Berita

Foto/Net

Politik

La Ninna Dan El Nino

Catatan Untuk Jokowi Dan Anies
SELASA, 06 FEBRUARI 2018 | 10:54 WIB | OLEH: NATALIUS PIGAI

NENEK moyang kita telah mengajarkan tentang relasi dengan Alam dalam sejarah panjang evolusi manusia bahwa Banjir dan Kekeringan adalah fenomena alam yang senantiasa datang dan pergi silih berganti.

Di musim panas gejala El Nino mengancam ekosistem dan kehidupan, di musim hujan La Nina mampu memporak-poranda milieu, tempat manusia tinggal, lahir, tumbuh dan berkembang. Kedua fenomena alam ini bisa menjadi murka ketika alam tidak bersahabat, tetapi juga berkat dikala alam lagi riang. Semua bergantung manusia!

Amerika Serikat dan Eropa El Nino bisa memiliki efek positif peningkatan kegiatan ekonomi. Demikian juga La Nina hubungan antara curah hujan dan produktivitas pertanian yang konsisten juga memiliki dampak terhadap  kesehatan seperti El Nino telah dikaitkan dengan efek signifikan pada polusi udara di China Timur.


Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature menemukan bahwa El Nino mungkin memiliki peran dalam 21 persen dari semua konflik sipil antara tahun 1950 dan 2004, dan bahwa konflik sipil baru di daerah tropis dua kali lebih mungkin timbul pada masa El Nino ketimbang La Nina.

Para peneliti menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dari El Nino, dan juga stres akibat bencana alam yang disebabkan El Nino, dapat menekan jiwa manusia, yang terkadang bisa menyebabkan perilaku agresif.

Salah satu efek utama yang terkait dengan El Nino adalah meningkatnya potensi kebakaran di Indonesia juga seperti peristiwa legendaris, Ash Wednesday (abu di hari rabu) pada tahun 1983 dikaitkan dengan El Nino di Australia. Atau peristiwa Black Saturday (2009) terjadi di akhir sebuah La Nina atau di Indonesia banjir senantiasa mengancam saat musim hujan.

Di masa lalu manusia dan alam adalah sahabat abadi, saling butuh dan saling bergantung. Manusia hidup karena  memanfaatkan segala jenis binatang, burung-burung di udara, ikan-ikan di laut, tumbuh-tumbuhan dan segala isinya, demikian pula Alam tidak akan berguna jika tanpa manusia bahkan saling menguntungkan, simbiose mutualisme.

Masyarakat pedesaan adalah manusia yang hidup secara autarkis, hidup dari alam (taken for granted). Alam tidak hanya sekedar sumber kehidupan tetapi juga alam menjadi sumber suci, pusat spiritualitas, sumber transendental antara manusia dan Tuhan pencipta semesta alam. Namun kini telah berubah. Alam hadir ibarat momok yang menakutkan, bak monster leviathan. Mendengar kata Banjir dan kekeringan seakan-akan mengancam kehidupan manusia. Banjir kita selalu berasosiasi tindakan murka alam,  alam bertindak negatif, alam melakukan kejahatan pada manusia. Alam pikir manusia tersandera dengan framing negatif tentang banjir yang mendatangkan kerugian, dampak negatif yang ditimbulkan. Tetapi tidak pernah melihat banjir sebagai fenomena alam yang membawah berkah, dampak positif sebagai konsekuensi dari siklus hidup manusia dalam berinteraksi dengan alam.

Berbagai laporan pemerintah selalu menghitung dampak kerugian yang diderita akibat banjir. Pada tahun 2000 hingga 2001 mencatat kerugian akibat banjir mencapai 1,5 trilyun. Bahkan kementerian sosial mencatat kerugian akibat banjir adalah dua per tiga dari kerusakan dan kerugian akibat bencana alam lainnya. Di tingkat internasional, FAO mencatat Penggundulan hutan akibat bencana 1,3 juta hektar pertahun.

Itulah cara pandang kita terhadap alam. Tidak pernah menghitung atau melihat dampak positif akibat banjir. Wajar, bila cara pandang manusia terhadap alam yang negatif menyebabkan murka.

Pemerintah, politikus, pengamat, kaum terdidik mesti memahami, mengapa rakyat Kecil, miskin dan kumuh penghuni bantaran sungai masih mau menetap dan menolak untuk direlokasi meskipunp bahaya mengancam kehidupan? mereka tidak hanya sekedar para kaum urbanisasi, atau migran juga bukan migran sirkuler perkotaaan,  juga bukan manusia tanpa hunian (tuna wisma) tetapi mereka mendapat manfaat positif hidup dibantaran sungai dan menerima manfaat Karena banjir.

Penghuni aliran sungai menerima manfaat dalam berbagai aspek; ekonomi, interaksi sosial dan budaya juga kemudahan dan aksesibilitas dalam menunjang kehidupan yang mungkin tidak banyak diketahui publik.

Kita semua tersandera dengan stigma buruk tentang musim hujan (La Nina) dengan bahaya banjir dan musim kemarau (El Nino) bahaya kebakaran hutan. Suatu Stigma buruk manusia modern terhadap alam. Sudah saatnya arus balik pemikiran manusia masa lampau bahwa musim hujan dan musim kemarau adalah berkah bukan murka.

Oleh karena itu, cita rasa masyarakat yang hidup di aluran sungai perlu di rekayasa agar Daerah Aliran sungai menjadi menarik, artistik, modern, humanis.

Jakarta adalah Jendela Indonesia, Kota Metropolitan dihuni lautan manusia mencapai 10 juta malam hari dan 12 lebih di siang hari. Pusat urbanisasi dan anglomerasi perkotaan, perkembangan kota besar hingga tiga lingkaran besar, lingkaran dalam kota (inner citi), lingkaran tengah (centre), lingkaran luar (outer citi).

Situ-situ di DKI Jabodetabek sebagai tempat penampungan air juga tidak tertata rapi bahkan banyak rumah kumuh, sekedar membuat pintu air masuk dan keluar.

Problematika Ibu Kota Negara harus menjadi beban bersama baik pemerintah Pusat dan Provinsi. Negara ini tidak harus malu belajar dari kota kota besar di Asia Timur seperti Beijing, Tokyo, Seoul, atau Amsterdam, London, Paris New York di Eropa  bahkan New Delhi, Bogota, Rio de Janeiro juga Kuala Lumpur.

Tiga Belas buah sungai yang mengalir di Kota Metropolitas yang memiliki sumber daya, kekuasaan sebagai Ibu Kota Negara, Anggaran yang melimpah tidak sulit untuk menata menjadi modern.

Pemerintah Pusat dan DKI Jakarta sudah saatnya memikirkan agar 13 sungai di DKI Jakarta membangun kanal-kanal besar dengan rumah-rumah yang artistik bagi penduduk, fasilitas umum, sanggar-sanggar seni, tempat-tempat rekreasi yang humanis dan rama lingkungan agar aliran sungai tidak menjadi momok yang menakutkan tetapi menjadi tempat yang menarik baik dikala musim El Nino tetapi juga musim hujan La Nina. [***]

Staf Khusus Menakertrans 1999-2005

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya