Berita

Mark Zuckerberg/Net

Dunia

Bos Facebook Kalem

Disidang Senat Amerika
KAMIS, 12 APRIL 2018 | 11:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bos Facebook Mark Zuckerberg memenuhi janjinya hadir di Kongres Amerika Serikat, kemarin. Selama lima jam, Zuckerberg memberi keterangan soal skandal pencurian data pengguna Facebook yang digunakan membantu kemenangan Donald Trump di Pilpres AS 2016. Meski dicecar sana-sini, Zuckerberg tampil kalem.

Zuckerberg mendatangi gedung Capitol Hill di Washington, DC kemarin atau Selasa waktu setempat. Zuckerberg hadir menjawab skandal kebocoran data Facebook yang menimpa 87 juta penggunanya. Gara-gara skandal ini saham Facebook sempat jatuh pingsan. Pesaingnya pun mendesak Zuckerberg hengkang dari Facebook.

Tak seperti biasanya, Zuckerberg tampil dalam balutan jas lengkap dengan dasi warna biru. Padahal sudah menjadi kebiasaan, Zuckerberg tampil kaos abu-abu. Saat menemui Presiden Jokowi pun, Zuckerberg tampil kaosan.


Lima jam lamanya, Zuckerberg menghadapi cecaran pertanyaan para senator tentang masalah keamanan data Facebook. Sebenarnya bukan kali ini saja Zuckerberg memakai jas. Terhitung sudah tiga kali ia mengenakan jas. Saat hadir di G8 Summit di Prancis pada 2011, saat makan malam bersama Presiden China Xi Jinping dan ketika wawancara dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di kantor Facebook pada 2015. Media AS menyebut sebagai tanda bahwa dirinya sangat serius dengan permasalahan kebocoran data tersebut.

Apa yang disampaikan Zuckerberg? Apologi atau permintaan maaf Zuckerberg dibikin dalam empat bab dengan tajuk "Facebook: Tranparency & Use of Consumer Data". Intinya, Zuckerberg meminta maaf atas masalah bocornya 87 juta data pengguna Facebook yang dibagikan secara ilegal kepada lembaga konsultan politik Cambridge Analytica. "Kami mengakui telah melakukan kesalahan besar. Saya merasa sangat bersalah. Saya meminta maaf," kata Zuckerberg, seperti dikutip Reuters, kemarin.

Usai menyampaikan kesaksian, giliran senator yang bertanya. Zuck dicecar hampir lima jam di depan 44 anggota senat AS. Setiap senator mendapatkan waktu lima menit untuk melempar pertanyaan. Pendiri Facebook berusia 33 tahun itu menghadapinya dengan kalem.

"Jelas, kami tidak cukup melakukan pencegahan hingga digunakan untuk hal berbahaya. Ini juga untuk berita palsu, campur tangan asing dalam pemilihan umum, dan ujaran kebencian, serta pengembang dan privasi data," kata Zuckerberg dalam forum itu.

Beberapa topik yang mengemuka dalam dengar pendapat ini, termasuk isu pemilihan presiden 2016. Zuckerberg mengonfirmasi bahwa karyawannya juga telah dimintai keterangan dari Robert Muller yang menyelidiki kasus intervensi Rusia dalam pilpres 2016. "Saya tahu bahwa kami bekerjasama dengan mereka," ujarnya.

Selain itu, ia ditanyakan mengenai monopoli Facebook dalam industri penyedia layanan media sosial oleh senator Lindsey Graham. "Bagi saya tidak terasa seperti itu," jawab Mark. Hal ini merujuk pada rencana perlunya aturan untuk mengatur di industri ini.

Dia juga meminta maaf karena tak melihat persoalan ini secara luas. "Ini adalah kesalahan besar. Saya meminta maaf."

Salah satu pertanyaan paling keras dilempar oleh Senator John Kennedy yang menilai ketentuan perjanjian layanan Facebook sangat buruk. Dia memperlihatkan setumpuk tebal ketentuan yang menurutnya sangat sulit dipahami bahkan oleh seorang pengacara.

"Perjanjian pengguna Anda sangat buruk. Ini bukan untuk menginformasikan pengguna Anda tentang hak mereka. Saya sarankan Anda kembali ke rumah dan menulisnya ulang," kata Kennedy.

Zuck setuju melakukannya. Zuckerberg sempat gagap menjawab beberapa pertanyaan dari senator lainnya, termasuk pertanyaan mengenai bagaimana staf Facebook memutuskan untuk tidak memberi tahu pengguna tentang Cambridge Analytica ketika pertama kali mengetahuinya pada 2015.

Selama sesi itu, Zuck juga menceritakan mengenai cikal bakal Facebook yang dimulai dari sebuah kamar asrama di Harvard University saat usianya masih 19 tahun. "Sangat tidak mungkin memulai sebuah perusahaan di kamar asrama Anda dan menumbuhkannya sampai ke skala saat ini tanpa membuat kesalahan," jawab Zuck. ***

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya