Berita

Ustad Abdul Somad/Net

Nusantara

Saya Bukan Pemberontak Saya Lulus Penataran P4

Ustad Somad Beberin Tragedi Di Bali
SENIN, 11 DESEMBER 2017 | 09:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ustad Abdul Somad mengklarifikasi geger penolakan dirinya di Bali saat hendak melakukan safari dakwah, Jumat (8/12). Perasaan sang Ustad pun campur aduk. Mulai dari dipaksa bangun dari tidurnya, hingga bernyanyi lagu Indonesia Raya...

Berikut ceritanya. Disarikan dari rilis yang diterima Rakyat Merdeka. Kecurigaan sudah dirasakan Ustad Somad saat hendak terbang ke Bali. Pada Kamis (7/12), sehari sebelum jadwal ceramah di Bali, Ustad mengaku mendapat info kurang sedap dari jejaring media sosial.

Berkali-kali Ustad meminta klarifikasi dari panita apakah kehadiran dirinya baik-baik saja terhadap warga Bali. Hingga akhirnya, muncul pernyataan syarat dia diterima warga Bali adalah jika Ustad mau berikrar (setia NKRI) di Rumah Kebangsaan.


"Saya WAKetua Panitia: "Pak, kalau mereka tetap meminta saya ikrar kebangsaan. Saya tidak hadir." Pak Ketua Panitia menjawab: "Kita masih dialog dengan Polda," demikian Ustad Somad dalam keterangannya,  kemarin.

Somad punya alasan menolak berikrar di Rumah Kebangsaan. Baginya, urusan cinta NKRI sudah tuntas. Tidak perlu ada keraguan atas dirinya. Dia pun menolak penetapan syarat oleh Komponen Rakyat Bali (KRB).

Ada tiga poin penegasan kenapa Somad menolak berikrar di Rumah Kebangsaan. Pertama, dia menegaskan kalau dirinya bukan pemberontak. Kedua, nama sang Ustad tidak terdaftar masuk sebagai ormas terlarang.

"Ketiga, saya mendapat beasiswa Mesir-Indonesia tahun 1998 setelah lulus Pancasila dan P4. Saya lulus tes PNS 2008 karena bukan anti Pancasila. Sampai sekarang mengajarkan cinta kebangsaan dari kampus sampai desa terpencil," terangnya.

Hari pun berganti, Jumat (8/12), tepatnya pukul 00.15, Somad kembali menanyakan keputusan panitia tentang ceramah di Bali. Jawaban pun masuk pukul 04.17. Ketua pantia, mengkonfirmasi jika acara jadi digelar. "Saya fahami dari WA ini bahwa masalah clear," tambahnya.

Singkat cerita, Jumat jam satu siang, Ustad tiba di Bandara Bali. Panitia pun menyambut, dan mengantarkannya ke Hotel Aston, untuk makan dan istirahat sejenak. Tiba-tiba, jam empat sore dia dibangunkan dari tidurnya dan dijelaskan bahwa tempat menginap sudah dikepung massa. "Saya curiga akan disidang. Saya minta tim beli tiket. Kita pulang, karena ini di luar kesepakatan, Kelihatannya kita dijebak," tulisnya.

Situasi pun memanas. Area lobby hotel dipenuhi ormas, baik di luar dan di dalam gedung. Sang Ustad pun dievakuasi ke salah satu ruang di hotel Aston. Disana sudah menunggu sekitar 10-15 orang. "Mereka meminta saya berikrar," katanya.

Nah, kabar Ustad Somad menolak berikrar ini memang heboh di jejaring sosial. Ramai tudingan, jika Ustad tidak pro-NKRI. Saat itu juga beredar kabar jika Ustad menolak mencium sang saka Merah Putih, dengan alasan haram.

Namun Ustad Somad membantah tuduhan ini. "Saya menolak berikrar mereka melontarkan kata-kata tidak layak: "Ngeles!," "Seperti PKI," "Panitia mendatangkan ustad otak SD," "Pulangkan saja!." Saya memilih pulang. Saya kembali ke kamar hotel untuk siap-siap pulang ke airport," katanya.

Begitu, Ustad Somad minta pulang, para panita geger. Mereka ingin, agar acara ceramah di malam hari yang sama bisa terealisasikan. "Ketua PW NU Bali yang dari awal mendampingi menangis memikirkan apa yang akan terjadi kalau saya pulang," katanya.

Singkat cerita, ada seorang polisi masuk ke tempat ustad berada dan menyampaikan ada jalan belakang hotel menuju mobil jika ingin meninggalkan hotel karena pintu depan tidak terkendali.

Dikabarkan saat itu Kapolres dan Dandim setempat masuk, meminta agar Ustad tak pulang. Apalagi, di lain lokasi kabarnya ada 5000-an jemaah di masjid an-Nur. Untungnya, umat tidak menggeruduk hotel Aston.

Di hotel situasi mulai panas. Ustad Somad diminta meninggalkan kamar hotel menuju ruangan mediasi. "Pak Kapolres memberikan sambutan singkat. Gus Yadi membawa bendera, dicium semua yang ada di ruangan," akunya.

"Pengunjuk rasa bergemuruh. Pengawalan ketat. Pengunjuk rasa tetap berteriak. Nyanyikan dari hati. Jangan di mulut saja!. Menyanyikan Indonesia Raya," tantang demonstran.

Selesailah sudah peristiwa kurang menyenangkan yang menimpa ustad. Selepas Isya, Ustad pun memenuhi janjinya berceramah di Masjid An Nur yang telah mempersiapkan segalanya jauh hari. Ustad Somad diminta ceramah 100 menit.

Tabligh Akbar berjalan lancar. Tak gentar, esok harinya, Sabtu (9/12) Ustad Somad juga melakoni kajian shubuh di masjid Baiturrahmah. Acara berlangsung lancar. Di hari itu, dia menyambut tamu-tamu di hotel. Menjelang maghrib hadir PW NU, Muhammadiyah, MUI Bali, GNPF dll. "Ba'da Isya ke Masjid Baiturrahmah tabligh Akbar terakhir," katanya. Hari Minggu Ustad Somad bertolak dari Bali.

Nah, saat berada di Bali, Ustad Somat dirudung fitnah. Mulai dari anggapan anti NKRI dengan penolakan ikrar, hingga tudingan dirinya tidak berani pulang karena sudah termakan honor acara di Bali.

"Saya sampaikan ini fitnah. Semua honor di Bali sudah saya kembalikan ke Ketua Panitia, Kami orang Riau walau tidak kaya masih tumbuh sebatang dua batang pokok sawit yang menghantarkan kami ke Kairo tahun 1998 saat 1 Dolar Rp 20.000.-karena ongkos dibebankan ke siswa," tegasnya.

Seperti diketahui, Ustad Abdul Somad dikabarkan mendapat penolakan dari sejumlah warga Bali pada Jumat lalu. Dia saat itu hendak melakukan rangkaian safari dakwah. Penolakannya disebut-sebut karena beredar kabar Ustad Somad anti-NKRI. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya