Berita

Foto: Net

Politik

Indonesia Harus Punya Semangat Juang Hadapi China-AS

SELASA, 03 APRIL 2018 | 19:53 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Dalam berhadapan dengan negara hegemoni seperti China dan Amerika, bangsa Indonesia harus memiliki semangat juang dan menghancurkan kelemahan mentalnya, seperti korupsi. Semangat juang di bidang apapun itu juga harus berujung pada ketahanan nasional.

Begitu kata sesepuh Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) Letjen TNI (Pur) Sayidiman Suryohadiprodjo dalam forum “Kajian Strategis Konflik China �" AS dan Dampaknya Terhadap Indonesia” yang diselenggarakan oleh PPAD, Jakarta, Senin (2/4) lalu.

"Ketahanan nasional berintikan pada kekuatan nasional yang berisikan keuletan dan ketangguhan yang mampu mengatasi serta menghadapi ancaman, gangguan, tantangan serta hambatan baik dari luar ataupun dalam negeri, baik secara langsung ataupun tidak langsung, yang dapat membahayakan keberlangsungan negara," urainya.  


Sementara itu, Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada-Semangat Satu Bangsa, AM Putut Prabantoro yang menjadi pemateri dalam acara ini menjelaskan bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi masalah yang serius di internal. Sebab, ada 118 UU yang berlaku di Indonesia tidak pro rakyat.

"UU itu pro asing atau menguntungkan segelintir orang. Jadi para tokoh nasional harus menggugat ini melalui Mahkamah Konstitusi (MK)," ujarnya sebagaimana keterangan tertulis yang diterima, Selasa (3/4).

Dalam kesempatan ini, Laksda TNI (Pur) Robert Mangindaan menguraikan mengenai faktor eksternal yang menjadi ancaman bangsa ini. Dia menyebut bahwa sekalipun China dan Amerika Serikat (AS) berseteru, Amerika Serikat tetap akan menjadi super power dunia.

Amerika Serikat memiliki dana sebanyak 30 miliar AS sebagai dana kontigensi untuk digunakan oleh Amerika menghadapi bangsa atau negara yang tidak disukainya.

"Selain itu, dengan menaikkan kembali slogan “America First”, Amerika akan berhadapan dengan China secara sesungguhnya," tegasnya.

Selain AS, Robert juga meminta pemerintah mewaspadai gerak China yang memiliki mental ekspansi. China sekarang melakukan ekspansi ke Indonesia melalui extended quasi territory (EQT) dengan melakukan investasi di bidang perumahan, seperti di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan juga beberapa daerah di wilayah Jabodetabek.

"Itu artinya, China merebut suatu wilayah di Indonesia dengan perlahan dan atas nama ekonomi melalui mitra bisnisnya di Indonesia. Selain itu, China melakukan sharp power dengan menguasai mantan-mantan pejabat pemerintah serta militer, menguasai kalangan birokrat dan menguasai jajaran akademisi. China melakukan proksi di berbagai bidang," tukasnya. [ian]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya