Berita

Dunia

Kunjungan Presiden Jokowi Ke Afghanistan Diapresiasi

SELASA, 30 JANUARI 2018 | 20:16 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Keberanian Presiden Jokowi yang tetap berkunjung ke Afghanistan pasca terjadi teror bom maut di Kabul, Ibu Kota Afganistan, diapresiasi.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pesantren Indonesia (DPP IPI) KH. Zaini Ahmad mengatakan hal itu membuat Indonesia boleh berbangga punya Kementerian Luar Negeri yang bisa meyakinkan ke Presiden bahwa rangkaian kunjungan aman dan tidak akan terjadi apa-apa.

"Presiden Jokowi berani ambil resiko dengan semua kemungkinan bahaya yang terjadi, sebagai bangsa dan rakyat Indonesia kita patut bangga punya pemimpin yang punya mental dan kepedulian yang tinggi," tuturnya kepada wartawan, Selasa (30/1).


Pangasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas yang biasa disapa Gus Zaini ini mengungkapkan kunjungan Presiden Jokowi juga menunjukkan pesan bahwa Islam wajib berdamai dan pantas memimpin dunia, perdamaian.

"Langkah Presiden Jokowi bisa diikuti oleh negara-negara dunia untuk menyampaikan pesan yang sama bahwa menjaga perdamaian dunia adalah tugas bersama," katanya.

Sebelumnya, Jokowi mengungkap alasan tetap mengadakan kunjungan ke luar negeri. Seperti yang dia sampaikan di depan Parlemen Pakistan, Jumat (26/1) lalu, umat Islam adalah korban terbanyak dari konflik, perang, dan terorisme.

"Datanya sangat memprihatinkan: 76 persen serangan teroris terjadi di negara muslim dan 60 persen konflik bersenjata di dunia terjadi di negara muslim. Lebih jauh lagi, jutaan saudara-saudara kita harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik, 67 persen pengungsi berasal dari negara muslim," kata Jokowi lewat akun Facebook resminya.

Menurut Jokowi, ancaman radikalisme dan terorisme terjadi di mana-mana di hampir seluruh negara di dunia. Tidak ada satu pun negara yang kebal, termasuk Indonesia, Pakistan, dan Afghanistan.

"Apakah kita akan biarkan kondisi yang memprihatinkan ini terus berulang terjadi? Tentu tidak. Kita tidak boleh membiarkan negara kita, dunia, berada dalam situasi konflik. Penghormatan kita kepada kemanusiaan, kepada humanity, seharusnya yang menjadi pemandu kita dalam berbangsa dan bernegara," tegasnya.[dem]


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya