Berita

Sukmawati Soekarnoputri/Net

Politik

Sukmawati: Dari Lubuk Hati Yang Paling Dalam, Saya Mohon Maaf Kepada Umat Islam

RABU, 04 APRIL 2018 | 16:39 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Tokoh nasional Sukmawati Soekarnoputri menjelaskan panjang lebar terakit puisi "Ibu Indonesia" yang jadi kontroversi belakangan ini.

Sukma menegaskan tidak ada niat sedikit pun untuk melecehkan umat Islam karena puisi itu murni karya sastra yang ditulis dalam kapasitasnya sebagai seorang seniman.

"Tidak ada niatan untuk menghina umat Islam Indonesia dengan puisi Ibu Indonesia. Saya adalah seorang muslimah yang bersyukur dan bangga akan keislaman saya," kata putri Bung Karno ini saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (4/4).


Buat Sukma, tidak masuk akal jika ada anggapan dia menghina umat muslim. Dia adalah putri Proklamator Bung Karno yang dikenal juga sebagai tokoh Muhammadiyah. Bahkan, Bung Karno mendapat gelar Waliyul Amri Ad Dharuri Bi As Syaukah dari Nahdlatul Ulama.

Puisi itu jadi bagian dari Buku Kumpulan Puisi Ibu Indonesia yang telah terbit tahun 2006 silam. Sukma menulis sebagai refleksi dari keprihatinan rasa wawasan kebangsaan. Tujuannya untuk menarik perhatian anak-anak bangsa supaya tidak melupakan jati diri Indonesia asli.

"Puisi itu juga saya tulis sebagai bentuk dari upaya mengekspresikan dari sebagian kaum Marhaen yakni masyarakat non muslim terhadap Islam, dan sekaligus menjadi otokritik budaya yang saya lakukan sebagai bagian dari warga bangsa," jelas dia.

"Tujuannya tidak lain adalah untuk menciptakan masyarakat Islam nusantara yang berkemajuan sebagaimana cita-cita Bung Karno. Dalam hal ini Islam yang bagi saya begitu agung, mulia dan indah," sambung Sukma lagi.

Namun dia sadar, puisi itu terlanjur viral dan banyak orang yang keburu salah paham. Dia meminta maaf kepada semua pihak yang sudah tersinggung dengan kemunculan puisi itu.

"Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf kepada umat Islam Indonesia khususnya bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan dengan puisi Ibu Indonesia," demikian Sukma. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya