Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mengenal Inklusi Visme Islam Indonesia (62)

Menghindari Ego Keummatan

KAMIS, 05 APRIL 2018 | 11:05 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

INKLUSIFISME keagamaan tidak akan lahir di dalam masyarakat yeng memili­ki ego keumatan. Egoisme bukan hanya melekat pada individu tetapi juga kepa­da umat. Dalam Islam dan mungkin juga dalam amaga lain, egoisme tidak pernah berkonotasi positif. Kita perlu berkontemplasi sejenak, betulkah kita sudah khaira ummah se­hingga dapat digunakan rujukan untuk menilai orang dan masyarakat lain. Motivasi apa dan referensi apa yang paling dominan di dalam diri kita untuk berjihad mewujudkan khaira ummah? Jangan sampai kriteria yang kita gunakan un­tuk menyasar orang lain justru lebih menonjol subyektifitas kita yang berbeda dengan orang atau kelompok sasaran. Jangan sampai kita termasuk pihak yang disindir pepatah: "Semut mati di seberang laut kelihatan, gajah mati di pelupuk mata tidak kelihatan." Selama naman­ya manusia, pasti subyektifitas pernah men­dominasi dirinya. Dalam keadaan seperti ini manusia cenderung bukan hanya mengakukan dirinya sendiri tetapi juga berharap mengaku­kan orang lain.

Ada orang ingin melihat orang lain seperti keakuan dirinya, bukan sesuai dengan esensi universal yang menjadi inti ajaran agama. Kita sering menjumpai orang memaksakan persepsi dan keakuan dirinya diimplementasikan orang lain. Ia kecewa bahkan marah kalau keinginan dirinya berjarak dengan kenyataan. Celakanya, terkadang seseorang menggunakan bahasa agama untuk melegitimasi dan menjastifikasi keakuan diri tersebut, sehingga siapapun yang berbeda dengan dirinya maka salah menurut agama. Atas nama "kebenaran" itu maka sese­orang bisa menghalalkan yang haram, termasuk mengalirkan darah saudaranya sendiri. Kondisi sedemikian ini bukanlah sesuatu yang ideal dan tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang ideal. Kini sudah saatnya kita melakukan interiorisasi ajaran agama. Jika nilai-nilai ajaran agama menjadi bagian yang integral, internal, dan inhaeren di dalam diri setiap individu, maka akan tercipta universalitas nilai-nilai ajaran agama di dalam lingkungan pacu kehidupan kita. Interiorisasi nilai-nilai luhur ajaran agama ke dalam pribadi akan melahirkan kesadaran kolektif dan universal. Betapa tidak, karena kita sudah melihat substansi diri sendiri di dalam diri orang lain, bahkan pada seluruh alam raya.

Setiap kali kita melihat orang lain atau apap­un yang kita lihat, seolah-olah substansi diri kita juga ada di sana. Seolah-olah kata "I", "You", dan "he/she/they/it" menjadi tidak relevan lagi. Seolah-olah kata "I", "You", dan "he/she/they/ it" larut menjadi (We). Tidak lagi ada kamus "orang lain" di luar diri kita. Kamus aku adalah kamus engkau dan kamus mereka juga. Den­gan demikian, lingkungan sosial tercipta sebuah keindahan. Perbedaan yang ada bukan lagi se­suatu yang menyedot energi, tetapi bagaikan ornamen lukisan warna-warni yang indah dan menyejukkan hati dan pikiran. Bukanlah alam ini memang adalah sebuah lukisan, lukisan Tu­han (The Painting of God)? Siapa yang menen­tang realitas pluralis berarti tidak takjub melihat lukisan Tuhan. Orang yang demikian boleh jadi itulah yang dicap dengan fi qulubihim maradl (dalam hatinya ada yang tidak beres). Jika hal ini berlanjut maka dikhawatirkan berada dalam posisi khatamallah 'ala qulubihim (Allah men­gunci mati hatinya), na'udzu billah.


Sesungguhnya yang ideal ialah proporsional, yakni interiorisasi yang diiringi dengan eksteri­orisasi. Kita harus terlebih dahulu menginter­nalisasikan nilai-nilai ideal itu pada diri sendiri sebelum menyerukannya kepada orang lain. Nabi bukan hanya mengatakan: Ibda' bi naf­sik (mulailah pada diri sendiri). Allah Swt juga memperkenalkan nilai-nilai Islam sebagaima­na terangkum di dalam Al-Qur'an diawali den­gan proses internalisasi nilai-nilai substan­tif (aqidah) yang turun di Mekkah, yang biasa disebut ayat-ayat Makkiyyah, lalu disusul den­gan ayat-ayat legal-formalistis untuk kehidu­pan bermasyarakat di Madinah yang dikelnal dengan ayat-ayat Madaniyyah. Sistematisasi penurunan ayat (at-tanzil) berdasarkan kondisi obyektif masyarakat menarik untuk diperhati­kan. Sebaiknya kita tidak rancu di dalam mem­perkenalkan ajaran agama.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya