Berita

Edi Hasibuan/Net

Hukum

Untuk Kasus Novel, Lemkapi Saran Polisi Buka Sayembara

SENIN, 06 NOVEMBER 2017 | 17:52 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Pelaku penyerangan dengan air keras terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan tidak kunjung terungkap. Bahkan proses penyelidikan kasus tersebut sudah lebih dari 200 hari sejak insiden pada 11 April 2017 lalu.

Lembaga Kajian Kepolisian (Lemkapi) Edi Hasibuan menyarankan sebaiknya pihak Kepolisian membuat sayembara terbuka untuk mencari pelaku.

Setidaknya langkah tersebut untuk menjawab keraguan masyarakat dengan kinerja penyidik polri.


Menurut Edi dengan adanya sayembara masyarakat bisa antusias dalam mencari siapa pelaku dan tentunya hal ini dapat membantu kerja aparat. Apalagi biaya operasional yang dikeluarkan polisi sudah cukup besar.

"Paling tidak masyarakat bisa membantu, semacam sayembara, masyarakat yang bisa menemukan pelakunya. Bayangin ke singapur saja udah berapa kali bolak balik, berapa orang, Belum panggil ahlinya Biaya sudah besar kalau menurut saya sudah miliaran," kata Edi saat ditemui di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (6/11).

Lebih lanjut Edi menilai cara kerja pelaku sangat profesional dan rapih. Hal tersebut membuat polisi minim mendapatkan alat bukti. Belakangan polisi juga mengakui penuntasan kasus Novel memang menyulitkan. Terlebih untuk mengetahui siapa pelakunya.

"Walaupun ada sketsa belum tentu yang bersangkutan pelakunya. Nggak bisa, itu baru petunjuk tapi gak bisa dijadikan Barang Bukti (BB)," terang Edi. [nes]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya