Berita

Susi Pudjiastuti/RM

Politik

Baper Dan Pendendam, Susi Pudjiastuti Tidak Bisa Jadi Pemimpin

7 Bulan Masih Dendam
SELASA, 31 OKTOBER 2017 | 14:28 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, Senin kemarin (30/10), "mengungkit" kritikan Anggota Komnas HAM Natalius Pigai terkait penenggelaman kapal.

Natalius menyebut semua orang juga bisa melakukan penenggelaman kapal, termasuk orang bodoh. Omongan itu disampaikan Natalius pada akhir April 2017 lalu.

Kemarin, Menteri Susi mengaku tidak masalah disebut bodoh oleh pihak-pihak yang tidak setuju dengan penenggelaman kapal. Dia justru balik menyindir pihak-pihak yang menyebut penenggelaman kapal sebagai tindakan bodoh. Sebab berpuluh puluh tahun laut Indonesia dijarah, orang-orang tersebut hanya diam saja.


Menurut Susi, sikap diam puluhan tahun terhadap pelaku illegal fishing justru seperti kegilaan yang dibiarkan. Untuk mengakhiri kegilaan itu tutur dia, maka diperlukan tindakan gila lainnya yaitu dengan penenggelaman kapal.

Menanggapi pernyataan Susi tersebut, Natalius menyebut menteri Joko Widodo yang satu ini tidak memiliki kapasitas yang memadai sebagai pemimpin. Karena seorang pemimpin itu tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga harus memiliki mentalitas yang baik. Tidak baper (bawa perasaan) dan tidak pendendam.

"Menteri ini dendam terus selama 7 bulan atas kritikan saya," sebut Natalius kepada redaksi, Selasa (31/10).

Natalius mengulas omongannya pada April lalu. Pada waktu itu, dia menyatakan bahwa meskipun 2/3 wilayah Indonesia sektor laut dan kita negara maritim, tetapi bekerjanya tenggelamkan kapal, maka hasilnya akan sia-sia.

Buktinya, sektor maritim kontribusinya paling kecil di republik ini, yakni hanya menyumbang Rp 900-an miliar dari Rp 2.000 triliun dalam APBN.

"Rp 1 triliun saja tidak sampai karena tata niaga sektor laut diabaikan. Saya juga kritik kepada menteri atas hilangnya mata pencaharian ribuan nelayan kecil di Jawa Tengah tahun ini," ungkap Natalius.

Menurutnya, kalau menteri pendendam seperti ini, tidak tepat jadi pejabat publik.

"Saya setiap hari saya dibully bahkan kata-kata kasar dan rasis juga ancaman kekerasan fisik secara serius oleh orang-orang Jokowi, tetapi anggap biasa dan bahkan saya abaikan sebagai konsekuensi dari pilihan saya, membela orang-orang kecil, miskin, kaum papa dan para pencari keadilan yang meminta pertolongan kepada saya di negeri ini," demikian Natalius. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya