Berita

Yusril Ihza Mahendra/Net

Wawancara

WAWANCARA

Yusril Ihza Mahendra: Kami Tidak Akan Mendukung Jokowi, Kalau Calon Tunggal Pilih Kotak Kosong

JUMAT, 16 MARET 2018 | 08:16 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Partai Bulan Bintang (PBB) membuka pintu seluas-luasnya bagi aktivis Front Pembela Islam (FPI) dan eks anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menjadi bakal calon anggota legislatif (bacaleg).

Berikut penjelasan Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra.

Betulkah PBB membuka pintu seluas-luasnya bagi ak­tivis FPI dan eks HTI menjadi bacaleg PBB?
Betul. Selama ini kan kami bantu mereka, dan mereka mem­bantu kami. Jadi saling memban­tulah. Karena itu kalau dari ka­langan HTI dan FPI mau masuk PBB silakan, kami siap meneri­ma. Tapi kami tidak terbatas pada merekrut dari kedua ormas ini, dari ormas lain juga. Misalnya kalau anggota NU (Nahdlatul Ulama), Muhammadiyah, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Kahmi (Korps Alumni HMI) dan ormas lainnya mau gabung, kami terbuka buat mereka.

Betul. Selama ini kan kami bantu mereka, dan mereka mem­bantu kami. Jadi saling memban­tulah. Karena itu kalau dari ka­langan HTI dan FPI mau masuk PBB silakan, kami siap meneri­ma. Tapi kami tidak terbatas pada merekrut dari kedua ormas ini, dari ormas lain juga. Misalnya kalau anggota NU (Nahdlatul Ulama), Muhammadiyah, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Kahmi (Korps Alumni HMI) dan ormas lainnya mau gabung, kami terbuka buat mereka.

Jadi siapa saja yang mau gabung jadi caleg PBB silakan, kami membuka peluang buat mereka. Hanya ada tiga golon­gan yang kami tidak terima.

Golongan apa saja itu?

Pertama PKI, kedua kelom­pok penista agama, dan ketiga kelompok pendukung LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Ketiga golongan itu kami enggak terima. Kalau yang lainnya oke, oke saja, sepanjang memenuhi persyara­tan yang diatur undang-undang, kami membuka kesempatan untuk bergabung. Siapa saja yang bergabung nanti kami seleksi, kami berikan pembeka­lan dan lain-lain, dengan hara­pan PBB bisa jadi partai yang mencakup segala segmen dalam masyarakat, dan berperan aktif dalam keragaman. Karena kami ingin PBB memperoleh keme­nangan yang lebih besar.

Selama ini kan banyak ka­langan menganggap kedua ormas itu radikal. PBB tidak khawatir dicap menganut pa­ham radikal?
HTI sih tidak. HTI itu sebe­narnya cara-caranya damai. Tapi siapapun yang gabung ke PBB pasti akan kami bekali, dan kami berikan training soal ideologi, agar pemikirannya sejalan dengan PBB. PBB ini kan dikenal sebagai partai yang moderat, partai yang modernis yang menjunjung tinggi ajaran Islam. Dalam berpolitik PBB melakukan ijtihad, dalam arti membuka pikiran seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, serta berupaya menerapkan Islam da­lam rangka menyelesaikan perso­alan yang dihadapi bangsa ini.

Selama ini yang dilihat dari saya kan pendekatan yang ra­sional. Jadi enggak usah ada kekhawatiran PBB akan berubah menjadi kelompok radikal. PBB itu bukan radikal, bukan ekstri­mis, tetapi partai yang moderat. Sepanjang sejarahnya PBB tidak pernah terlibat dalam kejahatan, tidak pernah terlibat dalam konflik, dan tidak pernah terlibat korupsi.

Tidak ada satupun pimpinan PBB yang pernah ditangkap gara-gara korupsi. Jadi PBB betul-betul partai yang menjan­jikan, karena PBB adalah partai yang Islami sekaligus partai ke­bangsaan. Jadi tegas pembelaan kami terhadap Islam, tapi juga tegas pembelaan kami terhadap bangsa.

Persepsi masyarakat kan tidak bisa diatur, sehingga bisa jadi masyarakat justru berpersepsi negatif karena hal ini?
Enggaklah, menurut saya orang justru akan berpikir positif. Karena kan kesan orang HTI itu didzolimi pemerintah, dan kami membela yang didzolimi itu. Dan sikap kami itu jelas sekali dalam membela Islam. Kami tidak hanya membantu HTI, tapi kami juga membela tokoh-tokoh Islam yang dikriminalisasi dan aktivis-aktivis yang dituduh makar. Jadi jelas PBB itu partai yang membela rakyat, mem­bela mereka yang ditindas dan didzolimi. Kami membantunya juga tanpa kekerasan, melainkan dengan cara-cara damai.

Kami mendukung HTI kar­ena ada dugaan kuat mereka didzolimi oleh pemerintah, kar­ena ada kepentingan asing. Jadi sebetulnya kami membela bangsa, membela Islam. Tidak ada pikiran untuk makar dan se­bagainya. Jadi jangan ada-adain yang enggak ada. Sekarang siapa yang berani lawan penguasa ketika Islam didzolimi? Cuma PBB.

PBB sampai hari ini alhamdu­lillah tegas terhadap pendirian. Kami sudah menyatakan bahwa tidak mendukung pencalonan Jokowi lagi. Jadi kalau misal­kan nanti ternyata calon tung­gal, ya kami akan pilih kotak kosong.

Tadi Anda bilang akan ada pembekalan terhadap semua bacaleg yang daftar ke PBB. Seperti apa pembekalannya?

Betul. Jadi bagi yang mau jadi anggota PBB itu kami kasih pembekalan dan kaderi­sasi. PBB itu seperti pelangi, karena merekrut dari berbagai komponen masyarakat. Di tahun awal politik ini PBB membuka diri terhadap semua golongan. Mulai dari yang moderat sampai yang bicara keras itu kami re­krut. Makanya butuh pembeka­lan guna menyamakan ideologi dengan PBB.

Sejauh ini apa sudah ada anggota FPI dan eks HTI yang daftar?
Saya belum tahu ya, karena sa­ya belum bisa cek. Pendaftaran itu dilakukan melalui cabang-cabang partai. Kami punya 560 cabang, kami punya 36 wilayah. Tapi saya dengar di beberapa daerah sudah ada yang daftar. Tapi saya tidak tahu persisnya, karena belum memonitor. Yang jelas kami membuka kesem­patan bagi siapa saja, kecuali tiga golongan tadi. Dan saya ingin sampaikan juga kalau PBB ini partai ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Artinya bukan Syiah dan bukan Wahabi. Saya ingatkan supaya jangan sampai pelecahan di masa lalu kembali terjadi. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya