Berita

Ilustrasi/net

Nusantara

Senator: Sekolah Masih Terlalu Fokus Pada LKS, Pendidikan Karakter Tak Tersentuh

MINGGU, 04 FEBRUARI 2018 | 04:18 WIB | LAPORAN:

Siswa Pukul Guru Hingga Tewas, Senator Ahmad Nawardi Sebut Sekolah Minus Pendidikan Kesantunan

RMOL. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jawa Timur, Ahmad Nawardi, mengaku terpukul dan menyesalkan perbuatan tidak patut seorang siswa SMA 1 Torjun, Sampang, Madura, yang memukul gurunya, Ahmad Budi Cahyanto, hingga meninggal dunia. Meski pelaku telah diproses secara hukum, namun peristiwa ini, menurut Nawardi, telah mencoreng institusi pendidikan di Indonesia.

“Keprihatinan saya tentu juga menjadi keprihatinan semua orang dan semua pihak di Indonesia. Korban ini pendidik tanpa pamrih, dengan gaji yang tidak seberapa. Bapak korban juga seorang guru puluhan tahun. Mereka keluarga ikhlas yang mendedikasikan ilmunya untuk bangsa,” kata Nawardi melalui keterangan tertulis kepada redaksi, Sabtu (3/2).


Diketahui, korban adalah guru tak tetap pengampu materi kesenian yang disukai siswa. Kegemaran dan kemahiran dalam bidang seni dan musik membuatnya disenangi anak didik dan guru. Bapaknya, M. Satuman Asari, juga mengabdi menjadi guru honorer selama lima belas tahun.

“Mereka mengabdi untuk mencerdaskan anak didik, untuk kemajuan negeri. Saya berharap, kasus ini diselesaikan secara hukum, melalui mekanisme hukum yang berlaku. Kita tahu pelaku kekerasan ini di bawah umur,” katanya.

Nawardi menilai, peristiwa ini menjadi bukti bahwa pendidikan formal di Indonesia belum memaksimalkan nilai kesantunan. Ia khawatir, kejadian pemukulan ini akan merusak marwah pendidikan di Indonesia.

“Kita kehilangan sosok kreatif, seorang guru teladan yang mengajar bukan karena gaji. Kepolisian dan pengadilan memang telah memproses kasus hukum ini. Tetapi, yang juga penting menurut saya, kita diteksi bahwa ada yang salah dari sistem formal sekolah kita,” ungkapnya.

Menurut Nawardi, peristiwa ini telah membuktikan bahwa kerangka pendidikan karakter belum secara maksimal dilaksanakan di sekolah. Padahal, bagi Nawardi, hal itu penting untuk membentuk pemahaman religius dan sosial peserta didik.

“Nilai dari pendidikan karakter belum tersentuh. Sistem sekolah masih terlalu berfokus pada soal materi ajar dan LKS. Padahal, ada prinsip yang harus ditanamkan kepada siswa di luar materi buku, yaitu karakter dan kesantunan,” ungkap mantan wartawan Tempo ini.

Nawardi menambahkan, sekolah harus memperhatikan pendidikan moral. Pendidikan moral, menurutnya, adalah modal awal untuk meneguhkan karakter peserta didik. Kemudian, lanjut Nawardi, pendidikan agama juga sangat penting untuk menanamkan perilaku yang santun.

“Moral dan keadaban tidak melulu dijarkan melalui lembar teks sekolah, tetapi melalui instrumen lain untuk mendukung karakter siswa. Bimbingan Konseling (BK), misalnya. Apalagi, menurut saya, pendidikan agama sangat penting untuk memantapkan kesantunan dan akhlak luhur,” tegasnya.

Nawardi berharap, kejadian praktik kriminal kepada guru tidak lagi terulang di lembaga pendidikan. Sejak dini, peserta didik harus dibekali dengan peneguhan karakter. Tak kalah penting, tambahnya, lingkungan harus kondusif mendukung nilai karakter yang telah diajarkan di sekolah, baik keluarga, kerabat, dan masyarakat.

Dia berharap, sekolah benar-benar membekali peserta didik dengan nilai karakter, baik melalui pengajaran formal atau tidak. Pemerintah melalui Kemendikbud juga harus mengontrol, bila perlu redesain, sistem pendidikan di sekolah. Pastikan enam karakter itu betul-betul dihadirkan di ruang kelas.

“Kemendikbud juga mesti mengatur model perlindungan terhadap tenaga pendidik di sekolah. Baru sekali ini ada siswa memukuli gurunya hingga meninggal. Ini mesti menjadi koreksi dari Kemendikbud, hal apa yang musti dibenah di sistem pendidikan sekolah” tegasnya.

Seperti diketahui, kasus penganiayaan guru kesenian bernama Ahmad Budi Cahyanto oleh muridnya inisial HI terjadi pada Kamis (1/2) sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, Budi Cahyanto sedang mengajar di kelas materi kesenian dan melihat HI tertidur. Budi Cahyanto mendatangi siswa HI yang tertidur dan mencoret pipinya dengan tinta.

Namun siswa HI memukul Budi Cahyanto. Pelaku juga dikabarkan mencegat Cahyanto saat pulang sekolah dan memukul korban. Sampai di rumah, korban langsung tak sadarkan diri dan dirujuk ke RS. Dr. Soetomo Surabaya. Namun nahas, nyawa Budi Cahyanto tak terselamatkan dan ia meninggal di rumah sakit sekitar pukul 22.00 WIB. [san]

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Sekolah Rakyat Jadi Senjata Putus Rantai Kemiskinan

Sabtu, 18 April 2026 | 20:05

Megawati: Lemhannas Bukan Lembaga Pencetak Sertifikat

Sabtu, 18 April 2026 | 19:36

Bahaya Judi Online, Hadir Seperti Permainan dengan Keuntungan

Sabtu, 18 April 2026 | 19:09

Sidak Gudang Bulog, Prabowo Cek Langsung Stok Beras di Magelang

Sabtu, 18 April 2026 | 18:52

Megawati Minta Hak Veto PBB Dihapus, Pancasila Masuk Piagam Dunia

Sabtu, 18 April 2026 | 18:27

Perempuan Bangsa Gelar Aksi Nyata Tanam Pohon untuk Jaga Lingkungan

Sabtu, 18 April 2026 | 17:43

Perjuangan Fraksi PKB untuk Pesantren Berbuah Penghargaan

Sabtu, 18 April 2026 | 17:10

PDIP: Jangan Sampai Indonesia Dianggap Proksi Kekuatan Global

Sabtu, 18 April 2026 | 16:37

wondr Kemala Run 2026, Peserta Berlari Sambil Berbagi

Sabtu, 18 April 2026 | 16:21

Menggugat Algoritma, Pentingnya Lampaui Dogmatisme Hukum Klasik

Sabtu, 18 April 2026 | 15:48

Selengkapnya