Berita

Foto/Net

Aktivis Sekarang Tak Kritis Lagi Maunya Tampil Keren & Sugih

JUMAT, 02 FEBRUARI 2018 | 11:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Tiga tahun terakhir ini, sudah sangat jarang aksi-aksi dan kajian-kajian maupun gerakan-gerakan kritis yang dilakukan para aktivis. Terutama oleh para aktivis maha­siswa.

Usia Reformasi memasuki angka 20 tahun. Sejarah itu adalah gerakan mahasiswa dan masyarakat yang kritis terhadap rezim Orde Baru yang otoriter. Perubahan Indonesia yang kian baik adalah cita-cita yang di­inginkan Gerakan Reformasi 1998.

Kini di 2018, Indonesia dini­lai telah kehilangan aktivis-aktivis yang kritis terhadap kondisi berbangsa dan berne­gara. Mantan Aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jhon Roy P Siregar menyampaikan, kondisi saat ini hampir semua sektor, termasuk mahasiswa, sudah kian indi­vidualistik.


Selain itu, sikap rela berkorban dan berjuang kian surut. Bahkan, banyak aktivis mahasiswa saat ini jijik dengan kondisi miskin, namun malah masuk ke ruang-ruang hegemoni kekuasaan dan pengusaha rakus, tanpa berupaya melawan kemiskinan dengan berjuang sungguh.

"Aktivis zaman now sudah enggak mau berjuang. Maunya tampil keren dalam publikasi, cuap-cuap kosong, maunya punya uang banyak, terkenal, aset di mana-mana. Kepengen hidup enak, tanpa usaha. Malu dong. Tapi kok malah mengaku aktivis?"  cetusnya.

Menurut Jhon, kondisi ber­sakit-sakit dahulu yang pernah dialami para aktivis yang kritis di masa lalu, kini sudah diting­galkan generasi zaman now.

Menurut pria yang pernah menjadi Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) di era pasca Reformasi ini, roh pergerakan mahasiswa masih terasa kental di awal-awal reformasi.

"Kalau sekarang, semua kepengen segera jadi pejabat, duduk jadi komisaris perusa­haan, mengekor ke lingkaran kekuasaan yang membelenggu dan membuat daya kritisnya tumpul," keluhnya.

Menurut Jhon, kepentingan kekuasaan yang banyak didomi­nasi para aktivis tua yang sudah merasa nyaman dengan kekua­saan, membutakan para aktivis mahasiswa saat ini. Karena itulah, daya kritis aktivis kian lemah, redup dan tak mampu menyuarakan apa-apa.

Entah ada hubungannya den­gan perkuliahan di kampus-kampus saat ini yang juga sudah tidak membentuk daya kritis ma­hasiswa. Namun, menurut Jhon, budaya membaca dan menulis, serta berdiskusi secara kritis pun sudah hilang di kalangan aktivis mahasiswa zaman now.

"Saat ini aktivis mahasiswa pun seolah gampang dibeli. Urusannya uang melulu. Malas belajar, berdiskusi mengkaji kondisi sehari-hari dan kon­disi bangsa secara obyektif. Atau juga penakut, kalau ada seniornya yang dari lingkaran kekuasaan menelepon, enggak bakal bunyi lagi tuh aktivis. Kita menyebutnya aktivis kardus," tuturnya.

Hal senada disampaikan man­tan Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Medan Badia Sitorus berpenda­pat, aktivis saat ini sudah sangat jarang ditemukan. Padahal, Indonesia sangat butuh aktivis mahasiswa yang kritis, yang berani dan tidak memikirkan diri sendiri.

Menurut dia, saat ini, aktivis sudah masuk ke ruang krisis. "Kalau krisis itu ya miskin. Maka aktivis yang krisis sangat diperlukan juga, dan diber­dayagunakan seturut kemauan pemilik modal dan penguasa, karena mereka kebanyakan miskin. Kalau aktivis yang kritis ya hanya jadi bahan dasar untuk penangkaran manusia saja dibuat," tuturnya.

Mantan aktivis kampus, Anthony Yudha juga mengata­kan, kebanyakan aktivis maha­siswa saat ini sudah eksodus ke pola-pola menguntungkan diri sendiri. Mantan Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gunadarma itu mengatakan, harapan ke­pada aktivis mahasiswa kian menurun.

"Sekarang lebih konsisten orang-orang yang bergerak di NGO (non governmental orga­nization) daripada organ maha­siswa," ujarnya.

Aktivis mahasiswa asal Medan, Sumatera Utara ini mem­pertanyakan pergerakan aktivis mahasiswa hari ini. Menurut pria yang kini melanjutkan studinya di Jakarta itu, sangat tidak jelas ukuran dan pergerakan aktivis mahasiswa saat ini.

"Apa indikasi seseorang bisa dikatakan sebagai seorang ak­tivis? Apakah karena dia aktif mengorganisasikan rakyat? Atau aktif mengorganisir jaringan dan kolega lewat teori-teori kerakya­tan?," tuturnya. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya