Berita

Sukmawati Soekarnoputri/Net

Politik

Hijab, Perempuan, Dan Pembebasan

Tanggapan Untuk Sukmawati
SELASA, 03 APRIL 2018 | 17:18 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

DI atas panggung Anna Aventie, produsen kebaya ternama, Sukmawati Soekarnoputri, melalui puisi, mengatakan bahwa wanita berkonde lebih indah dari wanita bercadar, dan suara kidung ibu Indonesia lebih indah dari suara azan. Setelah diawali pernyataan, "saya tak kenal syariat Islam".

Sukmawati melakukan dua hal pada saat itu, pertama, Sukma menegaskan bahwa perempuan Indonesia itu mempunyai identitas yang berbeda dengan perempuan Islam, khususnya ibu Indonesia itu adalah perempuan berkonde dengan kebaya, bukan perempuan dengan berjilbab. Kedua, Sukma menggunakan panggung "Fashion Show", sebuah industri kapitalis, untuk menyampaikan pesannya ini. Artinya, atau dapat dimaknai, Sukma bersekutu dengan kapitalisme menyerang identitas Islam.

Wacana yang disampaikan Sukma menarik untuk ditanggapi. Pertama, apakah perdebatan soal perempuan dipanaskan sebatas kecantikan alami berkonde vs bercadar? Bukankah itu sudah menjadi diskursus kaum feminisme abad lalu? kedua, apakah kebaya sebagai simbol identitas berkontestasi dengan hijab? Bukankah runtuhnya kebaya sebagai simbol keterbelakangan dan kebodohan perempuan terjadi ketika Suharto mengimpor faham liberal dan kapitalisme ke Indonesia?.


Ketiga, apakah Sukma sedang melakukan langkah politik untuk menyerang calon gubernur dan wakil gubernur perempuan tertentu yang sedang berkontestasi dalam pilkada di Jawa?.

Dalam pentas perempuan nasional saat ini, umpamanya, kita melihat adanya model Rini Sumarno, yang gambarnya terekspos hampir bersentuhan dengan lelaki Batak beristri, Luhut Binsar Panjaitan (LBP), ketika Rini menyentuh dasi pak LBP dengan tangannya. Perempuan kudua adalah Susi Pudjiastuti, perumpuan dengan pamer tato di kakinya dan merokok di publik dan ketiga kofifah, dengan kerudung (hijab/cadar) yang selalu tampil kalem di publik.

Tidak ada ketiga wanita itu memakai kebaya sehari harinya. ataupun berkonde. Pertanyaannya, bagaimana Sukma menilai ketiga orang di atas? Mengapa Sukma tidak menyerang negara yang tidak mewajibkan konde dan kebaya bagi elit-elitnya?.

Sesungguhnya, feminitas yang diidentikkan dengan keindahan rambut, tubuh, suara perempuan, memang sudah ada sejak jaman Cleopatra. Namun, merujuk pada feminitas natural seperti ini, itu tidak menjelaskan posisi dan hirarki perempuan dalam sistem sosial yang ada. Apalagi dikaitkan dengan analisa power.

R.A. Kartini dan saudarinya, misalnya,  sibuk sepanjang hari berkonde dan menata rambutnya dalam sistem patriakat yang mengurung mereka di rumah, tanpa pendidikan. Mereka memang dipersepsikan akan cantik (ayu) dengan rambut berkonde dan pakaian berkebaya pada usia belianya. Tapi dalam persepsi siapa? Dalam filmnya, Kartini justru sadar dan menolak  pemingitan dirinya dengan konde dan kebaya hanya untuk menjadi komoditas sex para bupati dan ningrat jawa kala itu. Mereka resah tubuh dan keayuannya serta seluruh hidupnya, hanya akan segera sirna dipelukan ningrat2 beristri, hanya dijadikan selir. Kartini mengidolakan pembebasan prempuan pada sosok wanita Belanda, teman korespondensinya, yang dia bayangkan tanpa kebaya, tanpa konde, tetapi rajin membaca.

Jadi, kalau Sukmawati mencari akar pertempuran identitas antara perempuan "ibu berkonde" versus lainnya, tentu bukan pada busana muslimah sebagai lawan. Konde dan kebaya sesungguhnya kalah melawan imajinasi wanita wanita kita tentang wanita hebat, seperti dalam mimpi Kartini. Sebuah mimpi yang dibawa modernisasi dan westernisasi. Disinilah kesalahan Sukmawati.

Konsepsi Hijab

Hijab dalam Islam merupakan konsep tentang batas kebolehan perempuan dalam ”public sphere”.  Menurut Islam, wanita harus melindungi bagian sensualnya dari pandangan umum. Meski penafsiran tentang wilayah sensualitas ini bervariasi, namun mainstream ajaran Islam meyakini wajah dan telapak tangan boleh terbuka.

Konsep ini menempatkan wanita Islam terbebaskan dari pemangsa kapitalis, yang mendorong wanita justru mengekspouse wilayah sensuilnya. Selain itu konsep hijab juga menekankan kesederhanaan dan kecantikan hakikat (inner beauty). Bukan kecantikan biologis (saja), bukan tubuh maupun warna kulit, apalagi wilayah sensuilnya.Konsep ini menempatkan wanita Islam terbebaskan dari pemangsa kapitalis, yang mendorong wanita justru mengekspouse wilayah sensuilnya itu.

Dalam semua tesis tentang perempuan dan ekploitasi kapitalisme, perempuan disebutkan memang dijadikan komoditas. Persepsi perempuan cantik diciptakan industri kecantikan (kosmetik),  fashion dan bahkan industri pornografi dan sex.

 Cantik itu adalah putih (caucasian/white), langsing, wajah tirus tanpa jerawat, rambut lurus berkilau, dlsb. Persepsi ini dimanfaatkan kapitalisme untuk menjebak perempuan dalam ketergantungan, di mana perempuan2 dijadikan pasar produk kecantikan.

Bagi kapitalis, kecantikan perempuan, termasuk lengan, betis dlsb, tidak boleh ditutupi. Keindahan harus di share ke semua mata yang bisa melihat (termasuk jaman now via Instagram). Bahkan, penonjolan sensualitas merupakan alat penting industri kecantikan dalam mengiklankan produk. Meskipun antara produk (mobil misalnya) tidak berhubungan dengan sensualitas wanita dalam pameran produk mobil, misalnya.

Serangan serangan kaum feminis dari gelombang pertama, kedua, ketiga dan feminisme gelombang ke empat mengecam dominasi laki laki, hak-hak reproduksi, hak hak sosial dan politik perempuan, dan lain sebagainya, serta terakhir gerakan anti ”sexual harrasment” tepat terjadi dalam bingkai perspektif kapitalis soal perempuan. Penggunaan hijab, misalnya, sedikitnya menjauhi ”sexual harrasment”. Dalam Islam, hak hak wanita mendapatkan kesamaan drajat sebanding lelaki, khususnya dalam ”theoritical framework” kemulian di sisi Tuhan mereka. Hal ini tentu membutuhkan kajian pada tema yang lain. Namun, sesuatu yang pasti, Islam menjauhkan perempuan dari komodifikasi.

Menjauhkan perempuan sebagai komoditas adalah sebuah pembebasan. liberation. Hijab adalah liberation.

Kesalahan Sukmawati

Bagaimana kebaya dan konde  dapat kompatible dengan "perempuan produk kapitalis ini?" Mengapa Sukma yakin pada "ibu konde" dan kidung alami itu dan disampikannya dalam pentas kaum kapitalis, menarik untuk melihatnya.

Kalau membaca pikiran seorang feminis Belgia, Denise Comanne dalam "How Patriarchy and Capitalism Combine to Aggravate the Oppression of Women", ternyata menurut Comanne, ekploitasi terhadap perempuan dilakukan kapitalisme juga dengan menunggangi sistem patrikat. Dan sekali lagi kita tahu, simbol "ibu konde" yang ditawarkan Sukma adalah simbol dalam era dan sistem patriakat.

Berbeda dengan ayahnya, Bung Karno, yang melukiskan pemikiran gagasannya semasa muda dalam "Islamisme, Nasionalisme dan Marxisme" dan semasa tuanya dalam "Nasionalis, Agama dan Komunis", sang ayah selalu menegaskan bahwa Islamisme dan Nasionalisme adalah kawan sejati melawan kapitalis. Sementara sang anak, Sukmawati, membenci Islam tanpa pijakan yang jelas.

Jadi, Sukmawati telah salah dalam dua hal, pertama, dalam urusan ibu berkonde, salah dalam memusuhi Islam sebagai versus tradisionalisme. Islam sebagai musuh budaya. Kedua, salah dalam bersekutu dengan kapitalisme atau setidaknya memanfaatkan panggung kapitalis (fashion show) untuk melawan Islam.

Kita, ketiga, tetap boleh mencurigai bahwa Sukmawati sedang mendeligitimasi kehadiran Cagub/Cawagub Jatim/Jateng yang berhijab.

Entahlah. [***]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya