Berita

Ustadz Somad/net

Nusantara

Abdul Somad: Isu Saya Anti NKRI Dibikin Orang Yang Tidak Punya Paket Internet

SABTU, 09 DESEMBER 2017 | 01:16 WIB | LAPORAN:

Tahun 1998 ketika hendak belajar ke Mesir, Abdul Somad bersama sekitar seribu calon mahasiswa Indonesia yang akan sekolah ke Mesir mengikuti berbagai tes, antara lain tes Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Lalu setelah kembali ke tanah air dan ingin bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi negeri, Ustadz Abdul Somad pun kembali ikut tes mengenai kecintaan dan kesetiaan pada NKRI.

Kisah itu disampaikan Ustadz Abdul Somad saat memberikan ceramah di Masjid An Nur di Jalan Diponegoro, Denpasar, Bali, Jumat malam (8/12) untuk menjawab isu yang mengatakan dirinya anti NKRI.


Dia juga mengatakan, sampai kini, setidaknya dua kali dalam setahun, dirinya berkunjung ke desa-desa terpencil di pelosok untuk berdakwah dan bersama masyarakat mengibarkan bendera merah-putih.

Pada bagian awal ceramahnya, Ustadz Abdul Somad mengatakan bahwa dirinya tidak percaya masyarakat Bali menolak kehadirannya. Kalau pun ada, itu adalah oknum yang tidak mendapatkan informasi yang benar.

"Internet ini sarang isu. Tapi karena internet juga masyarakat Muslim Bali mengenal saya. Jadi sikap saya pada internet ini benci tapi rindu. Mau dirindu, dia penyebar isu. Mau dibenci, masyarakat kenal kita karena dia," ujar Ustadz Abdul Somad.

"Maka jalan tengahnya adalah tabayyun. Diambil dari kata bayan, (yang artinya) jelas. Maka kalau ada info yang tidak jelas, mari minta kejelasannya," sambung Ustadz Abdul Somad lagi.

Dengan demikian, saat muncul isu yang mengatakan dirinya ditolak di Bali karena anti NKRI dan radikal, Ustadz Abdul Somad tidak percaya.

"Jadi kalau ada isu saya anti kebhinnekaan, anti NKRI, ini pasti dibuat oleh orang yang tidak punya paket (data untuk akses internet)," demikian Abdul Somad disambut tawa jemaah yang menghadiri ceramahnya itu.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah organisasi masyarakat di Bali yang menamakan diri Komponen Rakyat Bali (KRB) berunjuk rasa di depan Hotel Aston, Denpasar. Massa, yang membawa senjata tajam seperti parang meminta agar Ustadz Somad diusir dari Bali. Massa awalnya hanya disilakan berunjuk rasa di depan hotel tetapi kemudian merangsek masuk. Polisi terpaksa memediasi perwakilan massa dengan pihak panitia.

Namun mediasi buntu. Kelompok demonstran meminta Ustadz Somad mengikrarkan janji sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di bawah Alquran yang akhirnya dipenuhi. Tapi tuntutan lain terus datang dari demonstran. Begitu negosiasi buntu, Ustadz Smad dilarikan ke kamar hotel, sementara massa di luar hotel merangsek ke dalam ruang pertemuan.

Beberapa massa organisasi, seperti Ganaspati dan Laskar Bali, tampak memadati ruang pertemuan. Bahkan Sekretaris Jenderal Laskar Bali, I Ketut Ismaya, turun langsung memimpin anak buahnya. Ia meminta Kepolisian tak bertele-tele dalam memediasi.

Setelah negosiasi yang alot, akhirnya Ustadz Somad diizinkan untuk menggelar safari dakwah di Pulau Bali. Massa memberikan izin setelah Ustadz Somad menyanyikan lagu Indonesia Raya, sesuai permintaan massa. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan Ustadz Somad di hadapan pendemo. Meski berada di bawah tekanan massa, terlihat Ustadz Somad begitu khidmat dan tenang menyanyikan lagu kebangsaan itu.

"NKRI harga mati," teriak Ustadz Somad usai menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Sedianya Ustadz Somad dijadwalkan berceramah dalam forum peringatan Maulid Nabi Muhammad di Masjid An-Nur di Jalan Diponegoro, Denpasar, pukul 20.00 WITA. [san]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya