Berita

Hukum

Terdakwa Akui Terima Rp 4 Miliar Dari Pembobolan Bank DBS Singapura

JUMAT, 02 FEBRUARI 2018 | 18:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sidang lanjutan kasus pembobolan rekening nasabah Bank DBS Singapura kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Sidang menghadirkan empat karyawan dari perusahaan pemilik rekening yang dibobol, sebagai saksi.

Keempat saksi yang dihadirkan jaksa mengaku tidak mengenal sosok terdakwa Robiatun.

Saksi Andi Laurencius menjelaskan, terdakwa menerima uang yang belakangan diketahui pada tanggal 29 November 2016. Robiatun menerima dan membuka rekening di Bank BRI atas nama PT Jerminggo Global Internasional dan menarik dana sebesar 300 ribu dolar AS atau sekitar Rp 4 miliar.


Saksi baru mengetahui keuangan perusahaannya telah berkurang beberapa bulan setelah diambil oleh Robiatun. Atas kehilangan uang itu, saksi segera melapor ke kepolisian RI dan kepolisian Singapura.

Dalam sidang yang digelar Kamis (1/2) ini, Andi menuturkan bosnya tidak tahu dananya telah berpindah tangan ke rekening BRI milik PT Jerminggo. Pengiriman 300 ribu dolar AS dari Bank DBS ke rekening Bank BRI milik PT Jereminggo dilakukan dengan formulir telegraphic transfer yang dipalsukan.

Robiatun yang kemudian mengambil dana tersebut. Menurut Andi, ada 9 transaksi penarikan yang dia anggap ilegal dimana si pemilik rekening tidak mengetahui dan tidak pernah memerintahkan adanya transfer dari rekeningnya di Bank DBS Singapura salah satunya ke Bank BRI. Hal itu diketahui saksi dari hasil penelusuran Bareskrim Polri.

Setelah dilaporkan, Bareskrim melakukan penelusuran dan berhasil menemukan sumber masalah ada pada Bank DBS Singapura yang telah mentransfer dana ke rekening perusahaan sindikat, salah satunya milik terdakwa Robiatun.

Saksi Andi menyatakan adanya aliran dana dari Bank DBS Singapura bukan hanya ke bank BRI tapi juga ke Mandiri, BCA dan Danamon. Kemudian ada juga 2 aliran dana lainnya ke Hongkong dan Cina.

Ketika kali pertama mengetahui adanya transfer ilegal tersebut, saksi Andi menanyakan kepada saksi kedua, rekannya yang merupakan pemegang kewenangan penarikan dana dari dan ke rekening milik si pelapor.

Dari hasil bukti tranfer Bank DBS Singapura ke rekening Bank BRI, Andi mengetahui ada lima kesalahan besar yang dianggap janggal, diantaranya huruf atau font tidak sama dengan yang aslinya; tanda tangan di copy paste, letak atau posisinya sama di semua transaksi dan tidak ada bedanya; barcode sama semua; tidak mengkonfirmasi pemilik rekening; dan nomor fax tidak dari pemilik rekening alias fax dari orang lain.

"Transaksi tersebut ilegal, tandatangan yang ada dalam bukti tersebut palsu. Sebab yang berhak mengeluarkan permintaan dan surat menyurat adalah saksi 2, dan hanya saksi 2 inilah yang dapat mengeluarkan surat penarikan dana," jelas saksi Andi.

Ketua Majelis Hakim Wendra Rais bertanya kepada terdakwa Robiatun mengenai kebenaran rekening di BRI tersebut miliknya, dan kapan menerima transferan Rp 4 miliar.

"Ya, yang mulia. Yang saya ingat waktu saya masih di luar negeri," jawab terdakwa Robiatun.[dem]

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Brimob Polda Metro Jaya Bubarkan Balap Liar di Pulogadung

Minggu, 17 Mei 2026 | 14:17

Istana Ungkap Cadangan Beras di Bulog Tembus 5,3 Juta Ton

Minggu, 17 Mei 2026 | 14:04

Kasasi Bisa Perjelas Vonis Banding Luhur Ditambah Beban Uang Pengganti

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:45

Putusan MK soal IKN Dianggap Beri Kepastian Hukum

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:39

“Suamiku Lukaku” Angkat Luka Perempuan Korban KDRT

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:14

Prabowo Minta Pindad Rancang Mobil Presiden Khusus untuk Sapa Rakyat

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:14

Penyederhanaan Sistem Partai Tak Harus dengan Threshold Tinggi

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:10

Nasabah PNM Denpasar Sukses Ubah Sampah Pantai jadi Cuan

Minggu, 17 Mei 2026 | 12:59

Hukum yang Layu: Saat Keadilan Kehilangan Hati Nurani

Minggu, 17 Mei 2026 | 12:43

Andrianto Andri: Tokoh Sumatera Harus Jadi Cawapres 2029

Minggu, 17 Mei 2026 | 12:11

Selengkapnya