak harus duduk bareng dengan semua ketum. Kecuali kalau mau mem­bahas lebih dalam.

Menurut Anda apakah itu merupakan cara untuk meng­gaet kubu SBY?
Makanya saya katakan, politik itu cair ya. Yang tadinya kawan bisa menjadi kompetitor. Lalu kompetitor bisa menjadi kawan. Jadi mungkin-mungkin saja hal itu bisa terjadi lagi. Sah-sah saja dalam politik itu. Semuanya bisa saja terjadi. Saya memang tidak tahu apa yang dibicarakan. Entah itu itu masalah bangsa dan negara, atau pemilu yang akan datang itu hak.

Anies Baswedan diwacana­kan akan dicalonkan sebagai bakal cawapres. Apa tangga­pan Anda atas wacana terse­but?

Ya silakan saja. Siapa saja kan boleh maju kalau partainya mendukung.

Kalau figur bekas Panglima TNI Gatot Nurmantyo Anda melihatnya bagaimana?
Siapa saja kan boleh maju. Jadi silakan saja.

Gatot diwacanakan bisa menggantikan Prabowo. Apa tanggapan anda ?

Ya tanyakan ke Gerindra lah. Saya enggak bisa bicara soal itu. Yang punya Gerindra kan Pak Prabowo.

Menurut Anda masyarakat saat ini lebih suka latar bela­kang militer apa sipil sih?
Yang bisa membaca ya masyarakat. Silakan masyarakat dong yang membacanya. Kalau masyarakat mau memilih militer ya monggo, kalau mau memilih sipil juga silakan.

Menurut Anda apakah perlu ada calon lain di luar Jokowi-Prabowo?

Nanti kita lihat. Politik itu cair ya. Nanti bisa saja muncul itu, atau bisa head to head lagi.

Menurut Anda 2019 perlu ganti presiden enggak?

Ya tergantung rakyat maunya apa.

Terkait pengamanan 2019, sebagai bekas Menkopolhukam Anda melihatnya seperti apa?

Saya melihat kalau situasi saat ini, kita punya TNI-Polri yang bisa mengamankan dengan baik. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya