Berita

Foto/Net

Kesehatan

Pelayanan Kesehatan Anak Terancam

SABTU, 31 MARET 2018 | 09:25 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sejumlah upaya dikerah­kan pemerintah untuk menga­tasi defisit di BPJS Kesehatan. Salah satunya, dengan revisi Perpres Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sudah memasuki tahap sinkronisasi. Saat ini draft tersebut sudah di Kemenkumham untuk dilakukan harmonisasi dan akan disahkan pada April mendatang.

Pegiat BPJS Watch, German E. Anggent mengungkapkan, semangat revisi Perpres JKN ini adalah menyesuaikan den­gan situasi defisit yang dialami BPJS Kesehatan. Revisi tersebut dikhawatirkan akan mengu­rangi manfaat layanan BPJS Kesehatan bagi pesertanya.

"Ini sangat bertentangan den­gan UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan manfaat pelayanan kesehatan untuk anak yang selama ini minim dan memprihatinkan," katanya.


Pihaknya memprediksi, kebu­tuhan fasilitas NICU/PICU dan pembiayaannya akan dikurangi, termasuk pelayanan untuk pe­nyakit-penyakit katastropik pada anak. Padahal pelayanan BPJS diharapkan mampu mengurangi angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak.

Meski diikutsertakan dalam proses sinkronisasi terkait re­visi Perpres JKN tersebut, BPJS Watch menyatakan kecewa lan­taran usulannya tidak dimasuk­kan dalam rancangan Perpres tersebut.

"Alasan BPJS defisit tidak tepat karena UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) sudah mengamanatkan bahwa negara bertanggungjawab membantu pendanaan JKN," terangnya.

BPJS Watch mencatat, pada 2017 tercatat ada 4,8 juta kela­hiran, sementara berdasarkan data dari BPJS Kesehatan me­nyebutkan hanya 700 ribu kela­hiran yang dilayani oleh BPJS kesehatan.

"Ini artinya ada 4 juta bayi tidak terlindungi oleh skema JKN ditengah situasi angka ke­matian ibu dan bayi tidak yang juga menurun," ujar German.

Pihaknya menekankan, dalam hal pelayanan pengobatan bayi dan anak tidak bisa bersuara sendiri. Selain itu masih banyak kasus bayi dan anak yang mem­butuhkan ruang NICU/PICU harus mencari sendiri rumah sakit yang memiliki fasilitas tersebut.

"Untuk itu BPJS Watch dan Tim Pokja Revisi Perpres JKN meminta agar pembahasan draft final yang telah diserahkan Kemenkumham ditunda final­isasinya untuk menggali lebih dalam dengan melibatkan stake­holder perlindungan anak yang lebih luas," katanya.

German menambahkan, meski BPJS Kesehatan mengalami de­fisit, program ini terbukti sangat membantu masyarakat dan men­jadi kebutuhan hajat hidup dan kebergantungan orang banyak.

"Maka sudah seharusnya kita semua sadar pada kepentingan seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi penerus bangsa," tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo menga­takan pemerintah telah men­etapkan bauran kebijakan untuk meningkatkan efisiensi BPJS Kesehatan. Selain itu, juga ber­tujuan mendorong likuiditas keuangan BPJS Kesehatan.

Beberapa kebijakan sudah bisa dilakukan sejak awal tahun ini karena aturannya sudah ada. Sementara beberapa kebijakan lainnya baru akan efektif berlaku mulai semester II-2018 karena aturannya paling cepat diter­bitkan April. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya