Berita

Ahmad Sahroni/Net

Politik

Permintaan Maaf Sukmawati Patut Dicontoh

RABU, 04 APRIL 2018 | 23:35 WIB | LAPORAN:

Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengapresiasi langkah Sukmawati Soekarnoputri meminta maaf pada umat muslim karena puisinya yang dipandang melecehkan agama.

"Sikap Sukmawati yang berani menyampaikan permintaan maaf ke masyakat Indonesia, khususnya umat muslim menggambarkan dirinya sebagai seorang tokoh yang berani mengakui kesalahan," ujarnya kepada wartawan, Rabu (4/4).

"Ini harus dicontoh oleh tokoh lain atau masyarakat yang berbuat kesalahan. Berani mengakui perbuatan," lanjut Sahroni.


Dia berpendapat bahasa yang tidak pantas muncul dilontarkan Sukmawati akibat membandingkan syariat Islam. Sebelum membuat puisi itu, Sukmawati seharusnya melihat contoh nyata bagaimana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akhirnya divonis penjara karena telah melakukan penistaan agama.

"Kalimat seperti konde lebih baik dari cadar hingga suara yang lebih merdu dari lantunan adzan tentunya menyakiti umat muslim. Terlebih Indonesia berpenduduk mayoritas Islam," kata Sahroni.

Menurutnya, puisi yang dibacakan Sukmawati murni dilontarkan secara pribadi dan tidak menggambarkan sikap keluarga besar presiden pertama Indonesia Soekarno. Terlebih, hal itu telah ditegaskan oleh Guntur Soekarnoputra yang menceritakan sejak kecil seluruh anak Soekarno telah diajarkan agama sesuai syariat Islam.

Mengenai laporan terhadap Sukmawati yang dilakukan berbagai pihak, Sahroni menyarankan masyarakat bersikap tenang dan menyerahkannya ke penegak hukum.

"Kita serahkan saja sepenuhnya ke penegak hukum. Jangan sampai memunculkan kegaduhan atau riak-riak di berbagai wilayah. Mudah-mudahan persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik," pesannya.

Puisi sendiri dibacakan Sukmawati saat pagelaran Indonesia Fashion Week dalam momen 29 tahun Anne Avantie Berkarya beberapa waktu lalu. Ketika itu Sukmawati diberi kesempatan naik panggung dan membacakan puisinya yang berjudul Ibu Indonesia. [nes]


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya