Berita

Asman Abnur/Net

Hukum

Menteri Asman Diingatkan Kasus Lempar Duit Ke Toilet

Angkat Istri Eks Sekretaris MA Jadi Staf Ahli
SENIN, 11 DESEMBER 2017 | 09:53 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Peringatan buat para menteri. Hati-hatilah kalau memilih pejabat. Tak boleh ngasal. Selain pintar, pejabat haruslah seorang yang berintegritas. Jangan sampai seperti Menpan RB Asman Abnur yang memilih Tin Zuraida, istri eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) sebagai Staf Ahli KemenpanRB. Warganet mengingatkan Asman bahwa Tin pernah kena kasus buang duit di toilet.

Kabar pengangkatan Tin sebagai Staf Ahli itu diketahui dari website resmi KemenpanRB. Jika mengklik profil staf ahli, maka munculah nama Dr. Tin Zuraida SH M.Kn. jabatannya adalah Staf Ahli bidang politik dan hukum. Di website juga tertera nomor telepon rumah. Hanya saja, tak ada foto dalam profil tersebut.

Selintas tak ada yang aneh dengan profil tersebut. Apalagi jika melihat gelar akademik yang rangkap depan dan belakang namanya. Dr, Sarjana Hukum, dan Master Kenotariatan. Namun, akan menjadi aneh ketika melihat rekam jejak Tin yang pernah berurusan dengan KPK.


Bahkan jika ditelusuri, namanya pernah menghiasi berbagai headline berita cetak dan online karena aksinya membuang duit di toilet kamar mandinya.

Ceritanya, Tin ini adalah istri dari Sekretaris MA Nurhadi. Pada awal 2016, Nurhadi ikut berurusan dengan KPK setelah lembaga antirasuah itu melakukan OTT Panitera PN Jakpus Edy Nasution atas dugaan menerima suap Rp 1,5 miliar dari bos Paramount Enterprise yang merupakan anak perusahaan dalam lingkup Lippo Group, Eddy Sindoro.

KPK mengembangkan kasus ini dan memeriksa Nurhadi dan istri. Tak hanya itu, rumah Nurhadi di Kebayoran Baru turut digeledah. Saat digeledah itu, Tin panik dan merobek sejumlah dokumen serta membuang duit ke toilet kamar pribadinya. Tin kaget dan segera merobek berkas dan membuang uang asing ke toilet dengan nilai Rp 1,7 miliar.

Singkat cerita, Nurhadi mengundurkan diri sebagai Sekretaris MA. Nurhadi dan Tin diperiksa berkali-kalli oleh KPK terkait temuan-temuan tersebut. Setelah itu, kabar Nurhadi dan Tin tak terdengar lagi dan kembali menjadi perbincangan setelah diketahui diangkat menjadi Staf Ahli KemenpanRB.

Sontak saja, kabar ini jadi sorotan warganet. Jika merujuk Undang-undang Aparatus Sipil Negara, jabatan Staf Ahli merupakan Jabatan Pimpinan Tinggi Madya. Tak sembarang orang bisa menduduki jabatan ini. Harus punya kualifikasi kepangkatan dan pendidikan. Siapa yang akan duduk di kursi ini dipilih Presiden atas usulan menteri.

Rakyat Merdeka berusaha menghubungi Kebiro Humas KemenPAN, Herman Suryatman untuk mengkonfirmasi soal ini. Sayang nomor yang dihubungi tidak tersambung.

Gara-gara ini, netizen pun protes. Akun @suherman2 geleng-geleng kepala setelah membaca kabar ini. "Apa tidak ada orang lain. Menpan tidak peka dengan isu yang ada," tulisnya di kanal berita online. Senada disampaikan Iyus Kadarusman, yang masih belum percaya dengan kabar tersebut. "Apa benar ini? Kalau benar dunia sudah terbalik," sindirnya.

Sementara akun @matagraphics menilai tidak aneh dengan keputusan tersebut. "Wajar suaminya pernah jadi tokoh. Tapi seharusnya jabatan staf ahli diisi oleh orang yang pintar, berkarakter dan berintegritas," ujarnya di laman berita yang sama.

Senada disampaikan @ekowidodo. Kata dia, KemenPan harusnya menjadi contoh dalam memilih pejabat. "Kok malah pilih orang kayak gini," ujarnya, sedih. "Kok bisa kecolongan. Parah," sebut @panjikkowik.

Akun @werdi mengatakan pangkal masalah ini adalah UU ASN yang menurutnya banyak pasal-pasal pembodohan. "Makanya UU ASN perlu direvisi termasuk soal pengangkatan pejabat."

Pola rekrutmen bukan cuma urusan administratif akademia. "Tapi skill dan integritas," ungkapnya. "Atau perlu dicek kesehatan menteri kita," celetuk @triAnandaKurniawan.

Sementara akun @plics curiga bahwa pengangkatan tersebut memang disengaja. "Mungkin karena sudah berpengalaman kumpulkan duit dan buang duit di WC. Haha..," tulisnya.

Serupa disindirkan @donyvijaay "Keluarga koruptor dijadikan konsultan untuk sharing ilmunya. Gimana cara nyolong duit negara dan menghindari kok akan diajarkan semua ke pejabat ASN," tulisnya. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Jokowi Intervensi Prabowo soal Kabinet Jelang Pelantikan Presiden

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:13

Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:48

Rezim Baru dan Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:41

Satu Polisi Tewas Dibacok saat Gerebek Bandar Sabu di Katingan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:18

Jokowi Kecewa Berat Roy Suryo-Dokter Tifa Tak Ditahan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:15

Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:26

Spanyol Lolos ke 16 Besar setelah Gasak Austria 3-0

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:12

Raja Juli Antoni Dituntut Terbuka soal Kasus Bupati Kuansing

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:03

Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan 40 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:30

Sangat Aneh Kejaksaan Belum Periksa Jokowi

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:17

Selengkapnya