Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Spirit Internasional PTM

JUMAT, 16 FEBRUARI 2018 | 06:44 WIB | OLEH: SUDARNOTO A HAKIM

Orientasi global gerakan Muhammadiyah menjadi peluang terutama bagi 173  Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM( untuk masuk dalam area global menjadi bagian dari kompetisi dan pemain penting dinamika pendidikan tinggi. Cukup kuatkah PTM berkompetisi secara global?

Tentu ini pertanyaan penting. Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh PTM kemudian menyiapkan diri secara lebih matang. Banyak hal yang memang harus dilakukan antara lain ialah penguatan kelembagaan di tiap  level. Karena itu,  memandang secara lebih menyeluruh atau komprehensif rancangan pengembangan dan penguatan  institusi sanggatlah penting.

Tanggal 11 hingga 18 Februari merupakan hari hari penting bagi PTM. Di bawah kordinasi Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, sejumlah PTM mengadakan lawatan khususnya ke Melbourne untuk menjajagi kemungkinan kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi (Victoria University, Holmesglan Institute dan Monash University). Kekuatan dan reputasi tiga perguruan tinggi ini tak diragukan dan tidak asing bagi masyarakat akademik di Indonesia. Di Monash university, misalnya, fakultas pendidikannnya sangat kuat.


Tentu saja fakultas-fakultas lainnya juga memiliki reputasi yang tak kalah prestisiusnya. Untuk Vocation Education, Holmesglan merupakan tempat yang tepat. Di kampus ini bahkan untuk pendidikan vokasi tidak saja untuk tingkat diploma, akan tetapi tingkat sarjana juga disediakan.

Soal pendidikan vokasi ini cukup penting dikembangkan dan diperkuat di Indonesia melihat kenyataan antara lain tidak semua generasi muda di Indonesia yang karena berbagai faktor sosial dan ekonomi misalnya tidak memungkinkan untuk mengikuti program sarjana. Jika dipaksakan maka angka drop out bisa makin tinggi.

Atau kalau lulus pun, menjadi seseorang yang "no where" tidak memiliki kepastian mau ke mana dan melakukan apa? Jika ini dibiarkan, maka ini akan menyumbang angka pengangguran generasi muda yang seharusnya produktif. Karena itu, pendidikan vokasi memang diharapkan akan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada generasi muda menjadi  tenaga terdidik skillfull profesional dan tersertifikasi yang siap untuk masuk dalam dunia kerja (workplace) dan industri.

Dalam kaitan itu, seperti yang dilakukan di Australia, pemerintah Indonesia harus menyediakan aturan yang meyakinkan bahwa hubungan antara pendidikan tinggi dengan industri dan dunia kerja secara umum terjalin kuat dan pasti. Dengan cara ini maka ada keyakinan juga bahwa pendidikan tinggi memiliki kemampuan untuk menyediakan generasi muda yang produktif, kreatif dan memberikan jalan untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi.

Pasar kerja sesungguhnya telah tersedia baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Akan tetapi yang juga penting adalah kesadaran bahwa pasar kerja itu bisa diciptakan. Karena itu pendidikan tinggi terutama Vokasi juga bisa diarahkan untuk dua kepentingan tersebut, yaitu melahirkan anak anak muda yang memiliki kemampuan untuk "memasuki dunia kerja" dan "menciptakan dunia kerja." Keduanya sangatlah penting karena akan mempertemukan "etos produktif, kreatif dan inovatif " dan bahkan diperlukan juga "etos liberatif, transformatif dan etis."
Pendidikan vokasi tidak akan sekedar melahirkan tenaga-tenaga profesional sebagai "alat produksi" kapitalisme akan tetapi juga tenaga yang bisa "berpikir atau berwawasan lebih." Mereka adalah yang manusia manusia yang senantiasa penuh gairah dan visioner untuk berinovasi, berkreasi atau mencipta sesuatu yang lebih dan bisa memberikan ruang bagi masyarakat yang luas untuk merasakan kesejateraan ekonomi. Dengan senantiasa berkeyakinan kepada nilai nilai luhur agama, misalnya, mereka memiliki spirit dan kemampuan untuk mengelevasi derajat sosial dan ekonomi masyarakat dan mendorong masyarakat untuk bertransformasi dan maju.

Kepentingan Muhammadiyah

Apa sebetulnya makna penting model pendidikan vokasi sebagaimana yang dikembangkan di Australia bagi Muhammadiyah? Pertama, Muhammadiyah melalui PTM yang ada haruslah siap untuk bersikap terbuka untuk belajar dari kesuksesan "orang lain" (lain bangsa dan lain agama). Keterbukaan ini penting karena memang ada titik titik persamaan antara Australia ( dan negara negara lain tentunya) dengan Indonesia dalam mengelola pendidikan yaitu untuk "kemanusiaan dan kemajuan."

Muhammadiyah siap belajar bagaimana memajukan dunia pendidikan tinggi khususnya pendidikan vokasi ini. Kedua, Muhammadiyah sebetulnya memiliki kelebihan dan keistimewaan yang menurut hemat penulis tidak dimiliki oleh Australia yaitu agama yang sangat bisa menjadi sumber moral dan etik bagi pengelolaan pendidikan vokasi dan kemajuan masyarakat pada umumnya. Karena itu, Muhammadiyah bisa menawarkan model integratif antara "pendidikan vokasi Australia" dengan "spirit keislaman yang liberatif transformatif."

Ketiga, pendidikan vokasi ini adalah cara akademik dan praktikal untuk menjawab ancaman kemiskinan dan ketidakadilan. Ini menjadi ciri khas pendidikan vokasi Muhammadiyah yaitu cita cita atau missi mulia memerdekakan masyarakat dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Hasrat Muhammadiyah melalui PTM untuk membangun kolaborasi internasional dengan berbagai perguruan tinggi di luar negeri tentulah tidak dimaksudkan untuk sekedar akseptif dan apalagi follower terhadap model-model yang diintrodusir oleh kampus kampus besar itu, akan tetapi juga mengembangkan sikap kritis inovatif dan kreatif sehingga transfer of knowledge and technology benar-benar bersesuaian dan ramah dengan keluhuran budaya yang selama ini dijaga dan dengan cita cita  membangun Indonesia yang berkemajuan.[***]

Penulis adalah Wakil Ketua Dikti PP Muhammadiyah dan Dewan Pakar Kornas Fokal IMM.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Pimpinan Baru OJK Perlu Perkuat Pengawasan Fintech Syariah

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:25

Barang Ilegal Lolos Lewat Blueray Cargo, Begini Alurnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:59

Legitimasi Adies Kadir sebagai Hakim MK Tidak Bisa Diganggu Gugat

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:36

Uang Dolar Hingga Emas Disita KPK dari OTT Pejabat Bea Cukai

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:18

Pemda Harus Gencar Sosialisasi Beasiswa Otsus untuk Anak Muda Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:50

KPK Ultimatum Pemilik Blueray Cargo John Field Serahkan Diri

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:28

Ini Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:08

KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Pejabat Bea Cukai, 1 Masih Buron

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:45

Pengamat: Wibawa Negara Lahir dari Ketenangan Pemimpin

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:24

Selengkapnya