Berita

William Yani/Net

Nusantara

PDIP Tidak Suka Anies Jadikan Djarot Sebagai Tameng

SELASA, 12 DESEMBER 2017 | 13:42 WIB

. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan kenaikan bantuan keuangan kepada partai politik pada APBD DKI 2017 sudah ditetapkan sejak era kepemimpinan Djarot Saiful Hidayat.

Pernyataan Anies seolah menjadikan kebijakan Djarot 'tameng' guna menghindari keberatan Kementerian Dalam Negeri terkait kenaikan bantuan dana parpol pada APBD DKI 2018.

Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Draksi PDIP, William Yani menyayangkan sikap Anies tersebut. Sebab, kata William jika sejak awal Anies menolak kenaikan dana parpol tersebut, maka dirinya bisa saja merubah sebelum dikirim ke Kemendagri.


"Begini, oleh tim gubernur kan usulan harus dipelajari apakah bisa dikurangi, ya bisa bisa saja. Kan gini, dia (Anies) punya tim, diperiksa anggaran berapa berapa, oke Rp 4 ribu masuk enggak sih, kalau dianggap enggak masuk, ya dikurangin monggo-monggo saja," ujar William saat dihubungi redaksi, Selasa (12/12).

Namun, William menilai sebenarnya kenaikan dana parpol sebesar Rp 4000 per suara dari sebelumnya Rp 410 per suara, merupakan hal yang wajar. Apalagi APBD DKI 2018 mencapai Rp 77,1 triliun.

Dengan segala kompleksitas Jakarta kenaikan itu masih wajar dan tidak akan membebani APBD.

"Apalagi, dengan begitu penggunaannya akan lebih jelaslah karena anggaran itu akan dipertanggungjawabkan masing-masing parpol. Misalnya, parpol dapat Rp 10 miliar tapi digunakan hanya Rp 7,5 miliar, nah Rp 2,5 miliar harus dikembalikan," pungkas William.

Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri meminta Pemprov DKI Jakarta merivisi terkait tingginya kenaikan bantuan dana parpol pada APBD DKI 2018. Kenaikan menjadi Rp 4.000 per suara dinilai tidak sesuai dengan PP 5/2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik.

Anies sebelumnya menyebutkan, kenaikan dana parpol dalam APBD DKI 2018 mengikuti ketentuan dalam APBD-P 2017 yang diteken mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. [bili/rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya