Berita

PKS/Net

Politik

Pemecatan Pengurus PKS Di Daerah Menuai Perlawanan

JUMAT, 06 APRIL 2018 | 14:08 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Perombakan dan pemecatan terhadap pengurus PKS di beberapa daerah mulai menuai penolakan. Seperti yang terjadi di Sumatera Selatan, pemecatan Erza Saladin sebagai ketua DPW PKS Sumsel sepertinya berbuntut panjang.

Erza Saladin yang dicopot dari jabatannya ketika dikonfirmasi mengaku masih melakukan upaya klarifikasi ke DPP PKS.

"Sedang klarifikasi keputusan DPP yang telah mengganti saya. Apa alasan yang digunakan oleh DPP tersebut. Selain saya, juga ada 12 ketua DPD PKS Kabupaten/Kota di Sumsel. Klarifikasi ke pihak DPP masih berlanjut," kata dia, Jumat (3/4).


Sebanyak 11 ketua DPD yang merasa tidak menemukan adanya kesalahan yang dilanggar juga ikut menolak dan meminta klarifikasi pemecatan Erza Saladin kepada DPP PKS di Jakarta awal pekan lalu.

Terkait penolakan itu, belakangan beredar video pernyataan sikap dari perwakilan 11 DPD PKS se Sumsel yang diwakili oleh Ilham Hadi selaku ketua DPD Banyuasin.

Dalam video berdurasi 1 menit 33 detik tersebut, Ilham menjelaskan perihal maksud dan tujuan keberadaan mereka di Jakarta, sekaligus menyampaikan penolakan.

"Saya menyampaikan bahwa saya bersama 11 ketua DPD lainya belum bisa menerima surat keputusan DPP mengenai pemberhentian Ustad Erza Saladin selaku ketua DPW PKS Sumsel," katanya.

Sebelumnya, pemecatan juga menimpa pimpinan DPW PKS Jawa Tengah Kamal Fauzi, satu hari menjelang pendaftaran terakhir pemilihan gubernur (Pilgub) Jateng.

Pemecatan terhadap Kamal Fauzi ini dianggap mengejutkan kader PKS di Jateng. Mengingat dirinya dikenal sebagai pemimpin yang tidak pernah bermanuver aneh-aneh.

Kamal pun menolak permintaan DPP tersebut. Dasar penolakannya adalah karena ia dipilih oleh Majelis Syuro yang mendasarkan pilihannya pada Pemilu Raya yang diikuti seluruh kader inti PKS Jateng.

Pemecatan yang dilakukan DPP PKS ini cukup menghebohkan dan dicurigai berkaitan dengan proses pemilihan 9 calon presiden yang akan diajukan PKS pada Pilpres 2019 mendatang.

Mengingat beberapa kader yang dianggap berbeda pendapat dengan DPP mengalami pemecatan. [mel]

Populer

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

UPDATE

Forum IPEM 2026 Momentum Penting Perkuat Diplomasi Energi

Kamis, 19 Maret 2026 | 00:08

Polres Metro Tangerang Kota Ungkap 14 Kasus Curas Sepanjang Ramadan

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:45

Negara Bisa Menjadi Totaliter Lewat Teror dan Teknologi

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:28

Pengungkapan Pelaku Teror Air Keras Bukti Ketegasan Prabowo

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:10

YLBHI: Ada Pola Teror Berulang terhadap Aktivis hingga Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:51

Observatorium Bosscha: Hilal 1 Syawal Tipis di Ufuk Barat

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:32

TNI-Polri Harus Kompak Bongkar Teror Air Keras Aktivis KontraS

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:10

Umat Hindu Semarang Gelar Tawur Agung Kesanga Sambut Nyepi Saka 1948

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:56

YLBHI Minta Kasus Air Keras Andrie KontraS Disidang di Peradilan Umum

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:40

Kinerja Cepat Polri Ungkap Kasus Penyiraman Air Keras Tuai Apresiasi

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:11

Selengkapnya