Berita

Ilustrasi/Net

Nusantara

Masalah Sampah Belum Menjadi Program Prioritas Anies-Sandi

SABTU, 27 JANUARI 2018 | 22:36 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Pengamat lingkungan perkotaan Jakarta, Ubaidillah, menyayangkan dari 29 capaian program 100 hari Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tidak ada program terkait tatakelola persampahan.

"Padahal masalah sampah mestinya menjadi perhatian serius mengingat Jakarta sudah lama masuk dalam kategori darurat sampah," kata Ubaidllah kepada redaksi.

Dia mengatakan produksi sampah Jakarta sangat besar, mencapai 6.500-7.000 ton per hari. Namun demikian tidak jelas pola penanganannya. Hingga saat ini penanganan sampah bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA) Bantargebang Kota Bekasi dengan ditumpuk secara terbuka (open dumping) dan dilakukan pemadatan controlled landfill.


"Masalah sampah mestinya menjadi perhatian serius mengingat produksi sampah yang sangat besar mencapai 6.500-7.000 ton per hari tidak jelas pola penanganannya dan bergantung pada TPA Bantargebang Bekasi dengan ditumpuk secara terbuka dan dilakukan pemadatan," ujar Ubaidillah.

Ubaidillah memberikan contoh TPA Bantargebang, meskipun ada upaya perbaikan, TPA jenis itu sangat merusak lingkungan dan menjadi sumber berbagai penyakit, mencemari udara, tanah dan air tanah, mencemari irigasi dan badan-badan air, bau yang meresahkan, merusak estetika, penyebab krisis air bersih serta potensi konflik sosial.

Selain itu Ubaidillah meminta produksi sampah yang mencapai 780 ton pada perayaan malam tahun baru 2018, juga harus menjadi perhatian Gubernur DKI Jakarta. Hal itu menurutnya termasuk melestarikan budaya yang tidak baik, sebab masalah sampah adalah cermin budaya bangsa.

"Kedepan pak Anies harus bisa meminimalisir atau menekan angka timbulan sampah pada setiap perayaan malam pergantian tahun baru di Jakarta," imbuh dia.

Sebagai solusi, dia menyarankan dalam manajemen sampah kedepan Pemprov DKI Jakarta sudah harus memikirkan dan merancang model pemilahan sampah secara masif, sehingga jika sampah telah terpilah sesuai jenisnya akan dapat memudahkan dilakukan pemprosesan akhir sesuai jenisnya.

"Misalnya untuk diolah menjadi energi alternatif, untuk dikompos, untuk didaur ulang, untuk dimusnahkan, untuk dijual secara aman dan legal kepada swasta, termasuk memungkinkan untuk mengembalikan sampah kepada produsen," tutup Ubaidillah.[dem]


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Tanpa Rompi dan Borgol Saat Ditahan, DPP IMM Minta Kejagung Tak Istimewakan Febrie

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:43

Belum Sebulan IPO, Direktur RANS Tiba-tiba Mundur

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:30

Revitalisasi Pengurus AMPI Perkuat Konsolidasi Organisasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:26

Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong, KPK Geledah Kediaman Kadis PUPR Bengkulu

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:09

Zulhas: Swasembada Pangan Bukan Sekadar Ekonomi, tapi Kehormatan Bangsa

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:07

PDIP Jatim Hadirkan RedTalks, Wadah Masyarakat Sampaikan Aspirasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:54

Sekolah Nasional Terintegrasi: Resep Medis Kuratif Pendidikan dan Kesehatan Anak

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:39

Tak Pakai Borgol dan Rompi, PB PMII: Febrie Adriansyah Cetak Sejarah

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:35

TB Hasanuddin: Jangan Akali Putusan MK dengan Bebani Pelanggan

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:59

Lodewijk: Ancaman Indonesia Kini Bukan Hanya Perang, tapi Ekonomi hingga Iklim

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:49

Selengkapnya