Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Memperbaiki Reformasi Pembangunan

JUMAT, 09 FEBRUARI 2018 | 05:52 WIB

PEMERINTAH memilih pembangunan di bidang hukum sebagai panglima dalam melakukan reformasi. Yang direformasi adalah meniadakan perilaku Ken Arok pada periode Ken Arok sebelum diperbaiki kepribadiannya oleh Adipati Kelalawar Hijau. Adipati yang mengubah perilaku Ken Arok dari kepala begal, kecu, rampok, dan sebagainya. Ken Arok muda yang menjadi hantu di padang penggembalaan. Peran tokoh agama merangkap jawara itu berhasil mengubah perangai Ken Arok jauh lebih baik. Ken Arok yang menjadi cikal bakal dari raja-raja Jawa.

Raden Mas Said adalah keturunan Adipati Ronggolawe. Adipati ahli perang dari rekan kerja Raden Wijaya. Wijaya adalah pendiri kerajaan Majapahit. Said muda sebagaimana Ken Arok adalah kisah perampok budiman sebagaimana Robinhood. Robin adalah bangsawan dalam sejarah kakek buyut kerajaan Inggris Raya. Mengubah kepribadian juga ditemukan dalam sejarah Timur Tengah, yaitu Umar bin Khattab. Artinya, ulama memegang peranan kunci dalam mereformasi dari mengubah perampok budiman menjadi pemimpin yang bijak.

Persoalan revolusi mental yang dipraktekkan pemerintah adalah menggunakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai alat untuk mengurangi perilaku, yang terbatas hanya pada permalingan. Maksimal hanya sebatas pada pembocoran informasi untuk membongkar rekan-rekan kerja kelompok. Maling dipenjarakan dan diambil harta benda hasil korupsi guna dikembalikan ke Kementerian Keuangan. Sama sekali tidak terdengar adanya skenario mengubah Raden Mas Said muda menjadi Kanjeng Sunan Kalijaga.


Disitulah letak persoalan reformasi pembangunan di bidang hukum ketika tokoh-tokoh Parpol, legislatif, eksekutif, yudikatif, akademisi teladan, dan berbagai elite bangsa ditertibkan menggunakan metodologi KPK. Setiap tokoh adalah kepala suku. Terdapat solidaritas corps tinggi yang dapat menggagalkan strategi penegakan hukum anti korupsi. Yang dipenjarakan itu adalah Robin dari hutan angker Sherwood, ataukah begal kecu hanya sebatas begal saja.

Menjadi jenderal, haji, dan mantan Presiden adalah prestasi status sosial tertinggi yang tidak boleh dipandang dengan sebelah mata. Soesilo Bambang Yudhoyono menggunakan jalur hukum untuk menuntut keadilan atas upaya pelibatan martabat dirinya dikaitkan pada kasus korupsi KTP elektronik.

Walaupun tidak pernah berjabat tangan dan berbincang-bincang dengan Yudhoyono, namun pemerintah perlu memberikan penjelasan terhadap apakah akan mengubah tradisi menjunjung tinggi dan memendam sedalam-dalamnya aib pemimpin. Akankah persamaan di muka hukum itu akan membatalkan tradisi menjunjung tinggi dan memendam sedalam-dalamnya terhadap potensi aib pemimpin di tengah fenomena kemenduaan tebang pilih. Model penegakan hukum anti korupsi akankah ditegakkan dengan melanjutkan tradisi menghujamkan keris Ken Arok karya Empu Gandring pada Akuwu Tumapel Tunggul Ametung. Apakah pemerintah meniru tradisi hukum Korea Selatan, Taiwan, Filipina, RRC, dan Afghanistan.[***]

Sugiyono Madelan
Peneliti INDEF, Dosen Pascasarjana Universitas Mercu Buana, dan Tenaga Ahli Anggota DPR RI.

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya