Berita

Foto/Net

Kesehatan

Menkes Kebangetan...

Sebut Cacing Di Makarel Berprotein
SABTU, 31 MARET 2018 | 10:31 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Disaat banyak yang heboh soal ikan makarel bercacing, Menteri Kesehatan Nila F Moelok justru cuek aja. Menkes justru bilang, cacing di ikal makarel mengandung protein dan aman dikonsumsi. Jagad Twitter pun heboh menanggapi hal ini.

"Cacing itu sebenarnya isinya protein. Saya kira kalau sudah dimasak kan saya kira juga steril. Insyaallah nggak jadi ini (penyakit)," kata Nila di Gedung DPR usai rapat dengan anggota Komisi IX DPR di Gedung Nusantara, Kamis (29/3) lalu.

Seperti diberitakan, BPOM menguji 541 sampel ikan dalam kemasan kaleng yang terdiri dari 66 merek. Hasilnya, 27 merek positif mengandung parasit cacing, terdiri dari 16 merek produk impor dan 11 merek produk dalam negeri. Diketahui bahwa produk dalam negeri tersebut juga menggunakan bahan baku impor. BPOM memerintahkan kepada importir dan produsen menarik produk dari peredaran dan memusnahkannya.


Menteri Nila menyatakan, belum ada laporan efek samping akibat mengonsumsi sarden, termasuk dugaan produk sarden bercacing. "Menurut saya, kalau memang tidak ada, bisa saja kan kalau memang tidak dimakan atau dimakan tapi kan dimasak. Sehingga sampai saat ini tidak ada side effect-nya, mencret kek atau atau apa tidak ada," ungkapnya.

Dia meminta masyarakat lebih waspada mengonsumsi makanan olahan. Masyarakat wajib memperhatikan betul tanggal kedaluwarsanya, bau, sampai warna makanan. Selain itu, Nila menerangkan, mengonsumsi makanan matang yang telah dimasak sempurna bisa menghindari risiko gangguan kesehatan. Karenanya, dia mengatakan bahwa makanan sebaiknya tidak dimakan mentah. "Hati-hati dikitlah gitu. Jangan cuma main telan saja," ungkap dia.

Terkait penarikan 27 merek ini, Nila mengaku tak tahu menahu. Menurutnya, permasalahan tersebut tak perlu dibesar-besarkan yang akhirnya bikin takut masyarakat.

BPOM sendiri mengatakan parasit cacing ditemukan dalam keadaan mati di ikan makarel. Kepala BPOM Penny K Lukito juga menyiratkan bahwa temuan cacing dalam ikan makarel tidak serta merta menyebabkan racun berbahaya bagi tubuh.

"Temuan cacing ini pun sudah dalam kondisi mati, tapi setelah kami telusuri apa akibatnya dan sebagaimana, karena ditemukan dalam kondisi mati, mungkin ahli bisa jelaskan, efeknya tidak ada zat berbahaya," kata Penny.

Sejumlah pihak menyayangkan pernyataan Nila. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai, pernyataan ini tak memberi kewaspadaaan bagi masyarakat.

"Kami mengkritik keras pernyataan Menteri Kesehatan. Itu perbuatan tidak produktif dikatakan oleh seorang yang berkompeten di bidang kesehatan," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, kemarin.

YLKI mendesak BPOM menginvestigasi 27 merek makarel yang mengandung cacing. Tidak cukup menarik produk dari pasaran tanpa melakukan langkah-langkah yang lebih komprehensif.

Senada, Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menantang Menkes membuktikan pernyataannya. "Jika memang Menkes menyatakan produk makarel itu tidak berbahaya, mungkin Menkes bisa membuktikan. Misalnya dengan demo makan makanan makarel mengandung cacing itu di depan publik, sehingga masyarakat yakin dengan pernyataan Menkes," ujar Taufik dalam keterangan tertulisnya.

Mestinya, Menkes memberikan pernyataan yang menenangkan masyarakat. Harusnya Menkes mengimbau masyarakat membantu pemerintah melaporkan 27 produk itu jika masih beredar di pasaran.

Di Facebook, netizen Agus Setio heran. Dia menyebut Menkes kebengetan. "Haddeehh dapat referensi dari mana sihh. Kebangetan," tulis dia sama dengan Roy Indrayana. "Kalo beritanya benar kebangetan... Hampura Bu..."

Tak jauh berbeda, di Twitter, pernyataan Menteri Nila jadi bahan gunjingan. Sebagain besar netizen heran. "Kata Bu Menteri, cacing mengandung protein atau gizi gitu. Alamak jang," ujar @BossEdyIstihadi disambut @ FirdaSyeban. "Menkes: cacing itu sebenernya isinya protein. Menteri-menteri sekarang horor-horor pikirannya uy," sindirnya.

Netizen dengan akun @alvinlie21 mengkritik keras. "Jadi Mackerel Bercacing itu aman dikonsumsi ya Bu MenKes? Begizi tinggi karena extra kandungan protein? Bagaimana bila Bu MenKes beri teladan makan Mackerel bercacing? Hari gini belum dapat laporan? Lantas apa kerja BPOM? Bagaimana birokrasi pelaporan di Kemenkes?" kicaunya panjang.

Tweeps @Hadanililislam makin nyinyir. “Nyari cacing nyokk. Kirim sekilo ke rumah Menkes. Tenaang udah dimasak jadi sarden," kicau dia disambut kritikan pedas @asa_dawilah. "Menkes kok ngomongnya macam sales makarel aja, udah nggak punya malu lagi ya?"

Akun @Gilang_Mahesa menimpali dengan candaan. "Jadi cacing di makarel itu mungkin menurut Ibu Menkes semacam topping makanan, seperti keju pada pisang, atau meses pada es krim." Sedangkan netizen @HisyamMochtar cukup sopan mengkritik pernyataan Menkes. "Bu Menkes, kalau cacing berprotein itu saya paham. Tapi kalau cacing yang terdapat pada makanan kemasan kalengan? Hii menjijikkan sekali!"

Serupa, akun @tonysugiantonomeminta Menkes memberi contoh terlebih dahulu. "Suruh dia makan duluan di-live sama semua setasiun tv, abis itu kita ngikutin," tantangnya senada dengan @dheniema. "Gua setuju dengan pendapat Ibu Mentri, dengan catatan Bu Mentri yang duuan makan cacingnya. Mencret-mencret deh luh!"

Akun @RatnaSpaet kesal bawa-bawa rezim. "Kenapa banyak Menteri belguk dalam rezim yang sekarang?" kicau dia disambut @HANMAS19. "Ampun kaka. Cabe suruh tanam sendiri. Beras suruh irit makan. Daging ganti keong saja. Sekarang kita disuruh makan cacing? Hahahaeey."

Netizen dengan akun @BangPino_ ikut melengkapi. "Revolusi Mental Zaman Now. 1. Cabai Mahal : Tanam Sendiri. 2. Beras Mahal : Diet Saja. 3. Daging Mahal: Makan Keong. 4. Sarden Ada Cacing : Cacing itu Protein Tinggi. 5. Dll. Sampai kapan, solusi macam ini disajikan untuk rakyat ya."

Meski demikian, akun @anjarisme meluruskan dan membela pernyataan Menkes dengan menautkan berita berjudul soal makarel bercacing, Menkes imbau makanan dimasak sempurna. "Nah, begitulah isi pernyataan Menkes @NilaMoeloek hari ini menanggapi temuan cacing dalam iklan kaleng. Beda kan maknanya jika dibandingkan hanya baca judul berita. Mengingatkan, jangan hanya baca judul berita ya. Banyak media pemburu klik."

Netter dengan akun @ProKontra7 memberi penjelasan lebih. "Sebetulnya begini objektifnya, kalo masaknya benar, makanan apapun jadi sumber gizi yang baik, mungkin begitu maksudnya." Tweeps @KWinata10 meminta publik mengehentikan kegaduhan. "Sudahlah jangan buat kegaduhan." ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya