Berita

RMOL

Nusantara

Apkasi Tolak Rencana Kemendag Mengimpor Beras

SENIN, 15 JANUARI 2018 | 13:08 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) memastikan penolakan atas rencana Kementerian Perdagangan mengimpor 500 ribu ton beras.

Menurut Ketua Umum Apkasi Mardani Maming, saat ini banyak daerah masih mengalami surplus beras sehingga rencana impor itu justru mengancam perekonomian petani. Pemerintah juga semestinya punya data valid soal stok beras nasional sebagai dasar pengambilan kebijakan.  

"Harus dipastikan dulu stok beras kita serta hasil panen ke depan. Apakah benar-benar beras langka, sehingga perlu dilakukan impor dari negara lain," tuturnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (15/1).


Mardani yang juga bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan menambahkan, jika stok beras nasional masih mencukupi namun Kemendag justru mengimpor maka kesejahteraan petani akan terganggu. Sebab, impor berdampak pada harga beras di dalam negeri.

"Masuknya beras dari luar ini akan berdampak pada harga jual beras petani kita. Otomatis harga ini akan mengganggu petani kita karena hasil petani kita akan kalah bersaing dengan beras dari luar tersebut," paparnya.

Dia melihat bahwa tidak seharusnya Indonesia mengalami kekurangan beras. Pulau Kalimantan yang secara geografis berdekatan dengan Jawa sejatinya bisa dimanfaatkan menjadi lumbung beras. Persawahan di Pulau Jawa terus berkurang karena kepadatan penduduk yang terus bertambah. Sementara Kalimantan masih memiliki banyak lahan kosong.

"Nah, tinggal dicocokkan saja jenis beras yang ditanam dengan beras yang dikonsumsi masyarakat Pulau Jawa. Yang saya dengar masyarakat Jawa lebih suka makan beras jenis Ciherang. Tinggal dicocokkan saja di Kalimantan menanam padi jenis Ciherang untuk bisa menopang kebutuhan beras di Pulau Jawa," jelas Mardani.

Mardani pun mengenang ketika era Presiden Soeharto menggulirkan program lahan 1 juta hektare untuk pertanian padi di Pulau Kalimantan. Sayang, program itu justru terbengkalai seiring berakhirnya kepemimpinan Soeharto 20 tahun lalu.

"setelah Soeharto lengser, program lahan sejuta hektare untuk tanam padi itu akhirnya tidak tergarap lagi. Sayangnya saat itu, Kalimantan justru tidak mempersiapkan program tersebut, sehingga akhirnya negara-negara tetangga seperti Filipina dan Thailand yang menyuplai beras untuk kita," ujarnya.

Dia menambahkan, banyak petani Indonesia yang sebenarnya ingin menyuplai beras untuk dalam negeri. Bila perlu justru Indonesia mengeskpor ke negara lain. Kabupaten Tanah Bumbu juga sangat siap menjadi lumbung padi.

"Saat ini petani di Tanah Bumbu hanya mendapatkan pupuk rata-rata tiga empat ton. Kami sudah mencoba untuk mendapatkan bibit dan memberikan pupuk tanaman dengan benar. Kami sudah buktikan di Tanah Bumbu bisa panen sampai tujuh ton asal bibitnya jelas dan pupuknya pun datang tepat waktu," demikian Mardani. [wah]

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Peluang Emas Kuliah Gratis Pendaftaran Beasiswa Unggulan 2026 Resmi Dibuka

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Di Posko Pengungsian, Gibran Pastikan Kebutuhan Anak-Anak Terpenuhi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Prioritaskan Guru PPPK Wilayah 3T Jadi PNS

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:19

Utang AS Terus Membengkak, Tekanan Fiskal Makin Besar

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:16

Jangan Sampai Utang Gerogoti Ruang Fiskal

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:07

Purbaya Siapkan Rp31 Triliun untuk Pengalihan PPPK ke Pusat

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:05

Emas “di Bawah Bantal” Warga RI Capai 1.800 Ton, Nilainya Diprediksi Tembus Rp4.400 Triliun

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:01

Tak Benar Febrie Minta Emas 74 Kg hingga Uang Dikembalikan

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:45

Pemerintah Raup Rp34 Triliun dari Lelang SUN

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Iran Siapkan Serangan Balasan hingga Eropa Jika AS Perluas Perang

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Selengkapnya