Berita

Citra situs nuklir Korea Utara/BBC

Dunia

Kabar Runtuhnya Terowongan Di Korea Utara Belum Jelas Kebenarannya

KAMIS, 02 NOVEMBER 2017 | 06:59 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kabar soal runtuhnya tunnel atau terowongan bawah tanah yang terletak di lokasi uji coba nuklir Korea Utara yang memicu kekhawatiran dari negara tetangga dan juga dunia. Pasalnya, bila benar hal tersebut terjadi, maka dikhawatirkan akan ada kebocoran radiasi dan bencana lingkungan yang besar.

Mengutip Fox News, kejadian itu dikabarkan terjadi di lokasi nuklir Punggye-ri pada 10 September lalu dan menyebabkan sedikitnya 100 orang tewas akibat terkena runtuhan. Keruntuhan lanjutan terjadi ketika operasi penyelamatan dan memicu spekulasi bahwa jumlah korban tewas bisa mencapai 200 orang.

Kabar ini pertama kali disiarkan oleh televisi Jepang Asahi awal pekan ini dan juga kantor berita Korea Selatan Yonhap yang mengutip seorang pejabat Korea Utara anonim yang mengatakan bahwa keruntuhan terjadi selama pembangunan terowongan bawah tanah. Uji coba nuklir keenam yang dilakukan Korea Utara 3 September lalu diduga memicu terjadinya ketidakstabilan di lokasi yang berujung pada runtuhnya terowongan bawah tanah tersebut.


Mengutip Yonhap, kepala badan cuaca Korea Selatan, Badan Meteorologi Korea, Nam Jae-cheol sebelumnya pernah mengatakan dalam sebuah pertemuan parlemen bahwa ledakan nuklir lain dapat memicu keruntuhan situs uji coba di pegunungan Utara dan kebocoran bahan radioaktif.

"Berdasarkan analisis citra satelit kami, kami menilai ada ruang hampa, yang berukuran sekitar 60 sampai 100 meter, di bagian bawah Gunung Mantap di lokasi Punggye-ri," katanya.

Korea Selatan telah mendeteksi beberapa gempa kecil di dekat lokasi uji coba nuklir timur laut yang berbasis di Gunung Mantap yang Utara digunakan untuk pengujian keenam dan paling kuat.

Para ahli mengingatkan daerah itu sekarang terlalu tidak stabil untuk melakukan tes lebih lanjut. Lee Won-Jin, seorang peneliti Meteorologi Korea, mengatakan sebuah analisis terhadap foto satelit mengindikasikan adanya tanah longsor di sekitar Punggye-ri setelah uji coba September.

Namun demikian, kabar tersebut masih harus diverifikasi lebih lanjut dan dicari bukti mendalam. Mengingat tidak ada konfirmasi dari Korea Utara serta bukti valid mengenai kabar tersebut.

Juru bicara kementerian unifikasi Korea Selatan Lee Eugene mengatakan bahwa kejelasan soal kabar tersebut masih simpang-siur.

"Kami mengetahui laporan tersebut namun tidak mengetahui apapun tentang hal itu," ujarnya seperti dimuat The Sun. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya