Berita

Foto/Net

Kesehatan

Ayo, Galakkan Kembali Imunisasi

Cegah Difteri
SELASA, 19 DESEMBER 2017 | 10:41 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Merebaknya kasus difteri di Indonesia membuat pemerintah menyatakan kasus tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Sementara Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengusulkan agar program imunisasi segera digalakkan kembali guna mencegah kasus serupa.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti Pulungan menyebutkan, penyebaran kasus difteri kian bertambah hingga 142 kabupaten-kota di 28 provinsi se-Indonesia. Pihaknya mencatat sebanyak 40 anak yang terin­feksi difteri meninggal, dan lebih dari 600 pasien dirawat di rumah sakit karena terjangkit difteri.


Menurut Aman, kasus kejadian luar biasa (KLB) Difteri ini merupakan yang palingbesar terjadi di dunia. Mengingat, Indonesia memi­liki jumlah penduduk lebih banyak dibandingkan negara-negara yang pernah terjadi KLB difteri sebelumnya.

"Sebelumnya di Rusia, tidak sebesar ini, di India hanya satu dua provinsi, di Brasil han­ya beberapa provinsi, Afrika Selatan juga hanya di beberapa provinsi," katanya di Jakarta.

Dia menerangkan, jumlah kasus tersebut merupakan data dari IDI beserta organisasi pro­fesi di bawahnya, khususnya IDAI, didapat dari laporan organisasi profesi berdasarkan kasus kejadian yang ditemukan oleh setiap profesi.

"Kita meminta sesama pro­fesi, jadi kalau ada kasus, setiap profesi melapor, kita sudah hitung, sama datanya," ujarnya.

Ditekankan Aman, KLB Difteri ini harus ditanggapi secara serius oleh seluruh ka­langan, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, bukan hanya dari kalangan medis. Dia berharap pada seluruh kalangan untuk mendukung program penanggulangan KLB Difteri dengan imunisasi ulang atau Outbreak Response Immunization (ORI) agar tidak lagi menimbulkan kerugian bagi negara.

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBIDI), Ilham Oetama Marsis, men­gatakan banyaknya anak-anak yang menderita difteri di­duga karena tidak lengkapnya imunisasi yang diberikan. Imunisasi lengkap artinya imunisasi difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) harus dilakukan sebanyak 8 kali sampai usia 19 tahun.

Ilham juga menegaskan pemberian vaksin difteri san­gat penting untuk mencegah korban meninggal dunia lebih banyak. Karena itu vaksin harus dilakukan.

"Saya lihat kawan-kawan anti vaksin memang itu tidak berbicara dengan evidence base. Mereka juga coba mendorong verbal sebagai senjata utama dan itu tidak punya evidence base. Kalau kita melakukan se­suatu argumentasi harus denganevidence base yang jelas," katanya.

Untuk diketahui, Kementerian Kesehatan menetapkan wabah difteri sebagai KLB. Data Kemenkes sejak 1 Januari hingga 4 November 2017 menunjukkan, ditemukan 591 kasus difteri dengan 32 kema­tian di 95 kabupaten/kota di 20 provinsi di Indonesia.

Difteri sendiri adalah penya­kit mudah menular, berbaha­ya, dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae. Pasien yang sudah terjangkit difteri umumnya mengalami peradan­gan pada selaput saluran perna­fasan bagian atas, hidung, dan kulit. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya