Berita

Carles Puigdemont/Net

Global

Eks Presiden Catalunya Tak Akan Bersaksi Di Spanyol

KAMIS, 02 NOVEMBER 2017 | 07:56 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Catalunya yang dilengserkan Carles Puigdemont mengatakan bahwa ia akan mengabaikan perintah pengadilan Spanyol untuk kembali ke negara tersebut dan menjawab tuduhan soal dorongan kemerdekaan. Ia menambahkan bahwa ia dapat bersaksi dari Belgia.

"Panggilan tersebut adalah bagian dari proses yang tidak memiliki dasar hukum dan hanya berusaha menghukum gagasan. Ini adalah pengadilan politik," kata Puigdemont dalam sebuah pernyataan yang ditandatangani dengan nama "pemerintah yang sah di Catalonia ".

Pengadilan Tinggi Spanyol diketahui mengeluarkan surat panggilan untuk Puigdemont dan 13 orang bekas pejabat Catalunya lainnya untuk bersaksi di Madrid terkait dengan kekacauan politik pasca referendum Catalunya awal Oktober lalu.


Mereka dipanggil untuk datang pada hari ini (Kamis, 2/11) dan besok (Jumat, 3/11). Jika mereka tidak memenuhi panggilan tersebut, maka Pengadilan Tinggi Spanyol akan mengeluarkan surat perintah penangkapan kepada Puigdemont dan 13 eks petinggi Catalunya lainnya.

Puigdemont dan sejumlah eks pejabat tinggi Catalunya lainnya sendiri telah terbang ke Belgia awal pekan ini, sebelum surat panggilan dikeluarkan. Ia membantah bahwa kepergiannya ke Belgia adalah untuk melarikan diri.

Puigdemont berdalih bahwa hal itu dilakukan karena merasa ada ketidakadilan politik dari Madrid. Puigdemont juga sebelumnya telah dipecat oleh pemerintah Madrid setelah pemerintah pusat Spanyol mengambil alih otoritas di Catalunya. Pengambilalihan itu dilakukan pasca Puigdemont dan parlemen Catalunya mendeklarasikan kemerdekaan sep;pihak yang dianggap ilegal oleh pemerintah Spanyol. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya