Berita

Ilustrasi/Net

Pertahanan

Nusron Wahid: Radikalisme di Kalangan Pelajar Jadi Ancaman Ideologi

SELASA, 31 OKTOBER 2017 | 19:32 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Survei yang dilakukan Alvara Research Center dan Mata Air Foundation menunjukkan bahwa 23,4 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah.

Melihat temuan itu, tokoh NU yang juga Pembina Mata Air Foundation, Nusron Wahid menilainya sebagai warning dan alarm bahwa ancaman terhadap ideologi bangsa sudah masuk ke sekolah dan kampus-kampus.

"Saya sebetulnya speechless, karena satu orang saja melakukan bom bunuh diri atas nama pejihad di Indonesia sudah menyusahkan banyak orang. Apalagi di level mahasiswa dan pelajar mencapai angka 23%,” kata Nusron yang juga menjadi pembicara dalam rilis hasil survei Alvara, di Jakarta, Selasa (31/10).


Hadir juga sebagai pembicara dalam acara itu Ketua Ikatan Alumni Universitas Diponegoro Ahmad Muqowam, dan Direktur Kemahasiswaan Kemenristek Dikti, Didin Wahidin, serta CEO Alvara Hasanuddin Ali.

Menurut Nusron, dalam kondisi ini bisa kita simpulkan bangsa Indonesia sedang mengalami SOS ideologi. Sekaligus menjadi PR, tentang model pembelajaran kita.

"Kurikulum pendidikan agama kita harus direvisi secara total,” ujarnya.

Mantan Ketua Umum GP Ansor ini mengungkapkan, kenapa agama selama ini didekati secara doktriner, ternyata tidak mampu menjawab masalah. Terbukti pelajar dan mahasiswa masih mempunyai pemahaman-pemahaman yang belum bisa memahami konsepsi negara secara utuh. Nusron menegaskan, perlu  adanya review konsepsi relasi antara agama dan negara itu masuk atau tidak dalam kurikulum yang ada.

"Karena kalau kita bongkar secara antropologi dan ideologi agama, kita lihat secara pemikiran baik dalam Quran dan Sunnah secara ideologinya, kalau kita tidak punya pemikiran yang transformatif, memang di situ banyak sekali pemahaman ayat-ayat Al Quran maupun Hadits yang kalau dimaknai secara harfiah, bisa bermakna bahwa Islam itu menganjurkan tindakan kekerasan untuk mencapai terbentuknya negara atau memperjuangkan syariatnya,” jelasnya.

"Padahal maksudnya tidak begitu. Ini menjadi refleksi total terhadap kurikulum agama yang ada. Ini PR teman-teman dii Kemenag, juga PR bangsa Indonesia. Karena teks itu ada ruang dan waktu dan berbeda. Karena itu kalau di dalam Al Quran ada asbabul nuzzul kalau dalam hadits ada asbabul wurud. Tetapi kontekstualisasi kita melihat asbabaul nuzzul suatu ayat itu atau asbabul wurud suatu hadits itu disampaikan, tidak pas dalam penerapannya. Teksnya tidak salah tapi pemahamannya tidak pas,” sambungnya.

Kemudian, lanjut Nusron, yang juga perlu dilihat lebih jauh adalah bahwa hampir 20 persen orang yang memahami kultur-kultur tradisi islam di Indonesia, seperti ziarah kubur, maulid dan sebagainya, jadi bidáh.

"Biasanya orang yang suka membidáhkan orang lain itu suka mengkafirkan orang. Apakah responden yang berpendapat negara Islam harus ditegakkan di Indonesia yang 23 koma sekian persen tadi, khilafah yang perlu ditegakkan yang 16 koma sekian persen tadi, kemudian yg perlu jihad juga identik yang bidah tadi apa tidak memang perlu dibuktikan,” kata dia.

 Nusron melihat, yang punya pemahaman jihad, yang punya pemahaman khilafah dan sebagainya apakah orang yang penganut bidah atau anti bidah.

"Dugaan saya, mayoritas yang punya pemahaman jihad, penegakan ideologi Islam, pasti didominasi responden yang mempunyai pemahaman bahwa amalan kultural itu bidah,” tandasnya. [sam]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya