Berita

Foto/Net

Otomotif

Stop Dong Impor Bus & Truk Bekas

Industri Karoseri Lokal Sudah Mampu Produksi
SELASA, 27 MARET 2018 | 08:44 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Industri karoseri mend­esak impor bus dan truk utuh baru maupun bekas distop alias dihentikan. Pasalnya, industri karoseri dalam negeri sudah bisa membuat berbagai tipe bus, mini bus, truk dan juga kebutuhan industri lain.

Ketua Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) Sow­anwitno Sommy Lumadjeng mengatakan, pemerintah har­us memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha karo­seri lokal. "Bus, minibus, bus besar, molen, truk, bisalah kita membuat untuk kebutuhan dalam negeri," ujar Sommy di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, pemer­intah perlu mengatur ulang pengadaan atau lelang kend­araan-kendaraan yang dibu­tuhkannya. Hal ini agar para pelaku usaha karoseri di da­lam negeri mampu memiliki waktu untuk melakukan per­siapan dan pengerjaan.


"Para pelaku usaha karoseri kerap kesulitan memenuhi permintaan pemerintah den­gan waktu yang tidak cukup untuk membuat suatu kend­araan niaga," katanya.

Dia mengungkapkan, para pelaku usaha karoseri di da­lam negeri bisa bekerja sama untuk menyelesaikan pesanan pemerintah dengan jumlah besar. Selain itu, secara kuali­tas pun sama dengan impor mengingat spesifikasi kend­araan sudah disesuaikan oleh pemerintah.

Ia menegaskan, pemerintah harus menutup 100 persen impor kendaraan-kendaraan niaga seperti truk dan juga bus. Industri karoseri memi­liki peranan penting dalam perekonomian nasional.

"Oleh karena itu, industri ini cukup prospektif untuk dikembangkan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri," tu­turnya.

Menurutnya, industri karo­seri lokal dapat terus tumbuh seiring keseriusan pemerintah dalam membangun infrastruk­tur. "Dengan catatan pemerin­tah tidak ekspor secara utuh sehingga memberikan nila tambah bagi industri di dalam negeri," katanya.

Ia menambahan, tahun lalu proyek dari Lembaga Kebi­jakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (LKPP) baru keluar akhir tahun. Sehingga industri lokal sedikit keteteran mengh­adapi permintaan. "Tahun ini saja belum masuk, pengadaan belum tayang. Kami harap in­dustri juga dikasih waktu yang jelas untuk bisa mengerjakan proyek,"  katanya.

Sekjen Askarindo TY Sub­agio menjelaskan, kuartal I-2018 kebanyakan proyek yang dikerjakan adalah per­mintaan tahun lalu. Sementara untuk pesanan tahun ini be­lum terlihat ada peningkatan. "Tapi kami optimistis dengan banyaknya proyek infrastruk­tur serta pariwisata bisa men­ingkatkan permintaan," kata Subagio.

Menurutnya, industri karo­seri lokal juga sudah bisa mengekspor. "Negara seperti Fiji dan Afrika sudah pernah diekspor oleh pelaku karoseri dalam negeri," katanya.

Secara volume ekspor masih kecil karena masih dirudung beberapa masalah. Pertama, ada kualitas sasis yang ada di Indonesia harus disesuaikan dengan standar tujuan negara eksor.

Kedua, dari sisi aftersales, apakah chassis bisa dibantu suplai oleh merek yang ada di negara tujuan ekspor. "Ini kan juga menjadi kendala. Ke­cuali pembeli tidak persoalkan maka ini jadi tidak masalah," jelas Subagio. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya