Berita

Net

Politik

Perindo: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Era Jokowi Cukup Baik

MINGGU, 24 DESEMBER 2017 | 17:48 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Partai Perindo menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia selama pemerintahan Presiden Joko Widodo sudah cukup baik, yakni ada di median 5 persen per tahun (yoy). Secara rasio pendapatan sudah pada nilai USD 3.600 per kapita.

"Itu tandanya rentan dengan jebakan pendapatan kelas menengah. Presiden Jokowi patut mempertimbangkan hal tersebut karena dalam praktik di Korea Selatan pemerintahnya terjebak pada nilai 5.000-10.000 dolar AS per kapita. Tidak ada jalan lain selain mempersiapkan infrastruktur masyarakat industrialis," jelas Ketua Bidang Energi dan Industri Partai Perindo Hendrik Luntungan Kawilarang kepada redaksi, Minggu (24/12).

Dia meloihat, apa yang sudah dikerjakan Presiden Jokowi arahnya menuju industrialisasi. Daya beli masyarakat menurun karena masyarakat lebih memilih menahan uangnya di bank karena banyak pihak yang masih menunggu (wait and see). Hal inilah yang menjelaskan menurunya pertumbuhan kredit. Ekonomi cenderung bergerak lamban.


Hendrik juga mendorong perusahaan pemerintah untuk siap bersaing dengan perusahaan global di tingkat regional Asia. Pengamatan dirinya pada tahun 2017 ini, PDB riil ada pada 5,1 persen dan diasumsikan meningkat 5,3 persen pada 2018. Harapannya, pertumbuhan PDB riil itu disokong dari produktivitas BUMN. BUMN harus mulai melakukan reevaluasi aset dan reformasi struktur bisnis agar lebih professional, efektif dan efisien. Secara perlahan, budaya perusahaan professional harus diterapkan di BUMN Indonesia.

"Untuk periode sekarang ini masih sangat wajar jika pembangunan infrastruktur penunjang industtri masih banyak dikerjakan perusahaan asing. Karena, memang sudah sekian lama geliat industri di Indonesia bergerak lamban. Stimulus pembangunan infrastruktur Presiden Jokowi akan memicu geliat industri dari kota hingga pedesaaan. Dari Industri Pabrikan hingga industri rumahan," tambahnya.

Menurut Hendrik, masih ada satu hal yang perlu dipertimbangkan, terkait kebijakan pajak yang terasa cukup memberatkan kalangan pengusaha dan kelas menengah baru.

"Sebaiknya pemerintah membuat paket kelonggaran pajak. Karena dalam situasi pertumbuhan yang belum progresif, tidak bisa diketatkan dengan beban pajak yang tinggi. Hal itu yang mendorong para investor ragu memutarkan modalnya. Kita berharap ada paket kelonggaran pajak di tahun depan, sehingga proses industrialisasi mulai lepas landas," tutup Hendrik. [wah]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Status Hukum dan Akuntansi Danantara Alami Kebingungan

Minggu, 26 Juli 2026 | 03:23

Koops TNI Habema Berhasil Evakuasi Dua Korban Aksi Kekerasan di Yahukimo

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:57

Pembangunan Papua Harus Dimulai dari Pendidikan Anak

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:42

Pengusutan Diskriminasi WNI di Bali Penting Buat Jaga Wibawa Hukum

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:24

Dari Ekopol Kolonial Menuju Berdaulat

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:57

Generasi Emas Institute jadi Harapan Baru Anak Muda Menatap 2045

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:33

Lahirnya Generasi Hebat OAP Tolok Ukur Keberhasilan PSN Papua

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:10

Polda Jabar Selidiki Penemuan Jenazah Seorang Satpam di Waduk Jatiluhur

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:53

Cegah Bad Mining Lewat Koperasi

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:35

Dana Keistimewaan Yogyakarta Sukses Berdayakan Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:12

Selengkapnya