Berita

Bisnis

Para Diplomat Saksikan Langsung Aktivitas di Marunda Refinery

SELASA, 06 FEBRUARI 2018 | 02:21 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Langkah Pemerintah menaikkan target ekspor menjadi 11 persen dari realisasi tahun 2017 adalah tantangan sekaligus peluang bagi industri nasional yang selama ini berorientasi ekspor untuk memperluas pangsa pasar serta ragam produk yang ada.

Demikian disampaikan Managing Director Sinar Mas, Saleh Husin di hadapan 45 orang Atase Perdagangan serta Kepala Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Kementerian Perdagangan yang saat ini telah bertugas maupun yang akan memulai tugasnya., di Bekasi, Senin (5/2).

"Dengan melakukannya secara terencana dan sinergis, kami yakin tujuan tadi dapat dicapai," kata Saleh.


Dalam kegiatan bertajuk 'Pemaparan Terkait Produk Andalan Kelapa Sawit & Kertas Indonesia' yang digelar di lokasi pabrik PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (PT SMART Tbk) Marunda, Bekasi, yang lebih dikenal sebagai Marunda Refinery, sektor industri kembali bersanding dengan para perwakilan lembaga pemerintah seperti Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) serta asosiasi industri seperti Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI).

Saleh berdapat dengan melakukan diskusi di pabrik, pemahaman dan perspektif yang tepat akan industri terkait dapat langsung terbangun.

"Para diplomat kita akan menjadi garda terdepan upaya peningkatan ekspor Indonesia. Dimana dalam lingkup pergaulan internasional, tak ada sebuah isu yang berdiri sendiri. Mereka saling terhubung, dan terkait, satu sama lain, politik, ekonomi dan sosial serta budaya," katanya.

Menurutnya, ekspor produk turunan kelapa sawit dan pulp serta kertas di negara tujuan, akan dibayangi tak saja oleh instrumen hambatan perdagangan, tapi juga isu lingkungan, keberlanjutan, hingga hak asasi manusia, termasuk kampanye hitam oleh organisasi masyarakat sipil, lembaga riset, maupun perusahaan kompetitor. Padahal keseimbangan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan, sekian lama telah menjadi landasan operasi sektor kelapa sawit, pulp dan kertas.

"Itu sebabnya sektor industri dan asosiasi memberikan dukungan penuh dengan membuka diri untuk saling bertukar pendapat, pengetahuan sekaligus pemahaman akan industri perkebunan kelapa sawit terintegrasi, hutan tanaman industri, juga pulp dan kertas. Karena sektor ini yang nanti akan di advokasi para diplomat kita di negara tempat mereka bertugas," papar Saleh.

Ia mencontohkan putusan World Trade Organization mencabut pengenaan bea masuk anti-dumping oleh Uni Eropa terhadap ekspor biodiesel Indonesia adalah contoh dari keberhasilan sinergi Pemerintah bersama sektor industri, juga asosiasi dan dukungan media. Sementara pada waktu berbarengan, Indonesia masih menghadapi usulan Parlemen Uni Eropa yang berniat mengeluarkan biofuel berbasis minyak kelapa sawit.

"Ke depan diplomasi ekonomi sekaligus promosi perdagangan akan menjadi hal yang semakin sering kita praktikkan. Kita berkepentingan agar para diplomat Indonesia yang harus menjalankan peran tambahan layaknya marketing agent, berangkat bertugas dengan pemahaman yang memadai dan tepat," tambahnya.

Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar dunia dengan raihan devisa tahun lalu mencapai hampir 23 milar dolar AS. Sedangkan nilai ekspor yang dibukukan industri pulp dan kertas tahun 2017 mencapai hampir 6 miliar dolar AS.


Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya