Berita

Nusantara

PWI Kepri: Indonesia Ngebut Dengan Tol Laut

Jangan Latah Menulis Kepri Dengan Pulpen Jakarta
SELASA, 30 JANUARI 2018 | 22:09 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Hari Pers Nasional (HPN) bukan sekadar kenduri hari raya wartawan Indonesia. HPN sejatinya juga adalah sebuah sikap.

Begitu disampaikan Ketua PWI Kepri, Ramon Damora, saat kongkow sore bersama pewarta di Batam Center, Senin (29/1). Dia menegaskan HPN ruang berbagi, medan sinergi, gelanggang pertemuan yang seharusnya produktif.

"Ada juga sementara kalangan yang menjadikannya ajang rekreasi. Tapi dapat dipastikan kami di PWI tidak akan pernah mau satu bis dengan mereka," kata Ramon yang saat kongkow didampingi pengurus PWI Kepri lainnya dan pimred beberapa media.


Ramon menambahkan, dalam setiap penyelenggaraan HPN, Pers Kepri selalu mencoba mengusung tagline lokal yang digulirkan secara dialektik ke ranah nasional.

Tahun 2015, misalnya, saat Kepri didaulat menjadi tuan rumah perhelatan puncak HPN secara nasional, masyarakat Pers Kepri medentumkan tema "Mengembalikan Jurnalisme kepada Keanggunan Bahasa" serta, untuk pertama kalinya dalam sejarah pers tanah air, mencetuskan dan merumuskan apa yang disebut dengan "Jurnalisme Maritim".

Pada HPN 2018 yang akan berpusat di Sumatera Barat, jurnalis senior yang juga dikenal sebagai sastrawan nasional ini memaparkan, kontingen Kepri akan menggemakan kampanye "Dengan Semangat Tol Laut, Indonesia Ngebut".

Ramon menjelaskan tagline tersebut lahir dari riuh rendah pergunjingan nasional belakangan ini mengenai eksodus para taipan reklamasi ke Kepri.

"Wartawan cukup menggunakan formula sapu jagat '5W 1H' untuk memverifikasi isu ini. Tak lebih. Tapi masalahnya kau wartawan Kepri. Kau punya cinta dan tanggung jawab berlebih terhadap negerimu. Maka gosip taipan hantu belau itu mesti kau tulis dengan pena ke-Kepri-an, bukan dengan pulpen Jakarta," urai Ramon menghangatkan tensi diskusi.

Melihat kemaritiman Kepri dengan kebutuhan newsroom Jakarta hari ini, sudah pasti merupakan daftar urut nilai berita laik headline. Serpihan-serpihan faktanya pun, sambung Ramon, bahkan bisa dibikin serial yang dijamin viral.

Ada Gubernur Jakarta yang protagonis, karena dianggap tak bisa ditunggangi para taipan untuk mengeruk pasir laut Jakarta. Ada Gubernur Kepri yang, sialnya, seolah jadi antagonis, sebab ditengarai tak kuasa membendung migrasi kelompok taipan yang memilih laut Kepri sebagai pelampiasan.

Ironisnya, buru-buru Ramon menambahkan, aktivitas pendalaman alur di laut Kepri yang berjalan cukup lama, tiba-tiba dituduh tipu muslihat berkedok Perpres No. 16 Tahun 2017, demi menyamarkan syahwat hitam para tycoon reklamasi yang mengeruk pasir laut Kepri untuk dilego ke pulau reklamasi Singapura.

"Dan tiba-tiba kalian wahai wartawan Kepri ikut-ikutan pula tepuk jidat, hantam meja, sambil teriak kampret semua pejabat Kepri...hei, jadi dulu kita meliput ke tengah laut, menyaksikan sendiri bahwa pendalaman alur itu di antaranya bersih-bersih sampah, sedimentasi, BMKT, pokoknya alur pelayaran lama yang mengarah ke Selatan didalami kembali sebagai lintasan alternatif, supaya kapal-kapal tanker itu tak perlu parkir lagi di Selat Malaka yang sesak, tapi mampir cantik di Selat Durian, Karimun, supaya mulus cita-cita mulia tol laut republik ini, itu semua mendadak jadi hoax, hanya gegara kalian mengidap syndrom rendah diri akut di hadapan ghibah-ghibah super-canggih ibukota?" berapi-api Ramon beretorika, tanpa jeda, ciri khas mantan aktivis mahasiswa itu.

Bagi Ramon, biarlah gosip para taipan dan kisah usang ekspor pasir laut ke Negeri Singa itu menemui takdir kebenaran fungsionalnya sendiri. Ketimbang latah jadi pengekor rumor, Pers Kepri lebih baik berjihad mengingatkan Indonesia tentang mimpi tol laut yang, diakui atau tidak, seperti lesu darah.

Ramon mengemukakan, kampanye "Tol Laut, Indonesia Ngebut" akan dibawa oleh kontingen Kepri yang terdiri dari 28 pengurus PWI, Pimpinan Media Masa, dan para tokoh pers.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya