Berita

Ilustrasi/Net

Politik

REFLEKSI AKHIR TAHUN

Pemuda Tani HKTI Minta Pemerintah Gandeng Seluruh Elemen

JUMAT, 29 DESEMBER 2017 | 22:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Dewasa ini sektor pertanian Indonesia telah mengalami penurunan dilihat dari berbagai sisi. Hal ini terjadi sebagai risiko dari kebijakan intensifikasi pertanian yang diambil untuk tercapainya target swa sembada pangan selama era Orde Baru.

Secara umum, penurunan tersebut dapat dilihat dari tiga krisis utama yang terjadi di sektor pertanian. Pertama, krisis pengetahuan pertanian berbasis kearifan lokal. Sebagai contoh, petani hari ini mengalami kegagalan dalam menyesuaikan musim tanam dengan musim hama sehingga seringkali terjadi gagal tanam dan gagal panen.

"Di samping itu tidak terjadi regenerasi petani secara sistemik. Anak-anak muda di pedesaan cenderung menghindar menjadi petani karena sektor pertanian tidak cukup menjanjikan bagi anak-anak muda," kata ‎Ketua Umum DPN Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Rina Saadah Adisurya, dalam siaran pers Refleksi Akhir Tahun  kepada redaksi, Jumat (29/12).


Kedua, lanjut Rina Saadah, adalah krisis ekologis. Tanah pertanian saat ini sangat tergantung kepada pupuk kimia sehingga di mana-mana terjadi kekurangan pasokan pupuk. Sayangnya, industri pupuk Indonesia sendiri tidak mampu mencukupi kebutuhan pertanian dalam negeri sehingga mau tidak mau tergantung impor.

"Ketergantungan ini memberikan kontribusi besar terhadap gagal tanam dan gagal panen," ujarnya.

Ketiga, krisis agraria. Terjadi alih fungsi lahan produktif menjadi area industri dan pemukiman yang menyebabkan berkurangnya lahan produktif yang dapat digarap. Tanah pertanian semakin menyempit dan kualitas tanah yang menurun juga menjadi faktor ganda yang membuat produk-produk pertanian Indonesia tidak dapat berkompetisi dengan produk-produk negara lain.

Faktor pasca panen dan pasar juga menjadi masalah yang sampai saat ini belum terselesaikan.

"Seolah-olah permasalahan tersebut sengaja dipertahankan karena menguntungkan pihak-pihak tertentu dalam sistem supply chain industri pertanian," tambah Rina.

Pemuda Tani HKTI menilai, sejumlah krisis tersebut harus diatasi secara komprehensif, dari sisi kebijakan sampai  pendampingan petani di level paling bawah. Karena penyelesaian yang bersifat parsial tidak akan mampu memberi solusi berkelanjutan.

Diingatkannya, sebagai tulang punggung negara, petani harus mendapatkan perlindungan sistemik dari negara dalam bentuk kebijakan dan pendampingan langsung. Termasuk perlindungan dalam menghadapi persaingan dengan produk-produk pertanian impor dengan tetap memperhatikan keunggulan komparatif dan kompetitif secara terencana.

Meski demikian, Pemuda Tani HKTI memberikan apresiasi kepada Pemerintahan Jokowi-JK yang telah mencanangkan program Reformasi Agraria melalui land redistribution. Namun, Pemuda Tani juga melihat bahwa Reformasi Agraria juga bukan semata land redistribution dan pembagian lahan kepada kelompok tani yang tidak memiliki lahan garapan, tetapi lebih dari itu adalah political will yang kuat untuk menyejahterakan petani.

"Bagaiaman membuat Petani tersenyum di negeri sendiri," tandas dia.

Oleh karena itu, Pemuda Tani memiliki komitmen menyukseskan program HKTI yang dipimpin oleh Panglima Tani Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko secara umum untuk mempercepat proses revitalisasi sektor pertanian Indonesia melalui sinergi yang kuat antara petani, permodalan, industri dan pasar. Hanya melalui sinergi yang kuat, pemerintah dapat melindungi petani Indonesia secara terencana dan berkesinambungan.

Pemuda Tani HKTI juga akan memaksimalkan kerja sama dengan ormas-ormas yang memiliki grassroots yang kuat seperti NU, Muhammadiyah, kaum Marhaen dan sebagainya. "Revitalisasi pertanian Indonesia harus menjadi komitmen bersama Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat," pungkasnya.[dem]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya