Berita

Marsekal TNI Hadi Tjahjanto/net

Pertahanan

Menanti Kiprah Panglima TNI "Generasi Millenial"

JUMAT, 08 DESEMBER 2017 | 18:16 WIB | OLEH: ALDI GULTOM

Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sudah resmi menjabat Panglima TNI menggantikan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Baru saja, sekitar pukul 16.54 WIB pelantikan sekaligus pengambilan sumpahnya dilakukan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta.

Dengan demikian, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto adalah Panglima TNI kedua yang berasal dari unsur Angkatan Udara setelah Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto.

Djoko dilantik sebagai Panglima TNI oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 13 Februari 2006, dan menjabat Panglima TNI selama 2006-2007.


Yang membedakan dengan pergantian Panglima TNI sebelum-sebelumnya, penunjukkan Presiden Jokowi terhadap Marsekal Hadi yang berujung pelantikan hari ini menandakan Jokowi memaksakan regenerasi yang ekstrem di tubuh militer. Sama halnya dengan yang ia lakukan di tubuh Kepolisian RI.

Marsekal Hadi adalah lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1986. Sedangkan Gatot yang digantikannya merupakan lulusan Akademi Militer 1982. Panglima TNI sebelum Gatot adalah Jenderal TNI (Purn) Moeldoko yang merupakan lulusan 1981.

Menanggapi pemangkasan besar yang dilakukan Jokowi, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo melancarkan pujian.

"Itu suatu keputusan bijak dan sesuai regenerasi yang bagus," ujar Gatot saat ditemui usai pengarahan prajurit di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (7/12).
 
"Kalau saya diganti angkatan 83 dan saya menjabat hampir tiga tahun, enggak kebagian yang angkatan 88," tambah Gatot waktu itu.

Dua hari sebelumnya ketika ditemui di Istana Bogor, Gatot malah menyebut keputusan Jokowi atas Marsekal TNI Hadi Tjahjanto adalah untuk menghadapi tantangan berat tahun politik yang diwarnai Pilkada Serentak (2018), Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden (2019). .

"Regenerasi kader-kader kepemimpinan TNI sudah melalui tahapan yang matang dan dipersiapkan," tegas Gatot.

Hari pertama menjadi Panglima TNI, Marsekal Hadi langsung dihadapan pada sederet tantangan tugas yang harus diselesaikannya, yang notabene cukup berat.

Mengutip analis militer Indonesia, Connie Rahakundini Bakrie, sektor-sektor yang harus jadi sasaran perbaikan adalah mulai dari soliditas, profesionalisme, kesejahteraan, reformasi peradilan militer, penanganan bisnis tentara, akuntabilitas anggaran dan ketundukan pada supremasi sipil.

"Episode pergantian Gatot sebagai Panglima TNI merupakan momentum penataan secara utuh organisasi dan kepemimpinan TNI," jelas Connie dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (23/11).

Ditambahkan Connie, Panglima TNI yang baru harus sosok yang terbuka, reformis dan satu padu dalam langkah dan perbuatan dengan Presiden Joko Widodo sebagai Panglima tertinggi TNI.

Soal keterbukaan kepada publik, banyak yang meyakini Marsekal Hadi memiliki sikap itu. Dugaan ini berangkat dari rekam jejak Hadi sebagai Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara selama 2013-2015. Bisa dikatakan bahwa Hadi pernah terbiasa membangun komunikasi yang baik dengan publik lewat peran insan pers dan media massa.

Sedangkan tentang sikap satu padu dalam langkah dan perbuatan dengan Presiden Jokowi, Marsekal Hadi Tjahjanto dianggap mempunyai modal yang cukup. Ia pernah menjabat Sekretaris Militer Presiden di masa kepemimpinan Jokowi (2015-2016) sebelum diangkat menjadi Irjen Kementerian Pertahanan. 

Banyak kalangan pemerhati dunia militer nasional berpandangan masalah yang dihadapi Hadi lebih besar dari sederet isu di atas. Disebutkan bahwa tantangan utama Hadi adalah terkait postur pertahanan yang dapat menjamin keamanan wilayah perbatasan RI.

Jaminan keamanan lewat postur pertahanan yang mempunyai deterrence effect atau efek gentar besar dibutuhkan untuk menjaga wilayah yang rawan diganggu kekuatan asing. Contoh yang paling menonjol adalah Laut Natuna (Laut China Selatan). Dengan postru pertahanan berdaya gentar tinggi, tentu insiden kapal ikan milik China berlayar di perairan Natuna tidak akan terulang.

Selain itu, Marsekal Hadi juga harus mengatasi "tantangan millenial" berupa ancaman perang proksi atau proxy war. Pendahulunya, Jenderal Gatot, selalu mengkampanyekan kewaspadaan ini. Bahwa ancaman riil yang dihadapi Indonesia adalah perang proksi atau perang terselubung yang kian kompleks. Seluruh elemen bangsa harus betul-betul bersatu dalam menghadapi kondisi tersebut.

Bagaimanapun juga, hari ini tongkat komando TNI sudah beralih tangan. Meski diwarnai lompatan angkatan yang abnormal, namun sikap legowo para senior TNI, seperti ditunjukkkan oleh Jenderal Gatot, sangat diharapkan demi keberhasilan tugas Panglima TNI yang baru.

Keberhasilan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto melaksanakan tugasnya tentu juga menjadi keberhasilan TNI dan bangsa Indonesia menghadapi tantangan era millenial ini. Semoga tantangan khas millenial bisa diatasi dengan paripurna oleh Panglima TNI "generasi millennial" ini. [ald]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya