Berita

PLN/net

Bisnis

PLN-ESDM Memaksa Rakyat Membeli Kelebihan Daya Listrik PLN

JUMAT, 24 NOVEMBER 2017 | 13:41 WIB | OLEH: ABDULRACHIM K

PENGUMUMAN Menteri ESDM Iganasius Jonan mengenai penyederhanaan golongan tarif listrik PLN hanya menjadi golongan 4400 VA dan 13200 VA mengundang banyak pertanyaan.

Tentu masyarakat berpikir bahwa tagihan listriknya akan naik drastis. Walaupun dalam penjelasan berikutnya diterangkan bahwa biaya kenaikan daya dari misalnya sebelumnya 1300 VA atau 2200 VA menjadi 4400 VA digratiskan dan tarif listriknya tetap sama yaitu Rp 1467/KWh, namun masih belum dijelaskan soal biaya abonemen dan sebagainya. Apakah dinaikkan atau tidak? Atau dengan singkat katanya, walaupun daya listriknya yang tadinya 1300 VA atau 2200 VA terus menjadi 4400 VA bila pemakaiannya sama dengan sebelumnya apakah tagihan listriknya sama dengan sebelumnya?

Kalaupun jawabannya tagihan listriknya masih tetap sama dengan sebelumnya maka masih menyisakan pertanyaan besar bagi masyarakat yaitu buat spa PLN-ESDM melakukan kebijakan ini?  


Maka jawabannya adalah karena PLN-ESDM mau memaksa masyarakat untuk membeli kelebihan daya listrik PLN. Tidak mungkin PLN menggratiskan biaya kenaikan daya listrik misalnya dari 1300 VA atau 2200 VA ke 4400 VA atau yang diatas itu menjadi 13200 VA ditambah menggratiskan biaya2 penggantian Mini Circuit Breaker (alat pembatas arus listrik) yang untuk puluhan juta pelanggan rumah tangga bisa bernilai trilyunan itu tanpa maksud menarik keuntungan dari masyarakat.

Walaupun awalnya masyarakat ditagih biaya listrik yang sama dengan semula, tetapi PLN akan dengan secara halus memaksa masyarakat agar lebih boros listrik. Misalnya masyarakat yang tadinya menggunakan kompor gas yang lebih murah akan beralih ke kompor listrik yang jelas lebih mahal biaya listriknya. Masyarakat yang tadinya menggunakan 1 AC dalam rumahnya bisa jadi menambahnya menjadi 4 atau 5 AC karena daya listriknya mampu atau tidak mengakibatkan MiniCircuit Breakernya jatuh.

Jadi dalam jangka tidak terlalu lama konsumsi listriknya akan naik dan konsumsi nasional akan naik sehingga akan menyerap banysk sekali kelebihan daya lstrik PLN.

Kebijakan PLN-ESDM seperti ini yang belum pernah terjadi sebelumnya menunjukkan bahwa dibalik kebijakan ini PLN sedang panik memiliki kelebihan daya listrik atau over supply yang tidak bisa terjual ke konsumen dan akhirnya memaksa konsumen Rumah Tangga untuk menyerapnya dan membayarnya.

Dan ini tidak ada hubungannya dengan program 35.000 MW yang mengakunya direncanakan untuk pertumbuhan ekonomi 7% kemudian ternyata pertumbuhan ekonominya hanya 5%.

Karena dari yang direncanakan 35.000 MW selesai 2019 yang pernah dikepret oleh DR Rizal Ramli Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid dan Menko Maritim 2015-2016 karena akan over supply dan merugikan PLN karena ada perjanjian "take or pay" (bila PLN tidak mampu menyerap daya listrik pembangkit swasta PLN harus tetap membeli listrik tersebut), saat ini menurut keterangan salah satu Direktur PLN dalam wawancaranya disebuah stasiunTV berita beberapa minggu yang lalu Program listrik 35.000 MW baru bisa dilaksanakan konstruksinya sebesar 15.000 MW.

Karena konstruksi pembangkit listrik setelah tanahnya siap itu membutuhkan waktu 3-4 tahun, maka pada 2019 dari target 35.000 MW pembangkit listrik baru yang bisa nyala (Commercial Operation Date/COD) maksimal hanya 10.000-13.000 MW. Jauh lebih rendah dari target 35.000 MW.

Jadi ini bukan masalah pertumbuhan ekonominya hanya 5% , tetapi memang salah hitung dari awal. Karena itu DR Rizal Ramli mengepret program 35.000 MW dan dibantah oleh Wapres Jusuf Kalla tetapi akhirnya sekarang terbukti DR Rizal Ramli yang benar.

Masalahnya sekarang PLN-ESDM panik karena ada kelebihan daya listrik yang besar dan tidak terserap oleh konsumen terutama dunia industri. Karena itu dengan akal2an menyederhanakan golongan tarip listrik rumah tangga dengan hanya 4400 VA dan 13200 VA. PLN - ESDM memaksa rumah tangga agar lama kelamaan menjadi boros listrik dan menyerap kelebihan daya listrik dan membayarnya.

PLN -ESDM yang seharusnya menjadi pelayan publik sekarang bahkan terbalik menjadi mengorbankan masyarakat. Rumah tangga masyarakat yang sekarang disuruh membayar kesalahan2 hitung dan manajemen PLN-ESDM sementara mereka tetap menikmati fasilitas2 negara yang sangat berlebihan. [***]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya