Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Tolak Pesanan Novanto, Bamus DPR Diapresiasi

RABU, 13 DESEMBER 2017 | 04:22 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Langkah Bamus DPR menolak nama ketua DPR yang direkomendasikan Setya Novanto dan menyerahkan penunjukkan ketua DPR kepada internal Partai Golkar dinilai tepat.

Bamus DPR dianggap telah merespon dinamika yang terjadi di internal Partai Golkar, dimana 60 dari 91 kader Golkar yang ada di DPR menyatakan menolak nama ketua DPR pesanan Novanto.

"Langkah Bamus DPR dan 60 anggota Fraksi Golkar yang menggalang tanda tangan untuk menolak penunjukkan ketua DPR oleh Novanto patut diapresiasi sebagai penyelamat integritas demokrasi," kata Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima) Sya'roni kepada redaksi, Selasa (12/12).


Tidak terbayang, sebut dia, bila yang menjadi ketua DPR atas penunjukkan orang yang ditahan KPK. Tentu ini akan menjadi bahan tertawaan karena dianggap sebagai dagelan politik menjelang tutup tahun.

Dikatakan dia, ketua DPR adalah posisi yang terhormat dan yang memimpin lembaga terhormat sehingga penunjukkan ketuanya pun harus dilakukan secara terhormat.

"Tidak pantas jika seseorang yang sudah berstatus sebagai tersangka korupsi masih memiliki kewenangan menentukan Ketua DPR yang baru. Apalagi penunjukkan itu diduga terkandung motif terselubung untuk melepaskannya dari jerat hukum yang saat ini membelitnya," jelas Sya'roni.

Dari sisi legalitas, katanya, memang penunjukkan oleh Novanto tidak menabrak aturan apapun namun dari segi etika politik jelas menabrak norma kepatutan. Sudah menjadi pemahaman umum, Sya'roni menambahkan, siapapun yang ditahan, apalagi karena tersangkut kasus korupsi, maka sudah sepantasnya kewenangannya dilucuti juga.

"Namun, lucunya di negeri ini, orang yang sudah mendekam di tahanan KPK masih bisa leluasa mengotak-atik posisi ketua lembaga tinggi negara. Maka ke depan perlu dibuatkan aturan hukum agar kejadian serupa tidak terulang kembali," katanya.

Selain itu, katanya, Partai Golkar yang notabene merupakan perwujudan lembaga demokrasi, maka karakteristik dan mekanisme pengambilan keputusan soal siapa ketua DPR pengganti Novanto juga harus melewati proses demokrasi. Setiap keputusan harus diambil melalui rapat bersama dan bersifat kolegial, bukan main tunjuk seperti kerajaan.

"Adanya penunjukkan langsung nama tertentu untuk menjabat ketua DPR mengesankan ada putera mahkota dalam tubuh Partai Golkar. Ini seharusnya dihindari oleh Partai Golkar," tukas Sya'roni.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya