Berita

Foto/Net

Otomotif

Menkeu Ngaku Masih Pikir-pikir

Turunin Pajak Sedan
SENIN, 19 FEBRUARI 2018 | 08:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih mengkaji revisi Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) se­dan. Hal ini menyusul adanya permintaan dari Kementerian Perindustrian agar pajak sedan diturunkan untuk merang­sang produsen dalam negeri produksi sedan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, telah berbicara dengan Menteri Perindustrian Airlangga Har­tarto mengenai hal ini. Dari pembicaraan ini, Airlangga menyatakan jika saat ini sedan sudah bukan lagi kategori ba­rang mewah.

Selain itu, penurunan PPnBM sedan juga diperlukan untuk merangsang produsen otomotif dalam negeri agar mau mem­produksi sedan di Tanah Air. Dengan demikian, mobil sedan yang selama ini dipenuhi dari impor bisa dikurangi.


"Pak Airlangga dari sisi strategi industri mengatakan bahwa kendaraan sedan bukan lagi kendaraan mewah, untuk itu skema dari sisi insentif pa­jak atau rezim pajaknya akan disesuaikan dengan kebutuhan strategi industri dalam negeri," ujar dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Namun, kata dia, jika tujuan akhirnya untuk menurunkan impor, maka bisa dikenakan kenaikan bea masuk, bukan dengan menurunkan PPnBM. "Saya belum bisa menyam­paikan, tapi lebih kepada tu­juannya mengurangi impor harusnya bentuknya cukai bukan PPnBM," kata dia.

Ani belum bisa memastikan apakah tarif PPnBM untuk sedan ini bisa diturunkan atau tidak. Saat ini harus tersebut masih terus dibahas. "Kami bahas dengan tim tarif dengan melihat bagaimana perubahan komponen itu akan kami ber­lakukan,"  ujarnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, penurunan pajak sedan sangat diperlukan untuk merangsang produsen otomotif nasional memproduksi sedan. Apalagi, pasar ekspor lebih banyak sedan.

"Di Australia pabrik oto­motif tutup semua, sehingga pasarnya yang 2 juta, sekarang disuplai dari Thailand dan Jepang," ujarnya.

Dengan adanya penurunan PPnBM, diharapkannya, se­dan bisa mengisi kebutuhan tersebut. Sehingga selain untuk pasar dalam negeri, sedan yang diproduksi juga bisa diekspor ke negara lain, seperti Australia.

"Ini akan mendorong utilitas di otomotif. Karena kapasitas di otomotif sudah bisa sampai 2 juta unit sebetulnya, sekarang utilisasinya sekitar 1,4 juta-1,5 juta. Kalau ini bisa dilakukan, kita akan punya kapasitas untuk ekspansi," kata dia.

Selain itu, saat ini kedua negara tengah merampungkan perjanjian kerja sama perda­gangan Indonesia-Australia Comprehensive Partner­ship Agreement (IA-CEPA). Dengan demikian, akan mem­permudah masuknya produk sedan Indonesia ke Australia.

Ketua IGabungan Industri Kendaraan Bermotor Indo­nesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengatakan, den­gan adanya penurunan tarif pajak sedan akan mendorong tumbuhnya industri otomotif nasional. Apalagi saat ini, pajak sedan cukup tinggi yaitu 30 persen. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya