Berita

Jokowi beri bantuan/Net

Politik

Bantuan Langsung Lempar Dan Kepemimpinan Transaksional Jokowi

SENIN, 23 APRIL 2018 | 06:33 WIB | OLEH: GDE SIRIANA

AKHIR-AKHIR ini beredar viral di media sosial tentang perilaku Presiden Jokowi yang membagi-bagikan hadiah dari mobil kepresidenan. Nampak Jokowi membuka kaca mobil yang sedang berjalan, dan melemparkan beberapa bungkusan kepada masyarakat biasa yang mengejarnya.

Pro kontra yang muncul berkisar pada aspek etika seorang presiden memperlakukan rakyat biasa, yang nampak dalam video sebagai masyarakat kelas ekonomi bawah. Tetapi, fenomena perilaku ini juga dapat dijelaskan dalam teori kepemimpinan.

Transactional Leadership (TSL) diperkenalkan oleh Max Weber (1947) dan diangkat lagi oleh Bernard Bass (1947) ketika ia menggunakannya sebagai antitesa Transformational Leadership (TFL). Konsep dasar TSL adalah pemimpin menggunakan power yang bersumber dari otoritas formal, untuk memotivasi dan mengarahkan rakyat melalui sistem reward dan punishment. Tujuannya adalah rakyat harus mematuhi instruksi pemimpin. Asumsi yang digunakan oleh pemimpin adalah rakyat dapat dimotivasi melalui hadiah yang sederhana.


Implikasi dalam praktek kepemimpinan, TSL lebih cocok digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan jangka pendek, tidak mengupayakan pengembangan kreativitas dan melahirkan ide-ide baru dari rakyat. Dengan demikian, TSL dipandang mungkin efektif di mana persoalan-persoalan yang dihadapi negara sangat sederhana.

TSL banyak diterapkan untuk menciptakan efisiensi dan meningkatkan produktifitas di mana pemimpin bertindak responsif dan menggunakan skala tinggi dalam pengarahan. TSL juga disebut sebagai managerial leadership karena fokus pada intensitas interaksi pemimpin dan rakyat.

Berbeda dengan TFL, di mana pemimpin bertindak proaktif dan memiliki visi yang kuat dan memotivasi rakyat melalui ide-ide baru dan penerapan standar nilai moral yang tinggi. TFL cocok untuk situasi di mana persoalan-persoalan negara sangat kompleks, di mana pemimpin memberi ruang yang luas kepada rakyat untuk memberikan solusi permasalahan dan kreativitas.

Dengan demikian, masukan dan usulan rakyat mendapatkan porsi yang penting dalam TFL. Pemimpin tranformasional yang visioner, menjadi inspirasi bagi rakyat, berani, pengambil resiko dan pemikir yang bijaksana.

Bass dan Avolio (1990) kemudian mempertajam konsep TSL. Pemimpin transformasional menghasilkan kesadaran dan penerimaan rakyat terhadap tujuan bersama, bukan tujuan pemimpin semata. Dengan demikian, fokus kepemimpinan transformasional adalah proses membangun komitmen terhadap tujuan bersama dan kemudian memberdayakan rakyat untuk mencapai tujuan tersebut (Yukl, 1998).

Secara prinsip TFL lebih mengedepankan motivasi rakyat yang didasari pada perilaku pemimpin di mana perilaku ini menjadi inspirasi bagi rakyat, merangsang perilaku intelektual masyarakat, mempengaruhi masyarakat dengan ide-ide dan visi, dan mengutamakan pertimbangan-pertimbangan masyarakat (Avolio, Waldman, danYammarino, 1991).

Dari teori TSL dan TFL, jelas bahwa perilaku Jokowi lebih cenderung transaksional. Selain melempar hadiah dari mobil kepresidenan, Jokowi juga gemar bagi-bagi hadiah sepeda. Jokowi nampaknya ingin menampilkan kecintaan rakyat dan sangat menikmati kegembiraan rakyat saat mengejar hadiah yang dilempar.

Perilaku ini tidak inspiratif dan bukan contoh yang fundamental dari Revolusi Mental yang digembar-gemborkan Jokowi. Perilaku bagi-bagi sertifikat tanah kepada masyarakat pedesaan dengan target jumlah yang bombastis juga tidak merubah fundamental reformasi agraria, tetapi terkesan lebih kepada klaim capain Jokowi. Perilaku ini secara struktural tidak memberi perubahan apapun selain kepentingan jangka pendek untuk menjaga elektabilitas menjelang Pilpres 2019.

Banyak pemimpin transaksional yang berupaya tampil seperti pemimpin transformasional. Mereka memang sukses mendapatkan pengikut dan mencitrakan kharisma diri, tetapi ini hanya bersifat jangka pendek dan di dalam jangka panjang akan menjadi bumerang. Inilah yang disebut pemimpin pseudo-transformational (Bass, 1999). Pemimpin seperti ini seringkali memanipulasi ambisi pribadi menjadi seakan-akan visi bersama. Pemimpin seperti Adolf Hitler dan Mao Zedong adalah contohnya. Kepemimpinan mereka dipenuhi oleh banyaknya pelanggaran atas kepercayaan yang telah diberikan rakyat, tindakan tidak bermoral, kurangnya karakter baik atau kombinasi dari semuanya.

Dari sini, rakyat bisa menilai apakah Jokowi seorang pemimpin pseudo-transformational atau bukan. Masalahnya, saat negara sedang menghadapi persoalan-persoalan yang kompleks, rakyat membutuhkan pemimpin transformasional yang otentik, yang dengan visi yang kuat dan perilakunya yang inspiratif mampu menggerakkan rakyat bersama-sama melakukan kerja kolektif untuk tujuan bersama. Intinya pemimpin yang mampu memainkan role-play dalan relasi-relasi ekonomi politik demi suatu perubahan struktural yang berarti. [***]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Local Governance Strategic Studies (LOGOSS)

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya