Berita

Foto/Net

Kesehatan

Suka Geram Kalau Baca Berita Gini, Rasanya Pengen Ambil Kekuasaan

Ditolak Puskesmas, Balita Asal Brebes Meninggal Dunia
KAMIS, 14 DESEMBER 2017 | 10:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pasien miskin yang meninggal gara-gara ditolak bero­bat kembali terulang. Kali ini korbannya menimpa bayi berusia 7 bulan asal Brebes, Jawa Tengah. Kalau sudah begini, apakah cukup hanya meminta maaf?

Bayi malang itu bernama Ica Sofia, putri dari Ibu Emyti. Awalnya, Icha mengalami muntah-muntah dan buang air besar hingga sang ibu membawanya ke Puskesmas. Namun kurangnya syarat Kartu Keluarga (KK) menjadi kendala. Dirinya juga bahkan belum mempunyai Kartu Indonesia Sehat (KIS).

"Petugas bilang tidak bisa terima Icha karena tidak ada salinan KK. Saya sudah menjelaskan Icha be­lum terdaftar KK karena berumur 7 bulan, tapi tetap ditolak. Kondisi anak saya saat itu lemah sekali," ujar Emtiti menceritakan.


Karena tidak adanya pertolongan, putri dari Ibu Emy itu akhirnya meninggal dunia. Kisahnya pun langsung menjadi viral di media sosial dan menimbulkan banyak kegera­man dari warganet.

"Suka geram sudah ada berita macem gini! Rasanya pengen ambil kekusaan buat bela orang-orang macem gini!" kesal akun @tjakrawangsa.

"Kelamaan ngurus administrasi ya, dimana hati-hati nuraninya, nggak tau yang mana yang harus didahulukan ya... atau terlalu banyak pasien yang diurus..., hmm," tulis akun @Rony_Kurniawan8.

"Miris banget liatnya bukanya pertolongan yang di dahulukan.. di­mana jiwa kemanusiaanya," kecewa akun @ekapradika541.

"Hapus aja syarat administrasinya, syarat utama berobat haruslah pasien sakit itu ja. Tapi kalau tu­juan binis ya sudahlah," kata akun @0rang_Udik.

"Ini bukan sekedar kesalahan puskesmas, kesalahan total penguasa dan sistem yg ada. Ini akan berulang kalau kita masih mempertahankan­nya," cuit akun @Zahranthaqif.

"Buat pembelajaran untuk puskes­mas yg lain. Seharusnya dalam keadaan darurat administrasi nomer sekian," kata akun @IfulAlfiansi.

"Kenapa tidak jd pelajaran? Dan terus terulang! Kasus seperti ini kerap terjadi," sesal akun @azzizam06.

"Duka dan prihatin mendalam... RS yg minus misi sosial, masifnya korupsi, dan gemarnya masyarakat "menghambur-hamburkan" uang­nya, pemerintah perlu membentuk lembaga gerakan2 sosial kemanu­siaan dan toleransi," tulis akun @ Idiotan2.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ikut geram dengan kabar tersebut. Ganjar mengatakan sudah menghubungi Bupati Brebes terkait proses penanganan medis sang bayi yang akhirnya meninggal. Dia mem­inta klarifikasi kepada sang Bupati tentang masalah administrasi yang merenggut nyawa bayi.

"Bupati saat dipanggil langsung datang, lalu Kepala dinas kesehatan (kadinkes) melakukan cek regulasi agar ke depannya bisa lebih cepat penanganan," kata Ganjar Pranowo di halaman kantor Gubernur Jateng, kemarin.

Gubernur asal PDIPerjuangan ini mengemukakan, seharusnya dari pihak puskesmas mendahu­lukan penanganan dari pada ad­ministrasi. Alasannya karana jarak rumah pasien dan puskesmas tidak jauh, sehingga dapat ditangani lebih dahulu.

"Saat saya tanya, ternyata rumah­nya dekat, lalu puskesmas minta ambil dokumen, namun malah tidak hadir. Kejadian ini kita belajar bersama, seharusnya ‘tetangga’ kan sudah kenal. Cara ini harus diper­baiki dan regulasi dipermudah," terang Ganjar.

Puskesmas Sidamulya yang berada di kecamatan Wanasari, Brebes yang telat menangani bayi 7 bulan yang meninggal mengaku lalai dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP). Lalai yang diakui merupakan permasala­han administrasi padahal kondisi bayi dalam keadaan darurat.

"Saya melakukan klarifikasi ke karyawan yang bertugas. Dari keterangan, petugas mengakui ada kesalahan saat melayani pasien, lalu juga sudah mengaku melanggar SOP pelayanan," kata Kepala Puskesmas Sidamulya dr Arlinda.

Bupati Brebes Idza Priyanti sudah berkunjung ke rumah korban. Dia meminta maaf atas keteledoran yang terjadi, hingga menyebabkan ang­gota keluarganya meninggal dunia.

"Kami dari Pemerintah Kabupaten Brebes, meminta maaf sebesar- be­sarnya atas kejadian ini," ucap Idza memohon.

Warganet meminta kepada pemer­intah untuk bertindak tegas kepada pelaku yang bertanggung jawab atas kematian bayi tersebut. "Kalau sudah begini, apa cukup dengan meminta maaf saja? Kasus seperti ini sudah kerap terjadi," kata akun @soemartono8.

"Pecat kepala dinasnya, pecat kepala puskesmasnya @ganjarpra­nowo," tulis akun @first_dhani.

"Seharusnya semua layanan masyarakat apalagi yang dah diang­kat sumpah, apabila berbuat Salah & menghilangkan nyawa orang diberikan HUKUMAN MATI," Kesal akun @rajoendra.

Kurangnya sosialisasi program kesehatan terhadap masyarakat kecil menjadi kendala administrasi bagi rakyat yang mau berobat. Warganet juga berduka dari kepergian sang bayi dari rumitnya regulasi keseha­tan di daerah.

"Birokrasi yang berbelit-belit. Bussines oriented. Apakah SOP nya harus didahulukan administrasi daripada pasien?" tanya akun @ tyaskw.

"Innalillahi wa innailaihi roji’un... Akankah ini akan berlanjut sampai kiamat.. Mohon tindak lanjutnya Bapak/Ibu Yth," minta akun @ khoirurroziq. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya