Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mengenal Inklusi Visme Islam Indonesia (61)

Jujur Pada Diri Sendiri

RABU, 04 APRIL 2018 | 09:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

JUJUR di dalam diri send­iri salah satu kepribadian bangsa yang perlu dipertah­ankan. Kebohongan adalah aib yang besar. Kesantu­nan adalah kehormatan paling tinggi. Karakter dan kepribadian luhur ini men­jadi dasar terbentuknya ink­lusivisme keberagamaan di Indonesia, khususnya umat Islam. "Jangan ada dusta di antara kita" merupakan komitmen luhur yang diwarisi turun temurun warga bang­sa.

Jujur pada diri sendiri salah satu kunci uta­ma di dalam mencegah dan sekaligus me­nyelesaikan konflik apapun, terutama konflik keagamaan. Rasulullah Saw juga pernah me­negaskan dalam kalimat berbeda: Ibda' bi naf­sik (mulailah pada dirinya sendiri). Al-Qur'an lebih generik mengatakan: Kafa bi nafsik al-yauma hasiba (cukuplah dirimu sendiri seba­gai penghisab (penentu) terhadapmu. Pada akhirnya diri pribadi yang lebih tahu apakah sesungguhnya diri kita juga tidak menjadi fak­tor dalam terjadinya sebuah konflik. Jika kita mau jujur pada diri sendiri, tidak sedikit konflik yang ada di sekitar kita justru kita juga menjadi faktornya. Akan tetapi manakala kemunafikan sudah merajalela maka konflik dan ketegan­gan sosial tidak bisa dihindari.

Memang jujur pada diri sendiri gampang dinasehatkan kepada orang lain. Namun jika suatu masalah bersentuhan dengan diri sendi­ri selalu menjadi ujian berat bagi kita. Ternyata tidak semua yang disarankan kepada orang lain bisa dengan begitu mudah kita lakukan. Tidak sedikit jumlah orang yang terlibat se­bagai faktor, bahkan sebagai provokator, di dalam konflik keagamaan justru orang-orang yang dianggap tokoh dalam suatu komunitas. Agak antagonistik memang, karena sehari-hari orang itu mengeluarkan kata-kata bijak di mimbar agama tetapi tiba-tiba menjadi peniup terompet perang.


Orang yang seperti ini menandakan dirinya menyimpan suatu masalah. Orang-orang yang belum selesai pada dirinya sendiri sulit menye­lesaikan orang lain. Banyak orang bisa bicara arif ketika ia berjarak dengan problem. Akan tetapi begitu bersentuhan langsung dengan sebuah problem maka ia menampilkan ses­uatu yang mengecewakan. Terasa tidak pan­tas dilakukan layaknya seorang tokoh.

Untuk menjadi seorang tokoh ideal atau guru bangsa diperlukan jiwa besar untuk ber­laku jujur pada diri sendiri. Namun tidak gam­pang meraih maqam jiwa besar itu. Pertama kali kita harus hijrah meninggalkan jiwa kecil dan kerdil untuk berangsur-angsur mengga­pai jiwa besar. Bisanya selalu harus ada mo­mentum pengalaman untuk mengorbitkan ses­eorang menjadi pemilik jiwa besar. Misalnya ia memiliki pengalaman panjang hidup di dalam zona konflik dan belajar serta memetik hikmah di dalam zona itu untuk mencegah zona koflik berikutnya. Biasanya orang terbiasa hidup di dalam zona nyaman dan tidak pernah hidup dalam zona konflik, sulit diharapkan menjadi penengah atau ditokohkan sebagai juru damai dalam sebuah konflik. Orang-orang yang jujur pada dirinyalah yang biasanya selalu tampil sebagai mediator di dalam berbagai masalah.

Sesungguhnya bangsa Indonesia adalah laboratorium paling bagus untuk melahirkan tokoh-tokoh arif-bijaksana. Bukankah bangsa ini dihuni ribuan etnik, suku, bahasa, agama dan kepercayaan? Bukankah bangsa ini terdiri atas ribuan pulau yang dipadati oleh berbagai etnik, suku, bangsa, bahasa, agama, dan ke­percayaan? Bukankah bangsa ini juga sudah kenyang dengan pengalaman konflik sekali­gus perdamaian dalam lintasan sejarahnya? Yang lebih penting, bukankah bangsa ini juga masih terus akan dibayangi potensi konflik se­bagai konsekuensi negara plurar? Di sinilah perlunya strategi budaya dan peradaban untuk mengantisipasi potensi konflik yang melekat di dalam tubuh bangsa ini. Tentu konsep strategi budaya tidak ada artinya jika tidak didukung oleh pribadi-pribadi yang berani jujur pada di­rinya sendiri.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya