Berita

Bambang Soesatyo/Net

Politik

Bamsoet: Data Facebooker Bocor Jangan Dianggap Enteng

SABTU, 07 APRIL 2018 | 01:19 WIB | LAPORAN:

Ketua DPR Bambang Soesatyo tersentak mendengar kabar bahwa ada 1 juta data pengguna jejaring sosial Facebook di Indonesia, bocor.

Kata dia, hal tersebut adalah masalah serius. Untuk menyikapi hal ini, dia merasa DPR perlu bentuk Panitia Khusus (Pansus) mengenai Facebook.

Bocornya data pengguna Facebook Indonesia terlihat dari pernyataan Chief Technology Office Facebook Mike Schroepfer. Lewat blognya, Schroepfer mengungkapkan bawah perusahaannya telah berbagi data hingga 87 juta dengan perusahaan konsultan politik Cambridge Analytica.


Dari jumlah tersebut, sebagian besar pengguna yang terkena dampak berada di Amerika Serikat. Namun, jika dilihat dari jumlah data yang bocor, Indonesia ada di urutan ketiga, di bawah Amerika dan Filipina.

Jumlah data pengguna Indonesia yang bocor sebanyak 1.096.666 atau sekitar 1,3 persen dari total.

Atas hal ini, Menkominfo Rudiantara telah memanggil pihak Facebook Indonesia. Namun, dari sisi Pemerintah, baru Rudiantara yang bersikap. Pihak lain terlihat masih adem-adem aja.

“Ini tidak bisa dianggap enteng. Karena, secara global, isu ini besar sekali.  Di Indonesia, baru Kemkominfo yang angkat bicara. Itu pun tidak ngefek karena sanksi yang diberikan kepada Facebook ringan sekali,” ucap Bambang, Jumat (6/4).

Padahal, kata politisi yang akrab disapa Bamsoet ini, ruang siber merupakan bagian dari kedaulatan negara yang harus dijaga. Menjaga ruang siber Indonesia sama penting dengan menjaga teritori darat, laut, dan udara.

“Bocornya data pengguna Facebook yang dikumpulkan Cambridge Analytica suka atau tidak suka akan jadi masalah untuk Indonesia. Sebab, tidak hanya ada lebih dari 1 juta data pengguna yang bocor, tapi juga masalah hoax dan berita bohong yang sudah mewabah di Indonesia,” ucap politisi Partai Golkar ini.

Menjelang tahun politik, tambah Bamsoet, sudah seyogianya Indonesia melakukan investigasi dan meminta keterangan langsung kepada perwakilan Facebook di Tanah Air mengenai masalah tersebut. Indonesia harus segera bersikap agar data para pengguna yang bocor itu tidak disalahgunakan.

Bamsoet pun mengapresiasi langkah Komisi I DPR yang berencana akan memanggil perwakilan Facebook di Indonesia untuk dimintai keterangan di Senayan. Kata dia, langkah tersebut tepat. Terlebih, Amerika dan Inggris juga sudah melakukan hal yang sama.

Dia pun mendorong para koleganya di Komisi I dan Komisi lain yang terkait untuk melakukan investigasi lebih dalam. Caranya, dengan membentuk pansus tentang Facebook.

“Jika perlu, bentuk pansus untuk hal ini. Amerika dan Inggris sudah melakukan hal ini,” tandasnya.

Kamis kemarin, Menkominfo Rudiantara telah memanggil perwakilan Facebook Indonesia untuk menanyai mengenai kebocoran data itu. Dari pemanggilan tersebut, Rudiantara meminta Facebook menindaklanjuti kebocoran tersebut.

“Ada beberapa hal sebagai tindak lanjut. Pertama, kami tekankan lagi semua media sosial, termasuk Facebook, harus comply dengan aturan di Indonesia. Kami juga minta Facebook sesegera mungkin untuk melakukan shutdown atas aplikasi yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, terutama kuis-kuis personality test yang model Cambridge Analytica. Itu dimatikan dulu di Indonesia,” ucap Rudi.

Kata Rudi, kuis kepribadian yang marak beredar di Facebook adalah salah satu pintu masuk pengumpulan data pribadi pengguna oleh pengembang pihak ketiga. Data itu bisa saja disalahgunakan untuk kepentingan tertentu, seperti yang dilakukan Cambridge Analytica.

Ruben Hattari, Public Policy Facebook yang hadir dalam pertemuan itu, menyatakan bakal segera menyampaikan permintaan Pemerintah Indonesia ke kantor pusat Facebook di Amerika. Namun, dia tidak bisa berjanji bawah semua permintaan Pemerintah Indonesia bisa dilaksanakan.

“Saya belum bisa memastikan dapat dilaksanakan," ujarnya. Dia hanya bisa berjanji bahwa Facebook akan mengambil langkah-langkah solutif. [ian]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Prabowo-Pramono Pasangan Kuat Luar Dalam

Sabtu, 04 April 2026 | 06:08

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Air Bersih Warga

Sabtu, 04 April 2026 | 05:40

Batas ‘Scroll’ Anak

Sabtu, 04 April 2026 | 05:14

Jangan Keliru Pahami Langkah Prabowo soal Kunjungan ke Luar Negeri

Sabtu, 04 April 2026 | 05:12

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

Sabtu, 04 April 2026 | 04:38

Satu Orang Tewas Imbas Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang

Sabtu, 04 April 2026 | 04:03

Negara Harus Tegas atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

Sabtu, 04 April 2026 | 04:00

Mobil Tertimpa Pohon Tumbang di Bandung, Sopir Tewas

Sabtu, 04 April 2026 | 03:38

IAW Peringatkan Potensi Kebocoran Lebih Besar di Bea Cukai

Sabtu, 04 April 2026 | 03:26

Dedi Mulyadi Lunasi Tunggakan Gaji Pegawai Bandung Zoo

Sabtu, 04 April 2026 | 03:03

Selengkapnya